Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

KPAI Soroti Harga Air Mineral Mahal, Desak Cukai Minuman Manis

KPAI Soroti Harga Air Mineral Mahal, Desak Cukai Minuman Manis
ilustrasi air putih vs minuman manis (pexels.com/yaroslavshuraev)
Intinya Sih
Gini Kak
  • KPAI menyoroti paradoks harga air mineral yang lebih mahal dibanding minuman manis murah, membuat anak-anak lebih mudah mengonsumsi gula berlebih sejak usia dini.

  • Data SKI 2023 menunjukkan 50 persen anak usia 3–14 tahun minum minuman manis setiap hari, memicu risiko obesitas, anemia, dan karies gigi.

  • Lemahnya pengawasan di ruang publik serta budaya praktis memperkuat kebiasaan anak mengonsumsi minuman kemasan, sehingga KPAI dorong intervensi kebijakan dan perubahan pola konsumsi keluarga.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Jasra Putra, menyoroti paradoks harga minuman di Indonesia yang dinilai memperburuk kondisi kesehatan anak. KPAI juga mendesak penerapan cukai Minuman Berpemanis Dalam Kemasan (MBDK) sebagai solusi strategis jangka panjang.

“Terdapat ironi di lapangan, di mana air putih terkesan lebih mahal, sementara es teh manis dan minuman berpemanis, atau sajian kemasan pabrikan sangat murah, bahkan ada yang dijual mulai dari Rp500 hingga Rp1.000, sehingga sangat mudah dijangkau uang jajan anak," kata dia kepada IDN Times, dikutip Senin (27/4/2026).

1. Sebanyak 50 persen anak konsumsi minuman manis lebih dari sekali setiap hari

KPAI Soroti Harga Air Mineral Mahal, Desak Cukai Minuman Manis
Wakil Ketua KPAI Jasra Putra (Dok/Istimewa)

Menurut Jasra, kondisi ini mendorong anak-anak lebih memilih minuman manis dibandingkan air putih, akibat strategi industri yang agresif dalam memasarkan produk murah dan menarik secara visual. Fenomena tersebut berdampak langsung pada meningkatnya konsumsi gula sejak usia dini.

Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan 50 persen anak usia 3-14 tahun mengonsumsi minuman manis lebih dari satu kali setiap hari.

2. Peningkatan kasus obesitas hingga masalah gigi

KPAI Soroti Harga Air Mineral Mahal, Desak Cukai Minuman Manis
Ilustrasi sekolah dasar. (ANTARA FOTO/Fauzan)

Maka itu, KPAI menilai, dampak pada kesehatan terlihat jelas dengan meningkatnya kasus obesitas, anemia, hingga karies gigi pada anak.

“Makanan dan minuman ini dirancang dengan visual yang sangat menarik bagi anak-anak, sarat pemanis buatan, pengawet, dalam berbagai bentuk kemasan baik padat maupun cair dan penyedap yang kuat," ujar Jasra.

Jasra juga menyoroti lemahnya pengawasan di luar rumah, meski konsumsi di rumah dapat dikontrol, anak tetap bebas membeli jajanan di lingkungan sekitar.

“Di sana juga jarang sekali ya hadir pengawasan, sehingga perlu peran aktif RT RW di tingkat masyarakat yang paling bawah, dalam ikut melakukan pengawasan,” kata dia.

3. KPAI desak penerapan cukai minuman manis

KPAI Soroti Harga Air Mineral Mahal, Desak Cukai Minuman Manis
Ilustrasi minuman manis populer. (pexels.com/Sóc Năng Động)

Merespons situasi tersebut, KPAI mendesak pemerintah segera menerapkan cukai MBDK sebagai langkah konkret menekan dampak kesehatan jangka panjang.

“Penerapan Segera Cukai MBDK bahwa Kenaikan cukai MBDK sebesar 20 persen diproyeksikan dapat menekan 1,3 juta angka kematian dalam 10 tahun ke depan. Cukai ini bukan sekadar instrumen fiskal, melainkan bentuk investasi wajib untuk perlindungan SDM masa depan," katanya.

Jasra menambahkan, konsumsi gula berlebih tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga perilaku anak.

“Dampak dari konsumsi gula berlebih ini mempengaruhi perilaku keseharian. Anak yang kecanduan rasa manis pabrikan cenderung kehilangan kepekaan rasa dan menolak asupan makanan lainnya," ujar Jasra.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Rochmanudin Wijaya
EditorRochmanudin Wijaya
Follow Us

Related Articles

See More