Mahfud Bongkar Hubungan Tak Akur Polri-Kejaksaan, Pernah Ingatkan Prabowo

- Mahfud MD menilai kasus korupsi Febrie Ardiansyah membuka konflik lama antara Polri dan Kejaksaan yang selama ini bersaing, bukan bersinergi, dalam penegakan hukum.
- Mahfud mengungkap Kapolri dan Jaksa Agung sering enggan hadir bersama di rapat koordinasi, sehingga ia harus mendatangi masing-masing kantor untuk menyamakan pandangan penyelesaian perkara.
- Sebelum Prabowo dilantik, Mahfud sudah memperingatkan potensi konflik Polri-Kejaksaan yang kini memuncak akibat perebutan kepentingan tidak etis di antara kedua institusi tersebut.
Jakarta, IDN Times - Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD, menilai kasus korupsi yang menjerat mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Febrie Ardiansyah, turut membuka persaingan yang selama ini terjadi antara Kepolisian RI (Polri) dan Kejaksaan Agung.
Dalam podcast di akun YouTube pribadinya, Mahfud MD Official, Mahfud mengaku sudah melihat persaingan antara Kejaksaan dan Polri. Ia menyebut, situasi yang terjadi saat ini sebagai puncak dari persaingan kedua institusi penegak hukum tersebut
"Dan ini yang terjadi sekarang antara kejaksaan dan kepolisian. Karena sejak dulu keduanya ini ya memang ndak mau rukun, sepertinya bersaing, bukan bersinergi. Nah, itu yang terjadi dengan Kejaksaan sehingga pada akhirnya meletus seperti sekarang ini," kata Mahfud dalam podcast yang dikutip Senin (13/7/2026).
1. Mahfud sebut Kejaksaan dan Polri sulit bertemu

Lebih lanjut, Mahfud mengatakan, persaingan antara Polri dan Kejaksaan bukan persoalan baru. Menurutnya, konflik serupa sudah beberapa kali terjadi, tetapi tidak sampai mencuat ke publik karena berhasil ditutupi.
"Gak bisa dihindari. Dulu sudah sering terjadi kayak ini tapi ditutup-tutupi," lanjut Mahfud.
Mahfud menyebut, dalam konferensi pers, kedua kepala institusi tersebut memang terlihat hadir bersama. Namun, situasinya berbeda dalam rapat terbatas di tingkat Menko. Menurutnya, Kapolri dan Jaksa Agung kerap enggan bertemu dalam satu forum untuk membahas suatu perkara.
“Datang semua, kan? Sering konferensi pers bersama. Semua menteri, Panglima TNI, Kapolri-nya kan sama waktu itu. Semua datang, tetapi itu pada momen-momen resmi, tapi kalau di dalam rapat terbatas, kalau di tingkat Menko memang Kapolri dan Jaksa Agung tuh ndak pernah mau ketemu,” ujar dia.
2. Mahfud mengaku mendatangi kantor Kapolri dan Jaksa Agung satu per satu

Mahfud mengaku, perbedaan keinginan antara Polri dan Kejaksaan dalam menangani suatu perkara membuat Kapolri dan Jaksa Agung kerap enggan menghadiri rapat bersama. Menurutnya, kondisi itu menyebabkan rapat koordinasi sulit menghasilkan keputusan di tingkat tinggi.
“Mereka pasti berbeda kalau membahas satu kasus itu, keinginannya berbeda. Sehingga kalau diundang rapat, mereka ndak datang,” ucap Mahfud.
Oleh karena itu, Mahfud mengaku memilih mendatangi langsung kantor Kepolisian dan Kejaksaan Agung untuk menyamakan pandangan dalam penyelesaian sejumlah perkara sebagai Menko. Sehingga beberapa perkara tersebut dapat diselesaikan.
“Tapi saya kan tidak terlalu bodoh juga, kan saya datangi itu kantornya. Meskipun saya Menko, saya datang berkali-kali ke kantor Kejaksaan Agung, saya dateng berkali-kali ke kantor Kapolri bahwa saya punya pandangan begini sebagai Menko,” lanjut dia.
3. Mahfud sempat ingatkan Prabowo soal konflik Polri dan Kejaksaan

Lebih lanjut, Mahfud menyebut, ia telah mengingatkan Presiden Prabowo Subianto mengenai potensi persoalan ini sebelum Prabowo dilantik sebagai presiden.
“Saya sudah ingatkan, ‘Pak, nanti Bapak akan kesulitan nanganin Kapolri dengan Jaksa Agung’ saya bilang gitu sebelum dia dilantik. Karena pengalaman saya, mereka ndak pernah mau ketemu dan biasanya ada permainan-permainan di bawah mereka yang bergejolak ini, macam-macam,” lanjut Mahfud.
Menurutnya, kedua institusi ini diduga saling memperebutkan kepentingan yang tidak etis sehingga perseteruan tersebut akhirnya “meledak” saat ini.
“Jadi keduanya ini sepertinya saling berebut sesuatu yang tidak etis. Sekarang meledak, sudah saya bilang kan, ini pertentangan antara kejahatan melawan kejahatan dilakukan oleh institusi sekarang meledak,” ucap Mahfud.














