Langkah Baru ASN Ikut Komcad, dari Meja Kerja ke Latihan Militer

Sebanyak 2.019 ASN dari 49 kementerian resmi dilepas mengikuti program Komponen Cadangan, sebagai bagian dari gelombang pertama pelatihan dasar militer yang digelar Kementerian Pertahanan dan TNI.
Peserta seperti Suherlan dan Maulidia melihat program ini sebagai kesempatan langka untuk menumbuhkan disiplin, memperkuat karakter, serta menyalurkan semangat pengabdian di luar rutinitas kerja ASN.
Pelatihan mencakup tes jasmani, psikologi, ideologi, hingga pembekalan karakter dan pengetahuan dasar senjata guna membentuk ASN yang lebih tangguh, berjiwa korsa, dan siap menghadapi tantangan nasional.
Jakarta, IDN Times — Senin (13/4/2026) pagi di kawasan Monas terasa berbeda. Barisan Aparatur Sipil Negara (ASN) berdiri rapi, mengenakan semangat baru yang tak biasa. Di antara riuh suara komando dan pengumuman, ada harapan-harapan kecil yang diam-diam tumbuh tentang disiplin, tentang pengabdian, dan tentang menjadi versi diri yang lebih kuat.
Di hari itu, langkah mereka bukan sekadar mengikuti upacara calon Komponen Cadangan (Komcad). Lebih dari itu, ini adalah awal perjalanan—yang bagi sebagian orang, terasa seperti panggilan.
1. Dari rasa penasaran, tumbuh keinginan Jadi lebih disiplin

Suherlan Maulana (35), ASN Kementerian Sosial dari Kabupaten Sukabumi, mengaku awalnya ikut Komcad hanya diliputi rasa penasaran. Baginya, kesempatan mengikuti latihan militer sebagai Komcad adalah sesuatu yang tak biasa.
“Pertama mengajukan diri karena sangat menarik ya ada Komcad latihan militer. Penasaran aja, mudah-mudahan ini menjadi pribadi yang lebih disiplin lagi di dalam bekerja, gitu aja lah,” kata dia saat ditemui usai upacara di lokasi.
Keikutsertaannya pun bukan tanpa persiapan. Ia mendaftar melalui mekanisme resmi di kementerian dan kini telah mendapatkan surat tugas. Untuk sementara, pekerjaan hariannya diserahkan kepada timnya.
“Sama rekan-rekan yang lain, tim. Tim dari kabupaten dan kecamatan masing-masing,” katanya.
Bagi Suherlan, ini bukan sekadar jeda dari rutinitas, melainkan jeda untuk bertumbuh. Ia berharap, jika nanti lolos seluruh tahapan, pengalaman ini bisa membentuknya menjadi ASN yang lebih tepat waktu dan berdisiplin tinggi.
2. Kesempatan sekali seumur hidup dan rindu yang terobati

Di sisi lain, Maulidia Fatima Latifa Nisa (24), CPNS dari Kementerian Ekonomi Kreatif, melihat Komcad sebagai peluang langka yang tak ingin ia lewatkan.
“Kalau untuk saya pribadi, jujur karena saya ngelihat ini tuh kesempatan sekali seumur hidup ya. Karena belum semua pasti kebagian,” tuturnya.
Kecintaannya pada aktivitas luar ruang juga menjadi alasan tersendiri. Ia mengaku sering mendaki gunung sebelum menjadi ASN—kegiatan yang kini sulit dilakukan karena kesibukan kerja.
“Jadi pas ada kegiatan Komcad ini saya dengan senang hati ikut, gitu. Kayak ngobatin rindu, gitu,” ucapnya sambil tersenyum.
Meski begitu, ia tetap memastikan tanggung jawabnya di kantor berjalan. Sejak sebulan lalu, Maulidia sudah menyiapkan proses alih tugas kepada rekan-rekannya, lengkap dengan panduan kerja.
“Jadi tujuannya agar ketika saya pergi, masih ada rekan kerja yang melanjutkan pekerjaan saya, seperti itu,” katanya.
3. Di balik seragam, ada doa dan dukungan keluarga

