Cegah Karhutla Dampak El Nino Godzilla, BMKG-Kemenhut Pasang Sensor dan OMC

- BMKG bersiap menghadapi El Nino Godzilla dengan menggandeng Kementerian Kehutanan untuk memperkuat perlindungan hutan dan mencegah kebakaran lahan melalui integrasi data serta pemasangan alat sensor.
- Sejumlah wilayah seperti Riau dan Kalimantan sudah memasuki musim kemarau dengan 1.777 titik api terdeteksi, sehingga BMKG melakukan operasi modifikasi cuaca guna menekan potensi karhutla.
- Menteri Kehutanan menegaskan pentingnya ketepatan data dan intervensi atmosfer agar kebakaran hutan dapat ditekan, disertai penegakan hukum serta disiplin masyarakat dalam mengelola lahan.
Jakarta, IDN Times - Indonesia diprediksi mengalami El Nino Godzilla atau musim kemarau lebih panjang dari biasanya. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melakukan langkah preventif, agar dampak buruk El Nino Godzilla tidak parah.
Salah satunya, bekerja sama dengan Kementerian Kehutanan (Kemenhut) untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Kami sepakat untuk menguatkan perlindungan hutan melalui upaya preventif serta kuratif. Telah dibahas beberapa kerja sama potensial, mulai dari pemasangan alat sensor hingga integrasi data dan informasi prediksi untuk upaya pencegahan, pengurangan, atau pengendalian karhutla,” ujar Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dalam keterangannya, dikutip Kamis (23/4/2026).
1. Indonesia mulai masuk musim kemarau

Berdasarkan data BMKG, sejumlah wilayah di Indonesia sudah masuk musim kemarau. Per 21 April 2026, jumlah titik api di Indonesia sudah ada 1.777 titik. Dari jumlah tersebut, Riau dan Kalimantan menjadi daerah paling banyak memiliki titik panas terbanyak.
“Potensi kebakaran hutan dan lahan sangat bergantung pada akurasi data serta optimalisasi upaya preventif, salah satunya melalui intervensi atmosfer pada operasi modifikasi cuaca (OMC),” kata dia.
2. BMKG sudah lakukan modifikasi cuaca redam titik panas

BMKG menyampaikan, OMC operasi modifikasi cuaca di Riau dan Kalimantan juga terus dilakukan. Tujuannya untuk meningkatkan tinggi muka air tanah gambut.
BMKG juga terus melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah yang memiliki banyak titik panas, sehingga ancaman kebakaran lahan dan hutan bisa diantisipasi.
3. Harus ada ketepatan data

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, mengatakan harus ada ketepatan data untuk bisa memastikan titik api bisa diredam.
“Kejadian karhutla tahun ini berpotensi meningkat seiring dengan adanya El Nino. Maka dari itu, intervensi melalui OMC dan ketepatan data sangat menentukan, apakah karhutla ini akan bisa ditekan, termasuk penegakan hukum dan disiplin masyarakat kita untuk tidak membakar lahan,” ujar Raja Juli.


















