Ekonom: Larisnya Panda Bond Lebih Dipicu Likuiditas China

Jakarta, IDN Times - Tingginya animo investor terhadap penerbitan Panda Bond perdana Indonesia dinilai tidak semata-mata mencerminkan meningkatnya kepercayaan terhadap fundamental ekonomi nasional.
Minat investor terhadap penerbitan perdana Panda Bond Indonesia tinggi karena total permintaan mencapai 17 miliar CNY atau sekitar 2,4 kali dari nilai obligasi yang diterbitkan sebesar 7 miliar CNY.
1. Likuditias di China melimpah

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan, kondisi likuiditas di pasar China yang sedang melimpah menjadi faktor utama yang mendorong tingginya permintaan obligasi berdenominasi yuan tersebut.
Menurut dia, indikasi tersebut terlihat dari besarnya minat investor pada tenor lima tahun. Apabila investor khawatir terhadap risiko Indonesia, mereka cenderung memilih obligasi berjangka pendek untuk meminimalkan eksposur.
"Kalau faktor utamanya adalah kekhawatiran terhadap risiko Indonesia, investor biasanya akan lebih memilih tenor pendek karena memiliki eksposur risiko yang lebih rendah. Namun, permintaan yang lebih besar pada tenor panjang menunjukkan sebagian investor sedang memburu imbal hasil dan durasi, terutama karena pasar memperkirakan suku bunga masih memiliki ruang untuk turun," ujar dia saat dihubungi, Sabtu (25/7/2026).
2. Faktor likuiditas pasar China memiliki peran lebih besar dibandingkan perubahan persepsi terhadap fundamental RI

Dia menjelaskan, pasar keuangan China saat ini berada dalam kondisi likuiditas yang longgar. Rendahnya permintaan kredit membuat investor mencari instrumen investasi dengan kualitas yang baik dan menawarkan imbal hasil lebih tinggi.
"Dalam situasi seperti ini, obligasi negara dengan fundamental yang cukup baik akan lebih mudah menarik permintaan. Jadi, faktor likuiditas pasar China memiliki peran lebih besar dibandingkan perubahan persepsi terhadap fundamental Indonesia," kata dia.
3. Suksesnya penerbitan Panda Bond belum jadi bukti fiskal Indonesia sangat kuat

Meski demikian, dia mengingatkan agar keberhasilan penerbitan Panda Bond tidak langsung diartikan sebagai bukti bahwa pengelolaan fiskal Indonesia sudah sangat kuat.
Menurut dia, peringkat AAA yang diperoleh Indonesia dalam penerbitan tersebut merupakan peringkat dalam skala domestik China sehingga tidak dapat disejajarkan dengan peringkat kredit internasional.
"Fundamental fiskal Indonesia memang relatif terjaga, dengan rasio utang yang masih terkendali dan pertumbuhan ekonomi yang stabil. Namun, keberhasilan satu penerbitan obligasi di pasar yang sedang memiliki likuiditas tinggi tidak cukup menjadi bukti bahwa seluruh arah kebijakan fiskal sudah sempurna," kata dia.

