Di balik langkah mantap para peserta, terselip cerita keluarga yang tak kalah menguatkan. Suherlan, yang telah berkeluarga dan memiliki anak, mengaku mendapat dukungan penuh dari rumah.
“Sangat mendukung, keluarga sangat mendukung, sangat antusias. Tidak ada hambatan dan tidak ada permasalahan apa-apa,” ujarnya.
Sementara itu, Maulidia merasakan campuran emosi dari orang tuanya. Sang ibu sempat diliputi kekhawatiran, bahkan tak bisa tidur karena cemas. Namun di sisi lain, ayahnya justru memberi semangat penuh.
“Kalau bapak saya, ‘Semangat, Mbak!’ kayak gitu. Jadi didukung, gitu,” katanya.
Kini, keduanya bersiap menghadapi serangkaian seleksi, mulai dari tes jasmani hingga psikologi. Jika lolos, mereka akan menjalani pelatihan intensif selama 45 hari—tanpa jeda, tanpa pulang.
Di bawah langit Jakarta yang mulai beranjak siang, langkah-langkah itu terus bergerak. Mungkin berat, mungkin melelahkan. Tapi di sanalah, harapan-harapan kecil itu ditempa—menjadi lebih kuat, lebih disiplin, dan lebih siap mengabdi.
Untuk diketahui, pemerintah resmi melepas sebanyak 2.019 calon Komcad ASN dari 49 kementerian/lembaga.
Kabacadnas Letjen TNI, Gabriel Lema menjelaskan, ribuan ASN ini sudah dinyatakan lulus tahap awal seleksi berupa administrasi dan kesehatan. Kemudian mereka dikirim ke enam lembaga pendidikan untuk mengikuti tes psikologi, ideologi, dan jasmani.
"Hari ini dipandang perlu untuk kita melakukan kegiatan secara kolaboratif bersama seluruh kementerian, ada 49 kementerian/lembaga, dalam rangka untuk memastikan kesiapan sesuai rencana di program gelombang pertama ini, diberangkatkan ke enam Lemdik yang sudah disiapkan oleh Kemhan dan jajaran TNI," kata dia di lokasi.
Gabriel menjelaskan, total ada sekitar 4.000 ASN yang mengikuti komcad pada tahun ini. Dengan rincian terbagi menjadi dua gelombang.
"Kemudian sudah direncanakan tahun ini, 4.000 ASN yang akan disiapkan, yang sudah kita petakan pendidikannya dilalui dengan dua gelombang. Tiap gelombang 2.000. Sehingga ini gelombang pertama selesai nanti kita akan siapkan di pertengahan tahun menuju ke akhir tahun 2.000 lagi," tuturnya.
Gabriel memaparkan, para peserta akan diberikan pembekalan kurikulum terkait pelatihan dasar militer. Salah satunya mengenai pendidikan karakter agar ASN lebih peduli, disiplin, dan memiliki jiwa korsa.
"Terkait dengan materi, saya kira kita secara basic Kementerian Pertahanan ini dalam pelaksanaan pembentukan Komcad sudah mempunyai perangkat ataupun kurikulum dalam konteks Latsarmil. Ya konsep dalam konteks yang sederhana saja, bagaimana kita membangun kepedulian, karakter itu dimulai dengan sehati, mengerti tentang tugas, kemudian kepedulian, pembentukan jiwa korsa," tuturnya.
"Kemudian dalam rangka untuk memantapkan jiwa disiplin, kita tahu dalam pelaksanaan pendidikan nanti latihan, sederhana bagaimana mereka dengan suatu kurikulum yang sudah ditata dari waktu ke waktu, ini menuntut disiplin waktu, disiplin kegiatan. Dan lebih jauh daripada itu, bagaimana ketahanan mental mereka ini yang harus disiapkan," sambungnya.
Gabriel menuturkan, semua profesi di jajaran kementerian punya bobot tugas negara yang berbeda-beda, namun kewajiban itu harus dimatangkan melalui pendidikan karakter dan mental.
"Di samping itu juga, bagaimana model penyelesaian suatu permasalahan, problem solving ini yang paling penting. Tidak secepatnya menanggapi sesuatu itu dalam konteks sesuai dengan pemikiran sebatas pribadi, tapi bagaimana membentuk kolaborasi kelompok bahkan unit sampai dengan satuan hubungan kementerian," ungkap dia.
Lebih lanjut, Gabriel juga menyebut, ASN akan diajarkan mengenai pengetahuan dasar operasional senjata. Mereka mendapat pelatihan menembak terbatas.
"Iya (operasi senjata diajarkan) , pengetahuan dasar. Jadi kurikulum sudah diatur kaitan dengan nuansa yang bersifat militer, itu bersifat pengetahuan. Pengetahuan terbatas ya, senjata juga demikian. Karena mereka pun nanti harus melaksanakan latihan menembak terbatas. Tentunya pengetahuan senjata juga demikian," imbuhnya.


















