Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kemenag Apresiasi Pengecoran Rupang Buddha Nusantara di Jakarta

Kemenag Apresiasi Pengecoran Rupang Buddha Nusantara di Jakarta
Acara pengecoran Ruppang Buddha Nusantara tuntas terlaksana di Jakarta. (Dok. Kemenag)
Intinya Sih
Gini Kak
  • Dirjen Bimas Buddha Kemenag, Supriyadi, mengapresiasi puncak pengecoran Rupang Buddha Nusantara di Vihara Dhammacakka Jaya sebagai simbol komitmen umat Buddha memperkuat nilai Dhamma bagi masyarakat.
  • Bhante Atthadhiro Thera menjelaskan Rupang Buddha Nusantara setinggi lima meter bermudra Bhumisparsa menjadi simbol bumi dan saksi kebajikan, sekaligus pengingat untuk menumbuhkan keyakinan kepada Sang Buddha.
  • Pengecoran yang disiapkan sejak April 2026 melibatkan 85 panitia dan 165 relawan, menandai tahap akhir pembangunan setelah rangkaian kegiatan di beberapa kota besar Indonesia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Direktur Jenderal (Dirjen) Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama (Kemenag), Supriyadi, mengapresiasi acara Ruppang Buddha Nusantara yang dihelat di Jakarta.

Hal itu dia ucapkan saat menghadiri acara Puncak Upacara Pengecoran Rupang Buddha Nusantara di Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya, Jakarta, pada Minggu, 21 Juni 2026.

"Rupang Buddha Nusantara ini menjadi penanda keberlangsungan komitmen kita sebagai umat Buddha Indonesia untuk terus memperteguh diri dalam mengembangkan nilai-nilai Dhamma dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas," ujar Supriyadi dalam keterangannya.

1. Ruppang Buddha Nusantara memiliki makna penting

Para peserta berpakaian putih melakukan prosesi pengecoran Ruppang Buddha Nusantara di Jakarta dengan latar biksu dan bendera Buddhis.
Acara pengecoran Ruppang Buddha Nusantara tuntas terlaksana di Jakarta. (Dok. Kemenag)

Sementara, Y.M. Bhante Atthadhiro Thera selaku Ketua Panitia Nasional Tahun Kencana Setengah Abad Sangha Theravada Indonesia (STI) menyatakan pembangunan Rupang Buddha Nusantara memiliki makna penting.

Ruppang Buddha Nusantara ini merupakan wujud pengabdian umat Buddha untuk menumbuhkan keyakinan kepada Buddha sekaligus meninggalkan warisan kebajikan bagi generasi mendatang.

"Rupang Buddha itu dibuat oleh umat Buddha untuk mengokohkan saddha (keyakinan) dengan perenungan yang benar kepada Guru Agung Buddha Gotama. Rupang Buddha itu mengingatkan kita, membangkitkan saddha (keyakinan) kita terhadap Sang Buddha. Hanya melihat Rupang Buddha tumbuhlah keyakinan," terang Bhante.

2. Saksi dari kebajikan yang dilakukan

Para biksu dan peserta mengikuti prosesi pengecoran Ruppang Buddha Nusantara di Jakarta di bawah tenda berhias bendera dan lampu malam hari.
Acara pengecoran Ruppang Buddha Nusantara tuntas terlaksana di Jakarta. (Dok. Kemenag)

Bhante menambahkan, Rupang Buddha setinggi lima meter dengan mudra Bhumisparsa ini adalah simbol dari bumi sekaligus saksi kebajikan yang telah dilakukan.

“Semoga upaya yang dilakukan bersama ini mendatangkan keberkahan, kedamaian, kebahagiaan, kesejahteraan dan menjadi kumpulan parami bagi kita semua menuju nibbana,” ujar Bhante.

3. Persiapan kegiatan sudah dilakukan sejak April

Tiga narasumber duduk di meja konferensi pers puncak upacara pengecoran Rupang Buddha Nusantara di Jakarta dengan latar spanduk acara.
Acara pengecoran Ruppang Buddha Nusantara tuntas terlaksana di Jakarta. (Dok. Kemenag)

Persiapan kegiatan pengecoran Ruppang Buddha Nusantara di Jakarta dilakukan sejak April 2026 dengan dukungan 85 panitia dan sekitar 165 relawan.

Pengecoran di Jakarta menjadi puncak dari rangkaian pengecoran Rupang Buddha Nusantara yang sebelumnya dilaksanakan di Medan, Samarinda, Bali, Palu, dan Surabaya.

Pada kesempatan ini, bagian yang dicor adalah kepala Rupang Buddha Nusantara sebagai bagian terakhir dari keseluruhan struktur rupang, menandai selesainya seluruh tahapan pengecoran.

Rupang Buddha Nusantara diharapkan menjadi simbol keyakinan, kebijaksanaan, kedamaian, dan persatuan yang menginspirasi masyarakat untuk menghidupkan nilai-nilai Dhamma dalam kehidupan sehari-hari.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwifantya Aquina
EditorDwifantya Aquina

Related Articles

See More