Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kemendugbangga: Ayah Jangan Cuma Cari Nafkah, Harus Ikut Mengasuh Anak

2 min read
Kemendugbangga: Ayah Jangan Cuma Cari Nafkah, Harus Ikut Mengasuh Anak
Direktur Bina Ketahanan Remaja, Irma Ardiana. (IDN Times/Lia Hutasoit)
  • Kemendukbangga/BKKBN melalui GATI mendorong perubahan pandangan bahwa ayah tidak cukup hanya menjadi pencari nafkah.
  • Keterlibatan ayah dalam pengasuhan dinilai penting untuk memenuhi kebutuhan emosional anak pada setiap fase perkembangannya.
  • GATI memanfaatkan panduan dan komunitas, termasuk Kompak Tenan, sebagai ruang belajar bagi ayah serta calon ayah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) /BKKBN mendorong perubahan pandangan tentang peran ayah di keluarga. Ayah tidak cukup hanya ditempatkan sebagai pencari nafkah karena keterlibatan dalam pengasuhan juga dinilai penting untuk mengisi kebutuhan emosional anak.

Direktur Bina Ketahanan Remaja Kemendukbangga /BKKBN Irma Ardiana mengatakan paradigma tersebut perlu dipatahkan melalui GATI.

"Jadi kita ingin dan melihat bahwa kalau kita ingin mematahkan paradigma bahwa ayah itu adalah utamanya sebagai main breadwinner, ya. Tetapi enggak bisa," kata Irma dalam diskusi bersama awak media di kantor Kemendukbangga, Jakarta, Kamis (17/9/2026).

  1. 1. Ayah dituntut hadir di rumah

    Direktur Bina Ketahanan Remaja, Irma Ardiana. (IDN Times/Lia Hutasoit)
    Direktur Bina Ketahanan Remaja, Irma Ardiana. (IDN Times/Lia Hutasoit)

    Menurut dia, berada di rumah tidak otomatis membuat seorang ayah menjalankan seluruh perannya. Ada tuntutan lain yang berkaitan dengan hubungan emosional dengan anak dan keterlibatan dalam pengasuhan.

    "Jadi pada saat ayah itu di rumah, ada tuntutan lebih. Tidak hanya sebagai pencari nafkah. Tapi dia juga harus mengisi kekosongan fatherly love tadi," katanya.

    Karena itu, GATI tidak hanya menyasar ayah yang sudah memiliki anak, tetapi juga remaja laki-laki yang diproyeksikan menjadi calon ayah.

  2. 2. Jadi orang tua tak berhenti belajar

    Gerakan Ayah Mengambil Rapor atau Gemar
    Gerakan Ayah Mengambil Rapor atau Gemar (ANTARA FOTO/Arif Firmansyah)

    Irma mengatakan pengasuhan berubah mengikuti perkembangan anak dan tahapan keluarga. Ayah perlu memahami kebutuhan anak sejak fase prakonsepsi, kehamilan, kelahiran, hingga anak memasuki usia remaja.

    "Jadi memang menjadi orang tua itu enggak ada sekolahnya. Memang belajar mandiri. Belajar sendiri gitu, ya," ujarnya.

    GATI kemudian menyusun panduan berdasarkan fase perkembangan psikososial anak dengan melibatkan sejumlah organisasi profesi.

    "Karena pada usia-usia ini, si anak ini punya tuntutan atau fase perkembangan yang berbeda gitu ya," kata dia.

  3. 3. Komunitas jadi ruang belajar ayah

    Gerakan Ayah Mengambil Rapor atau Gemar
    Gerakan Ayah Mengambil Rapor atau Gemar (ANTARA FOTO/Arif Firmansyah)

    GATI menggunakan komunitas sebagai salah satu pintu masuk. Menurut narasumber, ayah membutuhkan dukungan sosial untuk mempelajari pola pengasuhan sekaligus mengubah kebiasaan yang mungkin diwarisi dari keluarga.

    "Ketika dia sendiri memahami bahwa itu salah, dan itu di-support atau dikonfirmasi dari lingkungannya," kata Irma.

    Model tersebut diterapkan melalui Kompak Tenan yang menghubungkan GATI dengan komunitas ayah yang sudah terbentuk, mulai dari komunitas keagamaan, olahraga, kelompok tani hingga komunitas berbasis ASN.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More