Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Demo Pro-Palestina Pecah di Inggris, 139 Orang Ditangkap

2 min read
Demo Pro-Palestina Pecah di Inggris, 139 Orang Ditangkap
potret demo pro-Palestina (pexels.com/Abdulmomen Bsruki)
  • Ratusan warga menggelar demonstrasi pro-Palestina di luar Kedutaan Besar AS di London dan Konsulat AS di Edinburgh pada 31 Oktober 2026, dengan pengawasan polisi.
  • Para demonstran meminta AS mendesak Israel menghentikan serangan ke Palestina serta menuntut pemerintah Inggris kembali mengizinkan organisasi Palestinian Action beroperasi.
  • Polisi Inggris menangkap 139 demonstran di London karena menyatakan dukungan kepada Palestinian Action; sepanjang 2026, total 3.867 orang telah ditangkap terkait dukungan tersebut.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Ratusan warga Inggris dikabarkan menggelar aksi demonstrasi pro-Palestina di Kota London pada Sabtu (31/10/2026). Pada hari yang sama, ratusan warga Negeri Ratu Elizabeth juga menggelar demo di Edinburgh. 

Di London, demo pecah di luar gedung Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS). Sementara di Edinburgh, demo terjadi di luar gedung konsulat AS. Demo tersebut diawasi oleh kepolisian setempat. Langkah ini dilakukan agar demo tidak berujung anarkis seperti yang terjadi di sejumlah negara Eropa dalam beberapa hari terakhir.

  1. 1. Warga Inggris meminta AS mendesak Israel berhenti menyerang Palestina

    Sejumlah bangunan di Jalur Gaza hancur lebur akibat serangan Israel.
    Sejumlah bangunan di Jalur Gaza hancur lebur akibat serangan Israel. (unsplash.com/Mohammed Ibrahim)

    Dalam demo tersebut, para pengunjuk rasa di London dan Edinburgh menyerukan tuntutan yang sama kepada AS. Mereka meminta Negeri Paman Sam untuk mendesak Israel berhenti menyerang Palestina. Sebab, serangan Tel Aviv ke negara tersebut sejak 7 Oktober 2023 lalu saat ini sudah menewaskan lebih dari 70 ribu orang.

    Selain itu, para pengunjuk rasa juga mendesak Pemerintah Inggris untuk mengizinkan kembali operasi organisasi pro-Palestina bernama Palestinian Action. Sebab, London sudah melarang keberadaan organisasi tersebut pada Juli 2025 lalu karena dianggap sebagai organisasi teroris yang hanya menebar propaganda hitam.

  2. 2. Polisi Inggris tangkap 139 pengunjuk rasa karena mendukung Palestine Action

    Kepolisian Inggris mengatakan, pihaknya telah menangkap sekitar 139 orang karena mendukung Palestine Action dalam demo pada Sabtu kemarin. Semua pengunjuk rasa yang ditangkap dikabarkan berasal dari London. Saat ini, para pendemo tersebut sedang ditahan untuk dimintai keterangannya. 

    “Sebagian besar penangkapan dilakukan karena menyatakan dukungan terhadap organisasi terlarang,” bunyi pernyataan resmi kepolisian Inggris dalam sebuah unggahan di X, seperti dikutip Times of Israel.

  3. 3. Ada 3.867 warga Inggris yang ditangkap karena mendukung Palestine Action

    Polisi sedang menangkap seseorang.
    ilustrasi penangkapan (pexels.com/RDNE Stock project)

    Sepanjang 2026 ini, polisi Inggris dikabarkan sudah menangkap 3.867 warga Inggris yang mendukung Palestine Action. Sebagian besar dari mereka dikabarkan pernah melakukan aktivitas terorisme. Namun, polisi Inggris tidak merinci aktivitas teroris seperti apa yang mereka lakukan. 

    Penangkapan ini menuai kecaman dari sejumlah demonstran. Sebab, mereka merasa tidak berhak ditangkap karena hanya menyampaikan ekspresi melalui demonstrasi. Mereka juga menganggap keberadaan organisasi Palestine Action tidak seharusnya dilarang oleh Pemerintah Inggris karena mereka hanya menyuarakan isu agresi Israel di Palestina. 

    “Bagaimana mungkin upaya menghentikan genosida dianggap sebagai kejahatan. Kami adalah demonstran, bukan teroris!” demikian bunyi kalimat yang tertulis di sejumlah spanduk yang dibawa para pengunjuk rasa di London dan Edinburgh.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More