Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

500 Korban Banjir di Meunasah Raya Aceh Sambut Ramadan di Pengungsian

-
Kondisi Sekolah Rakyat Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, setelah dihantam hujan dan angin kencang pada Senin (16/2/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo)
Intinya sih...
  • Warga korban banjir bandang di Aceh bertahan di tenda menanti hunian sementara
  • Dapur umum berhenti, warga masak secara mandiri jelang Ramadan
  • Tradisi Meugang tetap dilaksanakan, dengan bantuan hewan ternak dari pemerintah
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Menjelang bulan suci Ramadan, sekitar 500 jiwa warga Desa Meunasah Raya, Kecamatan Muara Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, masih bertahan di tenda-tenda darurat bantuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Hampir tiga bulan pascabencana hidrometeorologi melanda pada 25 Oktober 2025, para penyintas banjir bandang yang terdiri atas orang dewasa, anak-anak, hingga lanjut usia, belum semua memiliki hunian yang layak.

Kawasan pengungsian hingga kini masih dipenuhi genangan lumpur, terutama saat hujan turun. Sejumlah rumah dan akses jalan desa juga belum sepenuhnya bersih dari timbunan material banjir. Meski demikian, aktivitas warga tetap berjalan di tengah keterbatasan.

1. Warga bertahan di tenda menanti hunian sementara

500 Korban Banjir di Meunasah Raya Aceh Sambut Ramadan di Pengungsian
Warga dan anak-anak terdampak bencana hidrometeorologi beraktivitas di huntara Kampung Serempah, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh, Sabtu (14/02/2026). (dok. BNPB)

Sebagian besar warga memilih tetap tinggal di tenda darurat karena tidak memiliki alternatif tempat tinggal. Tidak semua rumah dalam kondisi layak huni, dan tidak seluruh penyintas memiliki kerabat yang bisa ditempati sementara.

Harapan utama warga kini tertuju pada penyediaan hunian sementara (huntara) maupun hunian tetap (huntap). Namun, pembangunan huntara belum rampung sepenuhnya. Dari kebutuhan lebih dari 150 unit, yang tersedia baru sekitar 80 unit dan sebagian di antaranya belum siap ditempati. Kondisi ini membuat relokasi warga belum dapat dilakukan.

Di sisi lain, upaya pembersihan rumah secara mandiri juga menghadapi kendala. Sejumlah warga bahkan telah mengeluarkan biaya pribadi untuk membersihkan lumpur dari rumah mereka. Namun, saat hujan turun dan sungai kembali meluap, lumpur kembali masuk ke permukiman sehingga proses pemulihan menjadi berulang.

2. Dapur umum berhenti, warga masak secara mandiri jelang Ramadan

500 Korban Banjir di Meunasah Raya Aceh Sambut Ramadan di Pengungsian
Ilustrasi dapur umum. (IDNTimes/Ungke Pepotoh/bt)

Kondisi pengungsian semakin menantang setelah dapur umum berhenti beroperasi akibat keterbatasan tenaga relawan. Selama ini, dapur darurat dijalankan secara sukarela tanpa tenaga tetap.

Sebagai solusi, sejak sepekan terakhir, distribusi bantuan dialihkan dalam bentuk kompor gas dan bahan pokok yang bersumber dari dana donasi. Kebijakan ini diambil agar warga dapat menyiapkan makanan secara mandiri, terutama selama Ramadan.

Langkah tersebut juga mempertimbangkan kondisi penghuni pengungsian yang beragam. Tidak semua warga menjalankan puasa, seperti anak-anak dan lansia. Dengan memasak sendiri, kebutuhan konsumsi dapat disesuaikan tanpa bergantung pada jam operasional dapur umum.

Untuk kebutuhan pangan, bantuan dari berbagai donatur masih terus berdatangan dan disalurkan langsung kepada warga. Persediaan bahan pokok dinilai relatif mencukupi, meski kebutuhan peralatan memasak tetap menjadi perhatian.

3. Tradisi Meugang tetap dilaksanakan

500 Korban Banjir di Meunasah Raya Aceh Sambut Ramadan di Pengungsian
Tradisi Meugang (instagram.com/linkaja)

Di tengah situasi sulit, tradisi Meugang, tradisi masyarakat Aceh menyambut Ramadan dengan menyembelih dan membagikan daging tetap diupayakan terlaksana. Desa Meunasah Raya menerima bantuan satu ekor sapi dari Presiden Prabowo Subianto. Selain itu, pemerintah pusat juga menyalurkan bantuan tunai Rp50 juta yang kemudian dibelanjakan untuk tiga ekor sapi tambahan.

Bantuan tersebut diharapkan dapat menghadirkan sedikit kebahagiaan bagi warga menjelang Ramadan. Namun, suasana haru tetap menyelimuti pengungsian. Sejumlah warga mengaku tidak dapat berkumpul bersama keluarga saat Ramadan maupun Idul Fitri karena belum memiliki rumah yang layak ditempati.

Genangan lumpur yang masih menutup jalan desa serta aliran sungai yang belum sepenuhnya dibenahi turut menambah beban psikologis warga. Ramadan tahun ini menjadi momen penuh makna bagi para penyintas di Desa Meunasah Raya. Di tengah keterbatasan, kebersamaan dan harapan untuk segera kembali ke rumah tetap menjadi kekuatan utama dalam menyambut bulan suci.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Rochmanudin Wijaya
EditorRochmanudin Wijaya
Follow Us

Latest in News

See More

MKMK Sebut Tak Ada Intervensi Saat Tangani Perkara, Termasuk Hakim MK

18 Feb 2026, 16:49 WIBNews