Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Deddy Sitorus PDIP: Kasus UBK Terlihat Gibran yang Menunggangi

Deddy Sitorus PDIP: Kasus UBK Terlihat Gibran yang Menunggangi
Anggota DPR RI Fraksi PDIP, Deddy Sitorus menyambut baik keputusan Eks Menko Polhukam Mahfud MD untuk bergabung menjadi bagain Komite Reformasi Polri. (IDN Times/Amir Faisol)
Intinya Sih
Gini Kak
  • Deddy Sitorus menilai kasus dugaan suap BEM UBK menunjukkan adanya pihak yang menunggangi gerakan mahasiswa, dan ia menyebut Wakil Presiden Gibran sebagai pihak yang terlihat terlibat.
  • Ia mengingatkan semua pihak agar tidak mudah menuduh tanpa bukti, karena menurutnya kasus UBK menjadi pelajaran penting tentang manuver tersembunyi dalam aksi mahasiswa.
  • Sejumlah mahasiswa UBK mengaku menerima uang setelah bertemu Gibran di Istana, memicu desakan klarifikasi internal kampus serta perdebatan luas di media sosial.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Ketua DPP PDIP, Deddy Sitorus, menanggapi video viral di media sosial Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Bung Karno (UBK), yang diduga menerima suap usai bertemu Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Menurut dia, kasus UBK tercermin ada pihak-pihak yang berpotensi menunggapi gerakan mahasiswa.

"Cuma sayangnya kan yang dituding dengan yang sebenarnya melakukan kadang-kadang gak sejalan. Kita dituding menunggangi gerakan mahasiswa," kata Deddy, di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (23/6 /2026).

1. PDIP sebut Gibran menunggangi UBK

Deddy Sitorus PDIP: Kasus UBK Terlihat Gibran yang Menunggangi
Ketua DPP PDIP Deddy Sitorus. (IDN Times/Amir Faisol)

Anggota Komisi II DPR RI itu mengatakan, dari kasus tersebut, tercermin pihak-pijak yang ikut menunggangi gerakan mahasiswa UBK adalah Gibran. Namun, dia tak mengetahui, apakah itu merupakan inisatif Gibran atau anak buahnya.

"Kalau melihat kasus UBK itu kan terlihat bahwa memang yang menunggangi itu ya Mas Wapres, gitu kan. Gak tahu itu arahan dia atau inisiatif anak buahnya," ujarnya.

Meski begitu, Deddy menilai, dengan nominal suap yang fantastis, mustahil jika itu atas arahan anak buahnya.

"Tetapi kalau inisiatif anak buah, saya kira aneh. Karena mahasiswa itu menurut pengakuan mereka, diberikan uang oleh polisi sekitar Rp20 juta lebih ya, Rp20 juta sampai Rp30 juta, untuk kemudian belok arahnya, demonya bertemu dengan Wapres secara langsung gitu. Nah, orkestrasi murahan kayak begini kan gak mungkin dari bawah gitu, tapi dari atas," tutur dia.

2. Deddy ajak semua pihak ambil pelajaran dari kasus UBK

Deddy Sitorus PDIP: Kasus UBK Terlihat Gibran yang Menunggangi
Ketua DPP PDI Perjuangan, Deddy Sitorus (IDN Times/Ilman Nafi'an)

Oleh karena itu, Deddy mengatakan, kasus UBK menjadi pelajaran agar tidak mudah menuding pihak lain menunggangi aksi demonstrasi mahasiswa.

"Nah, saya kira ini pelajaran buat kita semua, agar jangan sembarangan menuduh. Karena kadang-kadang orang-orang yang sembunyi di belakang itu lebih mudah untuk melakukan manuver-manuver murahan kayak begini," kata dia.

3. Mahasiswa yang diajak Gibran ke Istana disebut terima Rp300 juta

Gibran bertemu mahasiswa yang demo
Mahasiswa usai bertemu Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Istana, Senin malam (15/6/2026). (IDNTimes/M Ilman Nafian)

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Bung Karno (BEM FH UBK) kembali menjadi sorotan, usai beredar video di media sosial mengenai dugaan sejumlah mahasiswa menerima uang usai mengikuti audiensi dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka beberapa waktu lalu.

Isu tersebut memicu desakan dari kalangan mahasiswa UBK agar para pengurus BEM FH memberikan klarifikasi dan mempertanggungjawabkan dugaan yang beredar. Proses konfrontasi antarmahasiswa bahkan sempat disiarkan secara langsung melalui platform TikTok dan dibagikan ke sejumlah media sosial.

Dalam salah satu potongan video yang beredar, Ketua BEM FH UBK Abdi Maludin menyampaikan permintaan maaf di hadapan mahasiswa.

“Saya ngaku salah dan mohon maaf kepada kalian semua,” kata Abdi dalam video yang beredar, dikutip dari Instagram @marhaenpress, Selasa (23/6/2026).

Sejumlah pengurus mahasiswa disebut mengakui menerima uang dengan nominal sekitar Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per orang.

Abdi Maludin diketahui melakukan audiensi dengan Wakil Presiden Gibran bersama rombongan mahasiswa lain yang berjumlah 15 orang. Namun, hingga kini, belum ada keterangan resmi yang dapat memastikan sumber maupun tujuan pemberian uang tersebut.

Di tengah ramainya pembahasan mengenai dugaan penerimaan uang tersebut, muncul berbagai klaim lain di media sosial. Salah satu akun di platform X, @txtdarigenz97 mengunggah narasi yang menyebut kelompok mahasiswa yang menemui Wakil Presiden Gibran diduga menerima dana hingga Rp300 juta.

“Masih ingat mahasiswa yang diajak Gibran masuk ke istana? Ternyata mereka menerima suap pas ketemu Gibran sebesar 300 juta. Bayangin banyaknya relawan yg nunggu berjam-jam menunggu hasil rapat mereka dengan wapres, tapi ternyata semuanya udah di setting. Malam ini mereka lagi di interogasi oleh mahasiswa UBK,” tulis akun tersebut.

4. Istana cek dugaan mahasiswa UBK terima uang usai bertemu Gibran

Wakil Presiden Gibran Rakabuming bertemu perwakilan mahasiswa di Istana Wapres (IDN Times:Dini Suciatiningrum)
Wakil Presiden Gibran Rakabuming bertemu perwakilan mahasiswa di Istana Wapres (IDN Times:Dini Suciatiningrum)

Sementara, Wakil Menteri Sekretaris Negara (Wamensesneg) RI Bambang Eko Suhariyanto mengatakan, pihaknya akan mengecek informasi yang beredar soal dugaan pemberian uang kepada mahasiswa UBK usai bertemu Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, agar mereka tidak menggelar demonstrasi di depan Istana Negara.

Pernyataan ini disampaikan Bambang Eko saat dimintai tanggapan mengenai video pengakuan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum UBK Muhammad Abdimaludin, yang mengaku menerima uang setelah bertemu Gibran pada Senin, 15 Juni 2026.

"Coba nanti saya monitor dulu ya. Saya gak ngikutin yang kemarin berita terakhir itu. Nanti saya akan cek lagi ya, oke ya," ujar Bambang di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (23/6/2026).

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Rochmanudin Wijaya
EditorRochmanudin Wijaya

Related Articles

See More