API Tegaskan Pernyataan Jusuf Kalla Tidak Sesuai Ajaran Yesus

- Ketua Umum API, Pendeta Harsanto Adi menilai pernyataan Jusuf Kalla di Masjid UGM tidak sesuai ajaran Yesus dan berpotensi melukai umat Kristen, meski tetap membuka ruang rekonsiliasi.
- Jusuf Kalla menjelaskan ceramahnya membahas konflik sosial di Ambon dan Poso, bukan ideologi agama, serta menegaskan tidak ada ajaran agama yang membenarkan kekerasan antarumat beragama.
- DPP GAMKI bersama sejumlah ormas Kristen resmi melaporkan Jusuf Kalla ke kepolisian atas dugaan penistaan agama terkait pernyataannya yang dianggap menyakiti hati umat Kristen.
Jakarta, IDN Times - Ketua Umum Asosiasi Pendeta Indonesia (API), Pendeta Harsanto Adi angkat bicara terkait polemik video ceramah Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK) di Masjid Universitas Gadjah Mada. Ia menegaskan, isu tersebut menyentuh ranah sensitif karena berkaitan langsung dengan ajaran agama.
Dalam video di link Masjid Kampus UGM menit 9 hingga 10, Jusuf Kalla berujar, “Kenapa agama gampang menjadi alasan konflik kayak di Poso, Ambon? Karena kedua-duanya Islam dan Kristen berpendapat mati atau menewaskan orang atau mematikan itu syahid. Saat konflik berlangsung, kedua pihak berkeyakinan begitu. Kalau saya bunuh orang Islam, saya syahid. Kalau saya mati pun saya syahid. Akhirnya susah berhenti.”
1. Tidak sesuai ajaran Injil

Menurut Harsanto, penting untuk memahami terlebih dahulu definisi penistaan dalam konteks keagamaan. Difinisi penistaan adalah kurang lebih adalah tindakan penghinaan, perendahan atau pelecehan terhadap simbol, kitab suci, tokoh suci, atau kepercayaan suatu agama.
Ia menilai pernyataan yang disampaikan Jusuf Kalla tidak sesuai dengan ajaran dalam kitab suci Injil.
"Apa yang telah disampaikan Pak JK (Jusuf Kalla) adalah sesuatu yang tidak benar , tidak sesuai dengan ajaran Yesus yang tertuang dalam kitab suci Injil,” katanya saat dihubungi, Selasa (21/04/2026).
Lebih lanjut, Harsanto menekankan, ajaran Yesus tidak pernah membenarkan kekerasan terhadap pihak yang berbeda keyakinan.
"Yesus tidak pernah mengajar pengikutnya bahwa membunuh orang yang tidak seiman itu masuk surga, dan kalaupun dirinya harus mati itu berarti mati syahid," ujarnya.
Dia menjelaskan, langkah pelaporan yang dilakukan didasari oleh keprihatinan terhadap dampak yang ditimbulkan di tengah umat.
"Pelaporan itu terjadi karena kita merasa bahwa pernyataan ini tidak benar, tidak sesuai ajaran Yesus Kristus dan tentu melukai umat Kristen," katanya.
Meski demikian, ia menegaskan, pihaknya tetap membuka ruang rekonsiliasi. "Kita siap untuk memaafkan dengan catatan mengakui apa yang dikatakan tidak benar," imbuhnya.
2. JK jelaskan ceramah di Masjid UGM bukan bahas Ideologi Agama

