ilustrasi jalan kaki (magnific.com/magnific)
Respons nafsu makan setelah jalan kaki bisa berbeda-beda pada setiap orang. Ada yang merasa lebih kenyang dan tidak terlalu ingin ngemil, tetapi ada juga yang justru lebih lapar. Beberapa faktor berikut bisa memengaruhinya.
Jalan kaki bisa membantu mengurangi keinginan ngemil yang muncul karena bosan atau stres. Bagi orang yang terbiasa melakukan emotional eating, berjalan kaki dapat menjadi aktivitas untuk mengalihkan diri sehingga keinginan makan terasa lebih terkendali.
Menurut Edmundo Rodriguez-Frias, MD, jalan kaki dengan intensitas sedang secara rutin dapat menekan produksi hormon ghrelin untuk sementara setelah berolahraga. Hormon ini berperan dalam memunculkan rasa lapar sehingga kamu mungkin merasa tidak terlalu lapar sesaat setelah jalan kaki.
Jalan kaki santai selama sekitar 10–30 menit biasanya tidak membuat kebutuhan kalori meningkat secara signifikan. Sebaliknya, jalan kaki yang lebih lama atau intens, seperti hiking, membakar lebih banyak energi sehingga tubuh mungkin merespons dengan rasa lapar yang lebih besar setelahnya.
Tingkat kebugaran, kualitas tidur, hidrasi, dan pola makan juga dapat memengaruhi rasa lapar setelah berjalan kaki. Misalnya, jalan kaki setelah kurang tidur atau belum cukup makan bisa membuatmu merasa lebih lapar dibandingkan saat tubuh cukup istirahat dan mendapat asupan yang cukup.
Makan sebelum jalan kaki juga dapat memengaruhi rasa lapar setelahnya. Jika kamu baru saja makan, rasa lapar setelah berjalan mungkin tidak terlalu terasa karena tubuh masih memiliki energi dari makanan tersebut. Pilihan makan sebelum atau setelah jalan kaki pada dasarnya bisa disesuaikan dengan kenyamanan dan kebutuhan masing-masing.