Kasus Hantavirus, Anggota DPR: Jangan Tunggu Melonjak Baru Bergerak

- Edy Wuryanto mendesak pemerintah meningkatkan kewaspadaan terhadap hantavirus setelah kasus terdeteksi di kapal MV Hondius, menekankan pentingnya pencegahan sebelum terjadi lonjakan kasus.
- Hantavirus ditularkan dari tikus ke manusia dan memiliki tingkat kematian tinggi, terutama jenis Andes virus yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan berat serta menular antar manusia.
- Kemenkes mencatat 23 kasus hantavirus di Indonesia sejak 2024 hingga 2026 dengan tiga kematian, tersebar di sembilan provinsi termasuk DKI Jakarta dan DI Yogyakarta sebagai wilayah terbanyak.
Jakarta, IDN Times - Anggota Komisi IX DPR RI, Edy Wuryanto menyoroti temuan kasus Hantavirus yang mulanya terdeteksi di kapal pesiar MV Hondius sebagai ancaman nyata bahwa penyakit zoonosis bisa muncul kapan saja.
Adapun, dalam tiga tahun terakhir Indonesia telah mencatat sedikitnya 23 kasus hantavirus jenis Seoul Virus dengan manifestasi Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). Sebanyak 20 pasien dinyatakan sembuh, sementara tiga lainnya meninggal dunia dengan riwayat penyakit penyerta seperti kanker hati dan kegagalan multi organ.
“Ini menunjukkan bahwa hantavirus bukan sekadar ancaman teoritis. Virusnya sudah ada di Indonesia dan kasusnya nyata. Persoalannya, penyakit ini sering tidak terdeteksi karena gejalanya mirip demam berdarah, tifus, atau leptospirosis,” ujar Edy kepada wartawan, Minggu (9/5/2026).
1. Minta pemerintah pasang mode waspada tinggi

Anggota Fraksi PDIP DPR RI itu mendesak pemerintah untuk memasang mode waspada tinggi terhadap munculnya kasus Hantavirus. Ia mengingatkan pemerintah, jangan sampai baru bergerak setelah adanya lonjakan kasus di tanah air.
Edy menyampaikan, WHO telah mengingatkan kemungkinan munculnya kasus tambahan terkait wabah di MV Hondius mengingat masa inkubasi virus dapat berlangsung hingga lebih dari dua minggu. Sejumlah negara kini memperketat pemantauan terhadap penumpang yang sempat berada di kapal tersebut.
"Kita tidak boleh menunggu sampai terjadi lonjakan kasus besar baru kemudian bergerak. Pencegahan jauh lebih murah dan jauh lebih penting dibandingkan penanganan ketika situasi sudah memburuk,” kata Edy.
2. Hantavirus memiliki tingkat kematian cukup tinggi

Legislator Jawa Tengah ini menjelaksan, terdapat perbedaan antara Andes dengan Seoul Virus yang ditemukan di Indonesia. Andes virus dapat menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yakni infeksi berat yang menyerang paru-paru dan memicu sesak nafas akut hingga gagal nafas. Virus ini memiliki tingkat fatalitas lebih tinggi dan menjadi satu-satunya jenis hantavirus yang sejauh ini diketahui dapat menular antar manusia.
Secara umum, hantavirus merupakan penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia (zoonosis), terutama melalui tikus sebagai agen infeksius utama virus. Penularan dapat terjadi ketika seseorang menghirup udara yang terkontaminasi partikel urin, feses, atau air liur tikus.
Edy menilai hantavirus menjadi ancaman yang sering luput dari perhatian karena tidak selalu menimbulkan pandemi. Padahal, ada jenis hantavirus memiliki tingkat kematian cukup tinggi, terutama Andes virus yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan berat.
“Justru karena sifatnya silent threat, kita tidak boleh lengah. Dunia sudah belajar dari pandemi bahwa ancaman kesehatan sering datang dari hal-hal yang awalnya dianggap kecil,” kata dia.
3. Indonesia catat 23 kasus Hantavirus

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 23 kasus konfirmasi virus Hanta di Indonesia sepanjang 2024 hingga 2026. Dari total kasus tersebut, tiga pasien dilaporkan meninggal dunia, sementara 20 lainnya dinyatakan sembuh.
Berdasarkan data Kemenkes, kasus konfirmasi tersebar di sembilan provinsi. DKI Jakarta dan DI Yogyakarta menjadi wilayah dengan jumlah kasus terbanyak, masing-masing enam kasus. Jawa Barat mencatat lima kasus, sedangkan Sumatera Barat, Banten, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Timur (NTT) masing-masing satu kasus.
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman memastikan dua kasus suspek terbaru yang sempat ditemukan di Jakarta dan Yogyakarta di tahun ini telah dipastikan negatif berdasarkan hasil pemeriksaan lanjutan.
“Itu terakhir tadi saya konfirmasi ke teman-teman unit lain itu sudah negatif, yang dua itu. Sudah sembuh, sudah sehat,” ujar Aji saat dihubungi IDN Times, Jumat (8/5/2026).


