Sebelumnya, JK memberikan klarifikasi terkait video ceramahnya di Masjid UGM yang menuai polemik. Ia menegaskan, isi ceramah tersebut tidak membahas ideologi atau dogma agama, melainkan konteks konflik sosial di Indonesia.
Hal itu disampaikan JK dalam konferensi pers yang digelar di kediamannya, kawasan Jakarta Selatan, Sabtu (18/4). JK menyinggung dinamika politik, tudingan terhadap dirinya, hingga klarifikasi soal ceramahnya di UGM.
JK menjelaskan, ceramah tersebut mengangkat konflik komunal yang pernah terjadi di Ambon dan Poso. Konflik itu melibatkan kelompok masyarakat berlatar belakang agama yang berbeda.
Ia menegaskan, ceramah yang disampaikan pun tidak membahas dogma maupun ideologi keagamaan.
“Saya tidak bicara tentang dogma agama, saya tidak bicara tentang ideologi agama, tidak,” ucap JK.
Menurutnya, konflik tersebut justru menjadi contoh bagaimana ajaran agama dilanggar oleh pihak-pihak yang terlibat.
Dalam ceramahnya, JK menyoroti cara pandang sebagian pihak yang membenarkan tindakan kekerasan dengan dalih agama. Ia menilai hal itu bertentangan dengan nilai dasar semua agama.
“Tentang kenapa mereka saling membunuh? Kenapa mereka saling membunuh? Ada enggak (ajaran) Islam dan Kristen? Tidak ada. Jadi mereka semua melanggar ajaran agama,” ujarnya.
Ia menegaskan, tidak ada ajaran agama yang membenarkan tindakan saling membunuh, baik dalam Islam maupun Kristen. JK juga menjelaskan, ceramah tersebut disampaikan saat bulan Ramadan dan khusus di hadapan jemaah muslim. Karena itu, ia menggunakan pendekatan bahasa yang sesuai dengan audiens saat itu.
“Artinya karena saya bicara di kalangan Islam, sehingga saya katakan semua pihak, jadi artinya Islam dan Kristen juga berpikir begitu,” tutur JK.
Ia kembali menegaskan, pernyataannya tidak bermaksud menggeneralisasi ajaran agama tertentu, melainkan menggambarkan realitas pemahaman sebagian kelompok dalam konflik.
JK pun mengenang momen dirinya terlibat aktif dalam perdamaian konflik di Ambon dan Poso. Ia sebagai penengah menampung aspirasi kedua pihak yang sedang berperang, di mana umat Islam merasa syahid jika meninggal karena perang. Sementara umat Kristen menganggapnya sebagai martir.
Oleh sebab itu dalam ceramahnya, JK memilih menggunakan istilah syahid. Itu mengingat pernyataannya disampaikan di lingkungan masjid.
"Dan saya tahu kenapa mereka berbuat begitu. Karena dia pikir ini perang agama. Siapa yang meninggal akan syahid untuk Islam. Kristen menamainya martir. Tapi sebenarnya saya berada di masjid dan tidak mengerti martir. Yang saya katakan ya karena hampir sama, syahid dan martir hampir sama. Cuma bedanya caranya," ucap JK.
"Kalau syahid semua sama, mati karena membela agama, Itu syahid. Martir juga begitu, membela, mati karena membela agama. Jadi hanya istilah saja. Tapi karena saya di masjid maka saya pakai kata syahid. Karena kalau saya pakai kata martir, jemaah tidak tahu," imbuh dia.
3. JK dilaporkan atas dugaan penistaan agama

Sebagaimana diketahui, Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPP GAMKI) bersama lembaga kristen dan organisasi kemasyarakatan lainnya melaporkan Jusuf Kalla ke polisi. Laporan itu terkait ceramah Jusuf Kalla di Masjid UGM yang menuai polemik.
Pelaporan tersebut khususnya mengacu pada video di link Masjid Kampus UGM, di mana Jusuf Kalla membahas soal konflik Poso dan Ambon. Termasuk kaitannya dengan ideologi agama Islam dan Nasrani.
“Kenapa agama gampang menjadi alasan konflik kayak di Poso, Ambon? Karena kedua-duanya Islam dan Kristen berpendapat mati atau menewaskan orang atau mematikan itu syahid. Saat konflik berlangsung kedua pihak berkeyakinan begitu. Kalau saya bunuh orang Islam, saya syahid. Kalau saya mati pun saya syahid. Akhirnya susah berhenti," bunyi pernyataan JK yang dimaksud.
Ketua Umum DPP GAMKI, Sahat Sinurat membacakan tiga poin penting terkait kasus tersebut. Pertama, ditegaskan bahwa agama Kristen tidak pernah mengajarkan membunuh umat muslim bisa masuk surga.
”Pertama, menyatakan bahwa agama Kristen tidak pernah mengajarkan membunuh orang Islam akan syahid masuk surga, justru agama Kristen mengajarkan untuk mengasihi sesama manusia bahkan musuh sekalipun," katanya dalam keterangan tertulisnya, Minggu (12/4).
Kedua, pihaknya mengecam keras pernyataan Jusuf Kalla yang menyakiti hati umat Kristen. Sahat menegaskan, narasi yang disampaikan menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat.
"Ketiga, maka bersama ini kami yang terdiri dari berbagai lembaga kristen dan organisasi masyarakat akan melaporkan Bapak Jusuf Kalla ke-kepolisian RI,” kata Sahat.
Selain GAMKI, ormas kristiani lainnya, yaitu Dewan Pakar Majelis Umat Kristen Indonesia (MUKI), Asosiasi Pendeta Indonesia (API), Gerakan Perjuangan Masyrakat Pluralisme, DPP Si Pitung, DPP Horas Bangso Batak, DPP Pasukan Manguni Makasiouw, DPP Aliansi Timur Indonesia, Tim Manguni, Timur Indonesia Bersatu, Pemuda Batak Bersatu, Advokat Raja-Raja Batak, Gaharu Nusantara Bersinar, Diaspora, Tegas Jaga Indonesia, Patriot Garda Indonesia, Badan Kerja Sama Gereja dan Lembaga, Forum Jurnalis Batak, Garda Borgo Manguni, Seknas Indonesia Maju, dan Kejayaan Nusantara Cerdas.


















