X Tindak Tegas Kreator yang Unggah Video Perang Buatan AI Tanpa Label

- X menerapkan sanksi tegas bagi kreator yang mengunggah video konflik bersenjata hasil AI tanpa label, berupa penangguhan dari Program Bagi Hasil Pendapatan selama 90 hari.
- Pelanggaran berulang dapat berujung pada larangan permanen, sementara X memanfaatkan teknologi deteksi AI dan fitur Community Notes untuk menemukan serta menandai konten menyesatkan.
- Kebijakan ini muncul di tengah kritik terhadap program monetisasi X yang dinilai mendorong konten sensasional dan belum sepenuhnya menyelesaikan masalah disinformasi berbasis AI.
Platform media sosial X (sebelumnya Twitter) menyatakan akan mengambil tindakan tegas terhadap kreator yang mengunggah video konflik bersenjata hasil kecerdasan buatan (AI) tanpa menyertakan label bahwa konten tersebut dibuat menggunakan AI. Kebijakan ini diterapkan untuk menekan penyebaran informasi menyesatkan yang berpotensi muncul dari teknologi generatif.
Pengumuman tersebut disampaikan pada Selasa (3/3/2026) oleh kepala produk X, Nikita Bier. Ia mengatakan bahwa pengguna yang membuat dan mengunggah video perang berbasis AI tanpa pengungkapan yang jelas akan dikenai sanksi berupa penangguhan dari Program Bagi Hasil Pendapatan Kreator selama tiga bulan atau 90 hari. Dalam pernyataannya, Bier menegaskan bahwa transparansi sangat penting, terutama ketika konten yang beredar berkaitan dengan konflik bersenjata yang sedang berlangsung.
“Di masa perang, sangat penting bagi masyarakat untuk memiliki akses ke informasi otentik di lapangan. Dengan teknologi AI saat ini, sangat mudah untuk membuat konten yang dapat menyesatkan orang,” tulis Bier melalui unggahannya di X. Ia menambahkan bahwa mulai sekarang pengguna yang mengunggah video konflik bersenjata hasil AI tanpa mencantumkan label atau pengungkapan yang jelas akan langsung dikenai penangguhan dari program monetisasi kreator selama 90 hari.
1. Penangguhan bisa menjadi permanen

X menyatakan bahwa sanksi terhadap kreator dapat ditingkatkan jika pelanggaran terus terjadi. Apabila kreator tetap mengunggah video perang berbasis kecerdasan buatan (AI) tanpa label setelah masa penangguhan berakhir, akun tersebut dapat dikenai larangan permanen dari Program Bagi Hasil Pendapatan Kreator. Program monetisasi ini merupakan salah satu fitur yang ditawarkan X untuk mendorong kreator menghasilkan konten di platform-nya.
Melalui program tersebut, kreator dapat memperoleh pendapatan dari pembagian iklan yang muncul pada unggahan mereka, terutama jika konten tersebut mendapatkan interaksi tinggi dari pengguna. Namun, kebijakan baru ini menunjukkan bahwa perusahaan ingin membatasi potensi penyalahgunaan teknologi AI yang dapat menyesatkan publik, khususnya dalam konteks informasi sensitif seperti konflik bersenjata.
2. Mengandalkan teknologi dan Community Notes

Untuk menegakkan aturan tersebut, X menyatakan akan mendeteksi unggahan yang melanggar melalui beberapa metode. Salah satunya dengan menggunakan alat pendeteksi konten AI generatif untuk membantu mengenali gambar maupun video yang dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan.
Selain itu, perusahaan juga akan memanfaatkan sistem pengecekan fakta berbasis komunitas miliknya, yakni Community Notes. Fitur ini memungkinkan pengguna menambahkan catatan atau konteks pada unggahan yang dianggap menyesatkan. Melalui kombinasi teknologi deteksi dan kontribusi komunitas, X berharap dapat lebih cepat menemukan serta menandai video AI yang berpotensi menimbulkan misinformasi.
3. Kritik terhadap program monetisasi kreator

Meski begitu, kebijakan ini muncul di tengah kritik terhadap Program Bagi Hasil Pendapatan Kreator yang dijalankan X. Sejumlah pengamat menilai program tersebut secara tidak langsung mendorong kreator memproduksi konten sensasional untuk meningkatkan interaksi. Akibatnya, sebagian kreator dinilai lebih memilih membuat konten provokatif, clickbait, atau informasi yang belum tentu akurat demi memperbesar peluang memperoleh pendapatan dari platform.
Selain itu, program monetisasi ini juga menuai kritik karena mengharuskan kreator menjadi pelanggan layanan berbayar X untuk dapat berpartisipasi. Persyaratan tersebut dinilai dapat membatasi partisipasi kreator sekaligus menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas pengawasan konten di platform tersebut.
4. Dinilai belum menyelesaikan masalah disinformasi AI

Terlepas dari langkah baru tersebut, sebagian pihak menilai kebijakan X masih memiliki keterbatasan dalam mengatasi penyebaran disinformasi yang dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI). Teknologi AI generatif saat ini memungkinkan siapa saja membuat gambar, audio, maupun video yang tampak realistis dalam waktu singkat. Kondisi ini membuat konten manipulatif semakin mudah diproduksi dan disebarkan secara luas melalui media sosial.
Kebijakan terbaru X hanya menargetkan video konflik bersenjata yang dihasilkan AI tanpa label. Sementara itu, penggunaan AI untuk membuat konten menyesatkan di bidang lain, seperti disinformasi politik atau promosi produk yang menipu dalam ekosistem influencer, belum sepenuhnya tercakup dalam aturan tersebut.
Kebijakan baru X ini menunjukkan upaya platform membatasi penyalahgunaan teknologi AI. Ke depan, efektivitas aturan ini dalam menekan penyebaran video AI yang menyesatkan masih perlu dilihat.



















