Konflik Israel-Iran, Puan Desak RI Konsisten di Jalur Bebas Aktif

- Puan Maharani menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran, yang tewas dalam serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel.
- DPR RI menegaskan pentingnya peran hukum serta lembaga internasional dalam menjaga perdamaian dunia dan kedaulatan negara di tengah konflik global yang semakin kompleks.
- Iran menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari dan tujuh hari libur umum untuk menghormati kepergian Khamenei di tengah meningkatnya eskalasi konflik Timur Tengah.
Jakarta, IDN Times - Ketua DPR RI, Puan Maharani, menyoroti ketegangan di kawasan Timur Tengah, yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran yang semakin memburuk.
Menurut Puan, aksi militer yang terjadi saat ini telah melampaui batas penghormatan terhadap kedaulatan sebuah negara. Ia menilai eskalasi tersebut mencerminkan kegagalan sistem keamanan global dalam menjaga keseimbangan kepentingan antarnegara.
"Penggunaan kekuatan militer yang saat ini terjadi, telah mengabaikan prinsip penghormatan terhadap kedaulatan negara, memperlihatkan dominasi negara tertentu atas negara lain, mengabaikan peran lembaga multilateral dalam mencegah konflik yang lebih luas," kata Puan di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (10/3/2026).
1. Puan minta PBB jangan tinggal diam

Lebih lanjut, Puan mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tidak tinggal diam. Ia meminta lembaga internasional tersebut segera mengambil langkah konkret, demi melindungi warga sipil dan menjaga stabilitas dunia.
Ketua DPP PDIP itu menegaskan, DPR berkomitmen untuk mendukung penuh setiap inisiatif diplomasi—baik bilateral maupun multilateral—untuk mendorong semua pihak menahan diri.
"DPR RI mendesak PBB untuk segera bertindak menjaga penghormatan terhadap hukum internasional. Kita butuh komitmen bersama untuk menjaga perdamaian agar eskalasi ini tidak meluas menjadi konflik global yang tak terkendali," kata dia.
2. Pemerintah harus konsisten di jalur bebas aktif

Lebih jauh, Puan mendorong pemerintah untuk tetap konsisten pada jalur politik luar negeri bebas aktif. Ia menegaskan, Indonesia sebagai negara yang menjunjung tinggi prinsip kemerdekaan dan perdamaian abadi, diharapkan mampu berperan konstruktif di tengah dinamika geopolitik yang kian memanas.
"Pemerintah harus terus menjalankan politik luar negeri yang bijaksana dan konsisten dalam menjaga kepentingan nasional, sekaligus merespons dinamika global secara konstruktif," kata dia.
3. Prabowo ingin jadi mediator Iran-Israel

Presiden Prabowo Subianto menawarkan diri menjadi mediator terkait perang Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Hal ini dinyatakan dalam pernyataan Kementerian Luar Negeri RI.
“Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Presiden Republik Indonesia, menyampaikan kesiapan untuk memfasilitasi dialog bagi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif dan apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia untuk bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi,” kata Kemlu RI di akun X @Kemlu_RI, Sabtu, 28 Februari 2026.
Dalam pernyataan tersebut, Indonesia kembali menekankan pentingnya menghormati kedaulatan dan integritas wilayah setiap negara, serta menyelesaikan perbedaan melalui cara damai.
Diketahui, eskalasi meningkat di kawasan Timur Tengah, menyusul adanya perang terbuka antara Iran, Israel, dan AS. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan militer pada Minggu, 1 Maret 2026 pagi.
Khamenei tewas terbunuh di kantornya saat melakukan tugasnya. Iran menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari, serta tujuh hari libur umum.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menulis di platform Truth Social bahwa Khamenei terbunuh dalam serangan yang dimulai pada Sabtu dini hari.
"Ia tidak mampu menghindari sistem intelijen dan pelacakan canggih milik AS dan Israel," tulis Trump, dikutip Al Jazeera, Minggu, 1 Maret 2026.

















