Komisi VIII DPR Sebut Tak Ada Lagi Jemaah Umrah yang Tertahan di Saudi

- Komisi VIII DPR memastikan tidak ada lagi jemaah umrah Indonesia yang tertahan di Arab Saudi setelah penerbangan kembali normal pascaagresi militer Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran.
- Pemerintah diminta mengeluarkan maklumat baru agar calon jemaah menunda keberangkatan umrah, mengingat situasi Timur Tengah masih berisiko tinggi akibat konflik yang belum mereda.
- Lebih dari 17 ribu jemaah umrah telah kembali ke Tanah Air, sementara sebagian kecil masih menunggu jadwal kepulangan dengan pendampingan penuh dari pemerintah Indonesia.
Jakarta, IDN Times - Ketua Komisi VIII DPR, Marwan Dasopang mengatakan tak ada lagi jemaah umrah yang masih tertahan di Arab Saudi atau negara-negara transit imbas agresi militer yang dilakukan oleh Israel dan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran. Sebelumnya, berdasarkan Sistem Komputerisasi Pengelolaan Terpadu Umrah dan Haji Khusus (Siskopatuh) hampir 58 ribu jemaah umrah Indonesia masih berada di Arab Saudi.
Tetapi berdasarkan informasi terbaru, sejumlah maskapai kini mulai kembali melakukan penerbangan setelah sempat tertahan akibat agresi militer Israel dan AS ke Tehran pada Sabtu (28/2/2026).
"Gak ada (jemaah umrah tertahan di Saudi). Kan mereka sekarang sudah berani terbang," ujar Marwan ketika dikonfirmasi pada Sabtu (7/3/2026).
Ia menambahkan sebagian jemaah umrah kini telah kembali terbang dari Saudi ke Tanah Air. Berdasarkan catatan dari Kementerian Haji dan Umrah, 14.796 jemaah umrah sudah kembali ke Tanah Air. Angka itu merupakan akumulasi jumlah jemaah umrah pada periode 28 Februari 2026 hingga 5 Maret 2026.
Sejumlah maskapai seperti Saudi Airlines, Lion Air dan Garuda Indonesia sudah mulai kembali melayani penerbangan. "Karena sudah mereka terbangkan setiap hari. Eskalasi belum bisa diprediksi seperti apa, mestinya pemerintah harus membuat langkah-langkah berikutnya," kata politisi dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu.
1. DPR harap pemerintah keluarkan imbauan soal penyelenggaraan umrah

Lebih lanjut, Marwan berharap pemerintah harus mengeluarkan maklumat baru bagi para jemaah yang masih memaksa untuk melakukan ibadah umrah. Sebab, serangan militer Israel dan AS ke Iran diprediksi akan berlangsung lama.
"Makanya tadi pemerintah harus membuat maklumat baru selain maklumat yang kemarin yang mengimbau tidak berangkat, nyatanya kan tetap ada yang berangkat. Kalau sudah berangkat langkah-langkahnya apa," kata Marwan.
Sebelumnya, Kementerian Haji dan Umrah sudah mengimbau calon jemaah umrah yang dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci dalam waktu dekat, untuk menunda keberangkatannya seiring dengan kondisi di Timur Tengah yang masih terdampak konflik serangan ke Iran. Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak menegaskan imbauan tersebut merupakan bentuk kehati-hatian pemerintah dalam memastikan keamanan warga negara.
"Mempertimbangkan kondisi Timur Tengah yang tidak menentu dan eskalasinya semakin tinggi, kami mengimbau jemaah umrah yang akan berangkat dalam waktu dekat untuk menunda keberangkatannya," ujar Dahnil di dalam keterangannya pada Minggu (1/3/2026).
2. Penyelenggaraan ibadah haji 2026 belum terdampak

Ketika ditanyakan apakah konflik geopolitik di Timur Tengah akan berdampak pada penyelenggaraan ibadah haji 1447 Hijriah, Dahnil menyebut hingga saat ini persiapan masih terus berjalan. Seluruh tahapan perencanaan dan koordinasi, kata Dahnil, tetap berlangsung sesuai jadwal.
"Kami berharap kondisi segera normal. Pemerintah akan terus memantau perkembangan dan mengambil langkah yang diperlukan demi keselamatan serta kenyamanan jemaah," ujarnya.
Selain itu, pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi. Seluruh pihak diminta merujuk pada sumber resmi pemerintah guna menghindari kesimpangsiuran informasi yang dapat menimbulkan keresahan.
3. 17.000 jemaah umrah telah pulang ke Tanah Air

Sementara, berdasarkan data dari Kementerian Haji dan Umrah pada periode 28 Februari 2025 hingga 5 Maret 2026 sudah ada 14.796 jemaah umrah yang terpantau telah kembali ke Tanah Air. Staf Teknis Haji pada Kantor Urusan Haji Jeddah, M Ilham Effendy mengatakan pihaknya baru saja mendampingi 2.735 jemaah yang menyusul kepulangan ke Indonesia. Menurut dia, seluruh penerbangan yang dipantau pada Kamis kemarin dilaporkan berjalan sesuai dengan jadwal keberangkatan.
Dengan demikian total jemaah yang sudah pulang ke Indonesia mencapai lebih dari 17 ribu orang. Selain para jemaah yang kembali ke Tanah Air, Kemenhaj juga mencatat jemaah yang baru melakukan keberangkatan ke Arab Saudi. Total terdapat 352 jemaah umrah Indonesia yang tiba dan terpantau oleh petugas di bandara pada hari yang sama.
Sementara, tercatat ada 158 jemaah umrah masih tertahan dalam proses kepulangan. Mereka saat ini berada di dua lokasi, yaitu di Kota Jeddah dan Kota Mekkah, menunggu penjadwalan ulang penerbangan sesuai dengan pengaturan maskapai dan penyelenggara perjalanan.
Ilham pun mengimbau jemaah yang masih tertahan agar terus berkoordinasi dengan berbagai pihak. Dia memastikan jemaah tetap mendapat pendampingan dari pemerintah. "Kami memastikan seluruh jemaah tetap mendapatkan pendampingan serta pelayanan yang diperlukan hingga dapat kembali ke Tanah Air dengan aman," ujar Ilham.


















