Gibran Dinilai Berupaya Redam Tensi Usai Pernyataan JK soal Jokowi

Jakarta, IDN Times - Polemik pernyataan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla (JK) terkait Presiden ke-7 RI, Joko "Jokowi" Widodo belakangan memantik perhatian publik. Di tengah situasi tersebut, Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka dinilai berupaya meredam tensi politik yang mulai menghangat.
Pakar komunikasi politik Universitas Indonesia (UI) sekaligus Direktur Eksekutif Nusakom Pratama Institute, Ari Junaedi menilai, sikap Gibran yang menyebut JK sebagai sosok senior hingga idola menunjukkan kedewasaan politik.
Table of Content
1. Komunikasi politik Gibran dinilai semakin matang

Ari menganggap komunikasi politik putra sulung Jokowi itu semakin matang. Ia melihat pernyataan Gibran sebagai respons yang tidak memperkeruh suasana di tengah sorotan terhadap relasi JK dan Jokowi.
“Dalam beberapa waktu terakhir, pernyataan Wakil Presiden Jusuf Kalla begitu menohok soal Presiden RI ke-7 Joko Widodo. Hal ini tidak terlepas dari pelaporan terhadap JK ke kepolisian usai berceramah di Masjid UGM, Yogyakarta,” kata Ari dalam keterangannya, Kamis (23/04/2026).
2. Upaya redam tensi politik di tengah isu ekonomi

Ari menilai langkah Gibran tidak terlepas dari upaya meredam “panasnya” situasi politik yang berkembang. Apalagi, masyarakat juga tengah dihadapkan pada berbagai tekanan ekonomi seperti kenaikan harga BBM non-subsidi, elpiji non-subsidi, hingga harga plastik akibat dinamika geopolitik global.
"Dalam teori komunikasi, upaya Gibran seperti ingin memecah spiral keheningan. Dari Elisabeth Noelle Neumann, seorang pakar politik dari Jerman, Gibran sepertinya ingin memecah dominasi arus pendapat umum tentang diri dan keluarganya,” ucap Ari.
"Gibran tidak terpancing dengan pancingan pertanyaan media yang jika ditanggapi dengan emosi justru akan memperuncing suasana politik nasional menjadi semakin panas. Dalam hal ini, Gibran sudah belajar banyak mengenai pola komunikasi yang benar," sambungnya.
3. Gibran tanggapi pernyataan JK soal punya jasa di balik karier Jokowi

