Diabetes Tipe 2 Mulai Serang Pelajar SMP, Kenapa Bisa?

- Wamenkes Dante Saksono mengungkapkan peningkatan kasus diabetes tipe 2 pada remaja, bahkan anak SMP, akibat perubahan gaya hidup modern yang kurang sehat.
- Kebiasaan minim aktivitas fisik, screen time tinggi, pola tidur buruk, serta konsumsi gula dan makanan ultra-proses disebut sebagai faktor utama pemicu penyakit ini.
- Pemerintah menanggapi dengan program Cek Kesehatan Gratis bagi 25 juta pelajar dan penerapan label nutrisi A–D untuk meningkatkan kesadaran gizi masyarakat.
Jakarta, IDN Times - Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Dante Saksono Harbuwono, mengungkapkan kasus diabetes tipe 2 semakin banyak ditemukan pada usia remaja, bahkan pada pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP). Padahal, diabetes tipe 2 dahulu identik dengan kelompok usia lanjut.
Menurutnya, pergeseran tren penyakit ini bukan sekadar dipengaruhi oleh faktor genetik, tetapi juga akibat perubahan drastis gaya hidup.
"Dulu, diabetes tipe 2 identik dengan usia 40 atau 50 tahun ke atas. Tetapi hari ini, yang membuat saya tidak bisa tenang sebagai seorang dokter, kita mulai melihatnya muncul pada remaja, bahkan beberapa kasus pada anak usia SMP," ungkap Dante dalam keterangan, Kamis (28/5/2026).
Table of Content
1. Minim aktivitas fisik dan tingginya screen time

Dia menyoroti kebiasaan generasi muda saat ini yang minim aktivitas fisik, tingginya durasi layar (screen time), kurang tidur, hingga konsumsi gula dan makanan ultraproses yang berlebihan.
"Selain itu, tekanan mental yang dihadapi remaja masa kini turut memperburuk kondisi tersebut. Ironisnya, diabetes tipe 2 pada remaja cenderung berkembang lebih cepat dan agresif dibandingkan pada orang dewasa," katanya.
2. Pencegahan di dalam keluarga

Menghadapi ancaman tersebut, Dante menegaskan solusi utama bukan hanya obat-obatan, melainkan perubahan kebiasaan yang dimulai dari rumah.
"Ini bukan untuk menakut-nakuti. Pencegahan harus dimulai sekarang. Makan bersama, tidur cukup, mengurangi waktu di depan layar, dan aktif bergerak bersama keluarga," kata Dante.
3. Pemerintah sudah lakukan mitigasi

Pemerintah, lanjut Dante, telah merespons persoalan ini melalui program Cek Kesehatan Gratis yang menjangkau 25 juta anak sekolah, serta penerapan program nutrilevel, yakni sistem label A hingga D pada kemasan makanan dan minuman untuk memperingatkan masyarakat terkait kadar gula.
Dari pemeriksaan di sekolah-sekolah, ditemukan pula berbagai masalah kesehatan yang mulai dialami remaja sejak dini, seperti hipertensi, anemia, hingga gangguan kesehatan gigi.
"Tubuh adalah modal pertama dari semua cita-cita yang ingin dicapai. Kesehatan bukan tujuan akhir, melainkan cara kita menjalani hidup yang bermakna," katanya.


















