Buah dan Sayur MBG Banyak Terbuang, PERSAGI: Konsumsi Hanya 5 Persen

- Masih ditemukan buah dan sayur yang terbuang karena tidak dimakan
- Angka stunting Indonesia turun dari 30,8% menjadi 19,8%
- PERSAGI akan terus edukasi untuk mencapai target angka konsumsi buah dan sayur sebesar 5%
Jakarta, IDN Times - Ketua Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI), Doddy Izwardy, menyoroti pentingnya perubahan perilaku masyarakat dalam pola makan sehat. Menurutnya, masalah gizi bukan semata soal ketersediaan makanan, tetapi juga kebiasaan.
“Pedoman gizi seimbang itu kan jelas. Tapi edukasi gizi itu tidak mudah. Kita punya pepaya, mangga, alpukat di pasar, tapi konsumsi buah dan sayur kita sejak 2007 itu rendah, cuma sekitar 5 persen,” katanya dalam keterangan tertulis, Minggu (25/1/2026).
1. Masih ditemukan buah dan sayur yang terbuang karena tidak dimakan

Ia mencontohkan, meski banyak masyarakat bisa menanam pepaya atau singkong, tetap saja tidak semua mau mengonsumsi buah dan sayur secara rutin. Bahkan dalam pelaksanaan program makan bergizi gratis (MBG), masih ditemukan buah dan sayur yang terbuang karena tidak dimakan.
“Padahal buah dan sayur itu sumber vitamin dan mineral. Kita harus biasakan lihat ‘isi piringku’, berapa persen karbohidrat, berapa persen protein, vitamin, dan mineralnya. Ini soal perubahan perilaku,” tegasnya.
2. Angka stunting indonesia turun

Dia menekankan, Indonesia telah mencatat kemajuan besar dalam menurunkan angka stunting selama satu dekade terakhir.
“Dari 30,8 persen tahun 2018, sekarang berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia sudah turun menjadi 19,8 persen,” kata Doddy.
3. PERSAGI akan terus edukasi

Namun, ia mengingatkan tantangan ke depan bukan hanya mempertahankan capaian tersebut, melainkan menurunkannya lebih jauh sesuai target nasional.
Menurut Doddy, di sinilah peran ahli gizi menjadi sangat penting, termasuk dalam menyusun perencanaan menu, menghitung kebutuhan protein seperti telur, serta memastikan keseimbangan gizi dalam satu hari, bukan hanya satu kali makan.
"Target kita 2029 itu 14,2 persen, dan menuju 2045 kita ingin di angka 5 persen. Nah, bagaimana inovasinya? Di sinilah peran PERSAGI dan tenaga gizi untuk melakukan edukasi yang terus-menerus,” jelasnya.
Sebagai salah satu upaya meningkatkan edukasi gizi, PERSAGI menggelar lomba yang diikuti mahasiswa Prodi Diploma III Gizi serta Prodi Sarjana Terapan dan Dietetika. Acara ini juga dihadiri alumni gizi angkatan 1971 dan 1972, Ketua DPP PERSAGI, serta Direktur Poltekkes Kemenkes Jakarta II.
Hari Gizi Nasional yang diperingati setiap 25 Januari menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan peran gizi dalam menunjang kesehatan, produktivitas, dan kualitas SDM. Pada HGN ke-66, persoalan gizi masih menjadi perhatian besar, mulai dari stunting, gizi kurang, anemia, obesitas, hingga meningkatnya penyakit tidak menular.

















