Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Iran Buka Suara tentang Kabar Mojtaba Terluka usai Serangan AS-Israel

Iran Buka Suara tentang Kabar Mojtaba Terluka usai Serangan AS-Israel
Mojtaba Khamenei dan putranya pada pawai Hari Kemenangan tanggal 8 Juni 2018 (Fars Media Corporation, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Otoritas Iran menegaskan Mojtaba Khamenei dalam kondisi selamat dan sehat setelah muncul kabar ia terluka akibat serangan besar-besaran Amerika Serikat dan Israel.
  • Serangan gabungan AS-Israel sejak 28 Februari menewaskan Ayatollah Ali Khamenei serta sejumlah anggota keluarganya, memicu eskalasi konflik di Timur Tengah.
  • Majelis Ahli Iran memilih Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru di tengah situasi perang dan serangan balasan Iran terhadap target militer AS dan Israel.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Otoritas Iran akhirnya memberikan penjelasan terkait kabar yang menyebut Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei mengalami luka akibat serangan besar-besaran Amerika Serikat dan Israel ke negara tersebut.

Pernyataan mengenai kondisi Mojtaba disampaikan oleh Yousef Pezeshkian, anak Presiden Iran Masoud Pezeshkian yang juga menjabat sebagai penasihat pemerintah. Ia mengatakan telah mencari informasi mengenai kabar tersebut dari sejumlah pihak yang mengetahui situasi di lapangan.

“Saya mendengar kabar Mojtaba Khamenei terluka. Saya sudah tanya ke beberapa teman yang mengetahui masalah itu. Mereka bilang ke saya, terima kasih Tuhan, dia selamat dan sehat,” kata Yousef Pezeshkian, seperti dikutip AFP, Rabu (11/3/2026).

Pernyataan tersebut muncul setelah berbagai laporan media menyebut pemimpin baru Iran itu mengalami luka di tengah serangan yang berlangsung sejak akhir Februari.

1. Laporan media sebut Mojtaba alami cedera

Hojjat-ol-Islam Sayyed Mojtaba Khamenei, putra Pemimpin Republik Islam Iran, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei ( Tasnim News Agency, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)
Hojjat-ol-Islam Sayyed Mojtaba Khamenei, putra Pemimpin Republik Islam Iran, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei ( Tasnim News Agency, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Sebelumnya, televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa Mojtaba Khamenei mengalami luka dalam apa yang disebut sebagai ‘perang Ramadan’. Namun laporan tersebut tidak merinci jenis luka yang dialami.

Sejumlah media internasional juga mengangkat kabar serupa. The New York Times, misalnya, mengutip tiga pejabat Iran yang menyatakan Mojtaba memang mengalami cedera. Menurut sumber tersebut, luka yang dialami termasuk pada bagian kaki.

“(Mojtaba) mengalami cedera, termasuk di bagian kaki, tapi dia sadar dan berlindung di tempat paling aman dengan akses komunikasi terbatas,” kata sumber yang dikutip media tersebut.

Meski demikian, informasi mengenai kondisi detail Mojtaba masih terbatas.

2. Serangan AS-Israel picu krisis dunia

Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei (AFP / Khamenei.ir)
Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei (AFP / Khamenei.ir)

Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Iran sejak 28 Februari. Serangan tersebut memicu eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Serangan pada hari pertama dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei, bersama sejumlah anggota keluarganya.

Korban yang dilaporkan tewas termasuk ibu Mojtaba Khamenei, istri Mojtaba yang juga menantu Ali Khamenei, serta sejumlah pejabat tinggi keamanan Iran. Kematian Ali Khamenei memicu proses cepat di Iran untuk menentukan pemimpin tertinggi yang baru.

3. Mojtaba terpilih gantikan ayahnya

Mojtaba Khamenei sedang berjalan menggandeng kedua anaknya.
Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, sedang berjalan menggandeng kedua anaknya. (commons.wikimedia.org/Hamed Malekpour)

Di tengah konflik yang berlangsung, Majelis Ahli Iran kemudian menggelar pemungutan suara untuk menentukan pengganti Ali Khamenei. Mojtaba Khamenei akhirnya terpilih sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru pada awal pekan ini.

Penunjukan tersebut dilakukan saat Iran juga melancarkan serangan balasan terhadap Israel dan sejumlah target militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Serangan tersebut merupakan respons terhadap operasi militer yang dilancarkan Washington dan Tel Aviv.

Dalam operasi militernya, Amerika Serikat dan Israel disebut menargetkan sejumlah fasilitas strategis Iran, termasuk program nuklir dan rudal balistik negara tersebut. Selain itu, kedua negara juga disebut memiliki tujuan untuk mengganti rezim yang berkuasa di Teheran.

Namun, sejumlah pengamat menilai sistem kepemimpinan ulama di Iran telah mengakar kuat sehingga tidak mudah digoyahkan meskipun menghadapi tekanan militer dari luar.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More