Melihat ibu hamil berlari, mengangkat beban, atau mengikuti kelas latihan intensitas tinggi masih bisa menimbulkan kekhawatiran. Anggapan bahwa kehamilan mengharuskan perempuan membatasi aktivitas fisik membuat olahraga semacam ini kerap dipertanyakan keamanannya.
Menurut dr. Satrya, berat atau ringannya olahraga tidak bisa dinilai sama untuk semua orang. Kebiasaan berolahraga dan kondisi tubuh masing-masing ibu turut menentukan aktivitas yang dapat dilakukan selama kehamilan.
"Olahraga atau aktivitas fisik selama kehamilan pada dasarnya tidak terbukti menyebabkan komplikasi, seperti persalinan prematur atau pecah ketuban, selama dilakukan dengan tepat," ujarnya kepada IDN Times.
Karena itu, perempuan yang sudah rutin berolahraga sebelum hamil memiliki pertimbangan berbeda dari mereka yang baru akan memulainya. Bagi ibu yang telah terbiasa, aktivitas tersebut umumnya dapat dilanjutkan dengan penyesuaian berdasarkan kondisi kehamilan.
“Kalau terbiasa olahraga dari sebelum hamil, boleh dilanjutkan. Konsultasi, sih, wajib, supaya tahu kondisi kehamilannya ada yang perlu perhatian khusus atau tidak,” kata dr. Satrya.
Sementara itu, ibu yang sebelumnya jarang berolahraga tetap dapat mulai aktif, selama tidak ada kondisi medis yang membatasinya. Aktivitas dapat dimulai secara bertahap sesuai kemampuan dan arahan dokter.
Untuk ibu dengan kehamilan sehat, anjuran umumnya adalah sedikitnya 150 menit aktivitas aerobik intensitas sedang per minggu, misalnya jalan cepat. Durasi ini dapat dibagi ke dalam sesi-sesi pendek sepanjang minggu. Pilihan aktivitas dan intensitasnya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing ibu.