Sebelumnya, Gibran menanggapi pernyataan JK yang menyebut punya peran dalam perjalanan politik Jokowi. Ia menyampaikan rasa hormat dan apresiasi terhadap JK.
Ia pun menuturkan kedekatannya JK sebagai sosok senior sekaligus mentor dalam perjalanan kepemimpinannya.
“Pak JK itu senior saya, Pak JK itu mentor juga,” kata Gibran ketika menanggapi pertanyaan awak media usai meninjau RSUD JP Wanane, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, Rabu (22/04/2026).
Menurut Gibran, pengalaman panjang JK dalam pemerintahan menjadikannya figur yang memiliki kontribusi besar bagi bangsa, khususnya dalam penyelesaian konflik di berbagai daerah.
“Beliau sudah sangat berpengalaman, beliau banyak kiprah dan kontribusinya untuk negeri ini, terutama di daerah-daerah konflik,” tuturnya.
Karena itu, ia menilai Pak JK sebagai teladan yang patut dicontoh oleh generasi pemimpin saat ini.
“Jadi beliau itu adalah teladan untuk kita semua,” tegasnya.
Gibran juga menyampaikan apresiasi atas berbagai masukan dan evaluasi yang diberikan oleh JK, yang dinilainya penting dalam memperkaya perspektif kepemimpinan nasional.
“Dan ya saya sangat berterima kasih sekali untuk masukan-masukan dan juga evaluasi dari Pak JK,” imbuhnya.
Di akhir pernyataannya, Gibran kembali menegaskan kekagumannya terhadap sosok JK.
“Pak JK itu idola saya,” pungkasnya.
Adapun dalam keterangannya, JK mengenang perannya dalam perjalanan politik Jokowi menjadi Gubernur DKI Jakarta hingga menjadi Presiden RI.
Hal itu disampaikan JK dalam konferensi pers yang digelar di kediamannya, kawasan Jakarta Selatan, Sabtu (18/4/2026).
Dalam kesempatan tersebut, JK juga menyinggung dinamika politik, tudingan terhadap dirinya, hingga klarifikasi soal ceramahnya di Universitas Gadjah Mada yang dianggap menista agama.
JK secara terbuka menyatakan bahwa dirinya memiliki peran dalam membawa Jokowi dari Solo ke panggung politik nasional, khususnya saat maju sebagai Gubernur DKI Jakarta.
“Siapa yang bawa Jokowi ke Jakarta? Saya yang bawa ke Jakarta dari Solo, untuk jadi gubernur. Saya yang bawa,” kata JK.
Ia mengaku saat itu turut meyakinkan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, agar mendukung Jokowi maju di Pilkada DKI Jakarta.
“Ibu (Megawati), ini (Jokowi) calon baik orang PDIP. Ah, jangan. Akhirnya beliau terduduk. Jadilah gubernur,” ujarnya.
JK pun menyebut, setelah terpilih menjadi gubernur, Jokowi sempat datang ke rumahnya untuk menyampaikan terima kasih. Ia pun menunjukkan foto Jokowi saat menyium tangan JK usai menang dalam kontestasi Pilkada DKI Jakarta.
“Sehingga waktu dia menang jadi gubernur, setelah (Jokowi kunjungi) ke Ibu Mega, datang sama saya ucapan terima kasih,” kata dia.
Ia bahkan menegaskan kontribusinya dalam membuka jalan Jokowi hingga ke level nasional.
“Saya yang bawa ke Jakarta. Kasih tahu semua itu, termul-termul itu. Jokowi jadi presiden karena saya. Kan tanpa gubernur, mana bisa jadi presiden? Coba lihat,” tutur JK.
Meski menyampaikan peran besarnya, JK menegaskan tidak memiliki konflik pribadi dengan Jokowi. Ia mengaku tetap menghormati Presiden ke-7 RI tersebut.
Ia juga menepis anggapan bahwa dirinya menyerang atau menuduh Jokowi dalam polemik yang berkembang, termasuk isu soal keaslian ijazah.
“Saya mengatakan bahwa ini sudah dua tahun rakyat ini berkonflik, bertentangan, saling mengadu, saling berteriak-berteriak, demo, sudahlah Pak Jokowi, sudahlah kasihlah ijazah saja. Itu saja. Timbul lah ini. Sensitif sekali itu ijazah. Kenapa sih? Dan saya lihat itu asli, kenapa tidak dikasih lihat? Kenapa tidak dikasih lihat? Membiarkan masyarakat ini berkelahi diri sendiri, saling memaki masyarakat," tutur dia.
JK menambahkan, sebagai sosok yang lebih senior, dirinya merasa berkewajiban memberi nasihat dalam dinamika yang terjadi.
“Saya lebih tua dari dia. Jadi sebagai orang yang lebih senior, saya nasihati,” ujarnya.
Dalam konferensi pers itu, JK juga menanggapi berbagai tudingan, termasuk soal dugaan penistaan agama terkait ceramahnya di UGM. Ia menegaskan, pernyataannya tidak bermaksud menyinggung agama, melainkan menjelaskan konflik sosial yang pernah terjadi di Indonesia.
“Saya tidak bicara tentang dogma agama, saya tidak bicara tentang ideologi agama, tidak. Tentang kenapa mereka saling membunuh? Kenapa mereka saling membunuh? Ada enggak Islam dan Kristen? Tidak ada. Jadi mereka semua melanggar ajaran agama. Saya tidak mengajarkan memuji agama Kristen, tidak,” kata JK.
Ia juga menyoroti banyaknya fitnah yang menurutnya beredar di publik.
“Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Semua memfitnah saya semua,” ujarnya.
Terkait kemungkinan langkah hukum, JK mengaku masih mempertimbangkan dan menyerahkannya kepada masyarakat.
“Kami akan pertimbangkan, karena kalau tidak dituntut, ini akan terulang lagi,” katanya.
Namun, ia juga mengaku tidak ingin memperkeruh suasana dan memilih meredam reaksi publik.
“Orang Islam mau demo, jangan, saya bilang. Jangan, jangan,” ucap JK.
Meski demikian, ia membuka kemungkinan proses hukum tetap berjalan jika ada pihak yang melaporkan.
“Tapi secara hukum, kami serahkan kepada tim hukum, serahkan ke masyarakat,” kata JK.


















