Survei: 16,2 Persen Perusahaan Jepang Alami Kebocoran Data

Survei Teikoku Databank mencatat 16,2 persen perusahaan Jepang mengalami atau diduga mengalami kebocoran data, termasuk 5,5 persen yang melaporkan insiden dalam setahun terakhir.
Perusahaan besar lebih terdampak dengan angka 30,2 persen, dibandingkan 14,3 persen pada usaha kecil dan menengah; 14,8 persen responden bahkan tidak mengetahui status insidennya.
Kebocoran dipicu serangan siber dan kesalahan manusia seperti salah kirim email, sementara perusahaan kecil menghadapi keterbatasan anggaran, tenaga kerja, serta kebutuhan dukungan keamanan siber.
Jakarta, IDN Times - Sebanyak 16,2 persen perusahaan di Jepang mengalami kebocoran data atau dugaan kebocoran akibat serangan siber maupun kesalahan manusia. Temuan survei perusahaan riset Teikoku Databank yang dirilis pada Senin (19/10/2026) itu, mencakup insiden yang belum terkonfirmasi.
1. Perusahaan besar lebih banyak mengalami kebocoran data

Tokyo, Jepang (unsplash.com/Denys Nevozhai) Sebanyak 30,2 persen perusahaan besar di Jepang pernah mengalami atau diduga mengalami kebocoran data. Angka tersebut lebih tinggi daripada kalangan perusahaan kecil dan menengah yang tercatat sebesar 14,3 persen dalam survei Teikoku Databank.
Survei daring tersebut berlangsung selama rentang 4—14 Oktober 2026 dan mengumpulkan 1.328 jawaban valid dari perusahaan di Jepang. Secara keseluruhan, 16,2 persen responden pernah mengalami kebocoran data atau dugaan kebocoran, sedangkan 5,5 persen melaporkan insiden serupa dalam setahun terakhir.
2. Kesalahan manusia turut menyebabkan kebocoran data

ilustrasi aplikasi email (pexels.com/Solen Feyissa) Sejumlah perusahaan melaporkan kebocoran data akibat kesalahan manusia, termasuk mengirim email ke penerima yang salah. Dalam salah satu kasus, sebuah perusahaan mengirimkan informasi setelah menerima email yang dikira berasal dari perwakilan perusahaan lain.
"Kami menerima email dengan mengira pengirimnya adalah seseorang yang mewakili perusahaan lain. Lantaran menganggapnya mendesak, kami mengirimkan informasi tanpa melakukan konfirmasi melalui telepon," tutur perusahaan tersebut, dilansir Kyodo News.
Survei itu juga menemukan 14,8 persen perusahaan responden tidak mengetahui apakah mereka pernah mengalami kebocoran data. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sebagian perusahaan belum punya pemahaman yang jelas mengenai kemungkinan insiden yang mereka alami.
3. Perusahaan kecil kesulitan memperkuat keamanan siber

ilustrasi meretas (unsplash.com/Julio Lopez) Banyak perusahaan kecil dan menengah di Jepang masih menghadapi keterbatasan anggaran dan tenaga kerja untuk menerapkan langkah pencegahan kebocoran data.
Dilansir The Japan Times, seorang perwakilan dari perusahaan kecil yang diminta klien besarnya meningkatkan keamanan siber berujar, "Kami menginginkan dukungan finansial dan sumber daya manusia serta bimbingan."






















