20 Mei 1998: Deretan Peristiwa yang Terjadi Sehari Sebelum Reformasi

- Amien Rais membatalkan aksi massa di Monas pada 20 Mei 1998 setelah mendapat permintaan dari ABRI demi mencegah bentrokan dan menjaga transisi kekuasaan tetap damai.
- Ribuan mahasiswa menduduki gedung DPR/MPR, membawa spanduk tuntutan reformasi, serta mendapat dukungan dari berbagai tokoh politik dan akademisi sebagai simbol perlawanan terhadap rezim Soeharto.
- Sebanyak 14 menteri Kabinet Pembangunan VII menolak bergabung dalam Kabinet Reformasi yang direncanakan Soeharto, memperkuat tekanan politik menjelang lengsernya sang presiden.
Jakarta, IDN Times - Tanggal 20 Mei 1998 menjadi salah satu momen yang paling bersejarah dalam sejarah Indonesia. Sebab sehari setelahnya, Soeharto yang telah menjabat selama 32 tahun resmi lengser dan mengakhiri masa Orde Baru sekaligus membuka era Reformasi.
Saat itu, pada 20 Mei 1998, terdapat sejumlah peristiwa penting yang menjadi titik puncak tekanan terhadap pemerintahan Soeharto. Berikut deretan peristiwa yang terjadi sehari sebelum reformasi.
1. Pembatalan aksi massa di Monas

Amien Rais, kala itu sempat merencanakan aksi massa dan syukuran di Monas sekaligus untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional yang juga diperingati setiap tanggal 20 Mei.
Namun, akhirnya aksi itu dibatalkan karena pada malam sebelumnya, Amien menerima telepon dari Markas Besar ABRI di Cilangkap. Ia diminta untuk membatalkan aksi karena aparat keamanan tengah bersiaga menjaga Istana dan khawatir kegiatan tersebut berubah menjadi people power yang berujung pada bentrokan.
“Saya dapat telepon dari Cilangkap (Markas Besar ABRI), saya namanya lupa, dia minta saya membatalkan (syukuran) itu, karena mereka harus tugas menjaga Istana. Soalnya, kata mereka, kalau berubah jadi kegiatan people power mungkin akan dibubarkan oleh mereka dengan risiko apapun,” ungkap Amien dari wawancara bersama IDN Times yang dirilis pada 20 Mei 2019.
Melalui siaran di RRI dan televisi pada dini hari 20 Mei 1998, Amien Rais menyampaikan bahwa aksi di Monas dibatalkan dan massa diarahkan ke Senayan. Ia menegaskan keputusan itu diambil agar proses transisi kekuasaan dapat berlangsung tanpa pertumpahan darah.
2. Pendudukan gedung DPR/MPR semakin masif

Ribuan mahasiswa bergerak memenuhi Kompleks DPR/MPR di Senayan. Massa dari berbagai universitas menduduki gedung DPR/MPR untuk menuntut lengsernya Presiden Soeharto.
Saat itu, mahasiswa membentangkan spanduk tuntutan reformasi, melakukan orasi, hingga naik ke kubah gedung DPR/MPR sebagai simbol perlawanan.
Selain itu, terdapat beberapa tokoh yang datang ke gedung DPR/MPR pada tanggal 20 Mei ini, di antaranya ada Emil Salim, Deliar Noer, Adnan Buyung Nasution, Amien Rais, Gunawan Mohamad, dan Albert Hasibuan.
“Orang-orang yang datang, tokoh politik, tokoh akademisi itu mendukung gerakan kita dan makanya memang biasanya nanti Amien Rais ‘hidup mahasiswa’, ‘hidup rakyat’, itu sebenarnya sebagai sebuah dukungan kepada gerakan mahasiswa,” ujar saksi reformasi 1998, John Muhammad saat diwawancarai di akun YouTube resmi DPR RI yang ditayangkan pada 29 Mei 2023.
3. Mundurnya 14 menteri Kabinet Pembangunan VII

Tekanan politik terhadap Soeharto semakin memuncak pada malam 20 Mei 1998 setelah 14 menteri Kabinet Pembangunan VII menolak bergabung dalam Kabinet Reformasi yang hendak dibentuk Soeharto.
Penolakan tersebut disampaikan melalui surat yang ditandatangani para menteri di bawah koordinasi Ginandjar Kartasasmita.
“Oleh karena itu dengan segala kerendahan hati kami secara pribadi-pribadi menyatakan tidak bersedia diikutsertakan dalam susunan kabinet baru tersebut,” bunyi pernyataan dalam surat para menteri tersebut.
Keputusan itu membuat Soeharto terkejut karena sejumlah menteri yang menolak dikenal sebagai tokoh penting yang ia andalkan. Bahkan, sehari sebelumnya dia masih membahas rencana kabinet baru dengan menteri senior, termasuk siapa yang bakal masuk.



















