Karakteristik Pemilih Muda 2024 Beda dengan 2029: Lebih Realistis

- Pemilih muda diprediksi tetap jadi penentu utama di Pemilu 2029 karena jumlah Gen Z yang memasuki usia pemilih semakin besar dibanding generasi tua.
- Pada Pemilu 2024, anak muda cenderung ikut arus narasi dan tertarik pada figur kuat serta kampanye kreatif yang terasa dekat dengan mereka.
- Menjelang 2029, pemilih muda dinilai lebih kritis, realistis, dan berani menyuarakan pendapat tanpa loyalitas mutlak terhadap satu tokoh politik.
Jakarta, IDN Times - Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia Arifki Chaniago menilai, pemilih muda masih menjadi penentu utama kemenangan dalam kontestasi Pemilu 2029. Ia menjelaskan, jumlah pemilih muda masih mendominasi, ketimbang pemilih dari generasi tua.
"Karena jumlah Gen Z makin banyak yang masuk usia pemilih, sementara generasi yang lebih tua porsinya makin berkurang. Jadi kemungkinan besar, lebih dari setengah pemilih di 2029 itu anak muda. Artinya simpel, kalau mau menang, ya harus bisa dapetin hati mereka," kata dia kepada IDN Times, Jumat (24/4/2026).
1. Karakteristik pemilih pemilu 2024 masih ikut arus

Arifki menjelaskan, karakteristik pemilih muda pada Pemilu 2024 cenderung masih mengikuti arus narasi yang berkembang. Mereka masih tertarik dengan figur yang kuat, konten menarik, dan kampanye kreatif.
"Di 2024, banyak anak muda masih ikut arus narasi. Mereka gampang tertarik sama figur yang kuat, konten yang relate, dan vibes kampanye yang keren. Istilahnya masih banyak yang milih karena feeling cocok," ucapnya.
2. Pemilih muda 2029 lebih kritis dan lebih realistis

Arifki memprediksi, pemilih muda pada 2029 nanti cenderung lebih kritis dan realistis. Terutama bagi pemilih yang pernah menggunakan hak pilihnya pada 2024, mereka cenderung mengevaluasi kinerja figur yang dipilih.
"Nah, di 2029 nanti, mereka udah punya pengalaman. Udah pernah nyoblos, udah lihat hasilnya. Jadi pola pikirnya mulai berubah. Mereka bakal lebih sering nanya 'yang dulu dijanjiin, kejadian nggak sih?'. Jadi dari yang tadinya penuh harapan, mulai bergeser ke arah yang lebih realistis. Nggak cuma lihat omongan, tapi juga bukti," jelas dia.
3. Pemilih muda 2029 lebih berani berbicara dan tak loyal ke satu tokoh belaka

Selain itu, kata Arifki, pemilih muda di 2029 semakin berani berbicara melayangkan kritik terhadap pemerintah. Hal itu terbukti dari adanya sebagian anak muda yang merasa menyesal karena salah memilih pada Pemilu 2024.
"Selain itu, sekarang juga mulai kelihatan anak muda makin berani ngomong. Ada yang kritik, ada yang terang-terangan bilang nyesel sama pilihannya dulu. Ini penting, karena artinya di 2029 mereka nggak akan terlalu loyal ke satu tokoh. Kalau kecewa, ya pindah. Lebih cair," imbuh dia.


















