Mahfud: Pemilu Sudah Selesai, yang Menang Harus Diakui

- Mahfud MD mengingatkan publik bahwa pemilu presiden 2024 sudah selesai, pihak yang kalah harus mengakui presiden dan wakil presiden terpilih.
- Mahfud ajak masyarakat untuk menebalkan rasa nasionalisme dan tetap mencintai Tanah Air Indonesia pada perayaan Tahun Baru Islam.
Jakarta, IDN Times - Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Mahfud MD mengingatkan publik bahwa pemilu presiden 2024 sudah selesai, sehingga presiden dan wakil presiden (cawapres) terpilih harus diakui. Mahfud pun meminta publik untuk tidak lagi marah-marah.
"Pemilu kan sudah selesai. Yang menang harus diakui. (Yang kalah) jangan marah-marah melulu. Gak bisa begitu. Itu tidak berkeadaban namanya," ujar Mahfud ketika memberikan tausiyah di puncak Gebyar Hijiriah di Masjid Istiqlal, dikutip dari keterangan tertulis pada Minggu (7/7/2024).
Dalam perayaan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1446 Hijriah itu, Guru Besar Ilmu Hukum tersebut mengajak masyarakat untuk menebalkan rasa nasionalisme dan tetap mencintai Tanah Air Indonesia.
"Untuk umat Islam Indonesia, mari jadikan 1 Muharram ini sebagai kontemplasi membangun nasionalisme, rasa cinta dan merawat serta membela Indonesia sebagai sebuah negara merdeka yang berketuhanan dan berkeadilan melalui persatuan atas seluruh pulau dan suku-sukunya yang multikultural," tuturnya.
1. Pihak yang kalah pemilu harus akui pemenang dan membangun peradaban

Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Mahfud MD ketika memberikan ceramah di Masjid Istiqlal dalam rangka acara Tahun Baru Islam Muharram. (Dokumentasi tim media Mahfud) Lebih lanjut Mahfud menegaskan bahwa pihak yang kalah harus mengakui presiden dan wakil presiden terpilih. Lalu, kembali melanjutkan untuk membangun peradaban.
"Apapun variasi yang mendekati, maka kita lanjutkan dengan membangun peradaban," ujar mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu.
Lagipula, kata Mahfud, pemilu merupakan salah satu bentuk keadaban manusia dalam membangun pemerintahan.
2. Mahfud pilih kembali ke kampus usai kalah pemilu 2024

Guru besar hukum tata negara dari Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. (Tangkapan layar YouTube Mahfud MD) Dalam pidatonya di Universitas Islam Indonesia (UII), Mahfud mengatakan sempat dongkol dengan putusan sengketa hasil pilpres di MK. Tetapi, ia memilih untuk move on dan kembali mengajar di kampus UII.
"Bahwa kalau keputusan hakim sudah inkracht ya sudah melanglang ke tempat lain, move on!" ujar Mahfud seperti dikutip dari YouTube UII pada awal Mei 2024 lalu.
Dalam pandangan Mahfud, perasaan tidak puas terhadap hasil pemilu 2024 tak bisa dipendam terlalu lama. Sebab, bila situasi itu dibiarkan maka pengelolaan negara tidak akan berjalan.
"Jangan ribut lagi kalau sudah diputus. Meskipun dongkol (terhadap isi putusan), tapi, jangan ribut lagi karena seandainya kita yang menang, orang lain ribut. Lalu, sudah diputus (MK) masih ribut lagi, nanti gak selesai-selesai. Negara ndak jalan," tutur dia.
Bahkan, dia sempat menertawakan dirinya sendiri ketika mengenang rekam jejaknya sebagai pejabat publik. Ia mengaku memulai karier dari dunia kampus.
"Saya melanglang buana di Jakarta, pindah dari satu institusi ke institusi lain. Dari menteri lalu menteri lagi, lalu DPR, Ketua MK, lalu ke Badan Pengarah Ideologi Pancasila, lalu kembali jadi menteri lagi, lalu ikut pilpres kalah. Ya, kalah sudah kalah kan?" kata Mahfud sambil tertawa.
3. Mahfud merasa kalah dalam pilpres 2024 secara terhormat

Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Mahfud MD. (Dokumentasi tim media Mahfud MD) Sementara ketika berbicara di program Deddy Corbuzier, Mahfud mengisahkan pada 15 Februari 2024 lalu, ia menemui Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri di kediamannya. Ketika itu, paslon Ganjar-Mahfud diprediksi kalah berdasarkan hasil hitung cepat.
Dalam pertemuannya dengan Mega, Mahfud mengaku merasa terhormat karena dipilih untuk menjadi calon wakil presiden dan mendampingi Ganjar Pranowo.
"Saya katakan, 'Bu, saya tidak tahu apakah kita akan menang atau tidak pada penghitungan terakhir. Tetapi, Bu, saya merasa berterima kasih dan terhormat, lepas dari apapun hasilnya, Ibu mempercayai saya dan menunjukkan jati diri Ibu, tidak mencari uang dari proses politik ini'. Saya katakan ke Bu Mega tidak apa-apa kalah, meski kalah saya tetap merasa terhormat," ujar Mahfud menirukan kalimatnya di depan Mega.
Sementara, Mega mengakui menunjuk Mahfud karena ia memiliki rekam jejak panjang dalam hal penegakan hukum. Ketika ditanya apakah sikap akhir PDIP bakal berada di luar pemerintahaan, ia mengaku tidak tahu. Namun, ia menyebut sikap di internal PDIP pun terpecah.
Meski begitu, Mahfud menahan diri untuk ikut mengomentari urusan internal di parpol berlambang banteng hitam dan moncong putih itu.
"Kalau saya berpendapat tidak boleh karena saya kan bukan anggota (PDIP), apalagi pengurus," katanya.





















