Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Mangkunegara X Ungkap Dampak Ekonomi Upacara Malam 1 Sura US$4,5 Juta

Mangkunegara X Ungkap Dampak Ekonomi Upacara Malam 1 Sura US$4,5 Juta
COO & Founder IDN William Utomo (kiri), dan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPA) Mangkunagara X (kanan) di WEF ke-17 Dalian, China yang berlangsung 23-26 Juni 2026. (IDN Times/William Utomo)
Intinya Sih
Gini Kak
  • Mangkunegara X menegaskan upacara Malam 1 Sura di Solo menciptakan dampak ekonomi lebih dari USD 4,5 juta, membuktikan budaya dapat menjadi infrastruktur sosial dan ekonomi yang produktif.
  • Ekonomi kreatif Indonesia menyerap sekitar 27,4 juta tenaga kerja dan berkontribusi besar pada pariwisata nasional, menunjukkan potensi budaya sebagai sumber nilai ekonomi dan kepercayaan diri bangsa.
  • Di tengah kemajuan AI, Mangkunegara X menyoroti bahwa keaslian budaya sulit ditiru sehingga menjadi aset penting bagi kota dan negara untuk menarik talenta serta memperkuat identitas ekonomi masa depan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPA), Mangkunagara X mengungkapkan, upacara Pergantian Tahun Jawa Sura, mampu menggerakkan dampak ekonomi lebih dari 4,5 juta dolar Amerika Serikat (AS) dalam tiga hari.

Menurut dia, fakta ini sekaligus menantang paradigma konvensional pembangunan yang kerap menempatkan budaya sebagai beban anggaran atau kegiatan pelestarian semata.

Hal ini disampaikan Mangkunegara X dalam hub session bertajuk “Catching Asia’s Beat” di World Economic Forum Annual Meeting of the New Champions (WEF AMNC) 2026, di Dalian, China, Rabu (24/6/2026). Hadir juga dalam sesi ini, Menteri Pengembangan Digital, Inovasi dan Komunikasi Pemerintah Mongolia, Nomin Chinbat.

"(Budaya) bukan infrastruktur fisik, melainkan infrastruktur sosial. Budaya menciptakan kepercayaan, memperkuat identitas, dan membangun kohesi sosial. Dan pada waktunya, budaya juga mendorong ketahanan ekonomi," kata Mangkunegara X.

1. Warisan budaya bukan sekadar warisan melainkan infrastruktur ekonomi

WEF ke-17 Dalian
WEF ke-17 Dalian berlangsung 23-26 Juni 2026. (IDN Times/William Utomo)

Mangkunegara X mengawali sesi diskusi tersebut dengan sebuah gagasan strategis bahwa warisan budaya adalah infrastruktur ekonomi bukan sekadar objek pelestarian. Keunggulan kompetitif Asia pada abad ini, menurut dia, akan ditentukan oleh kemampuan bagaimana mengubah modal budaya menjadi nilai ekonomi yang berkelanjutan.

Pura Mangkunegaran di Solo menjadi model nyata dari prinsip yang ia sampaikan. Institusi yang tahun ini genap berusia 269 tahun lebih dari tiga kali usia Republik Indonesia mencatat lebih dari 120 ribu kunjungan pada 2024. Selain itu, ia mencontohkan warisan nomadik di Mongolia yang telah berusia ribuan tahun dapat dipadukan secara organik dengan pembangunan bangsa modern.

Kedua tokoh juga bicara bahwa bangsa-bangsa Asia yang mewarisi peradaban panjang dapat memanfaatkan keunikan budayanya sebagai landasan kepercayaan diri kolektif, bukan beban masa lalu. Mongolia, Korea Selatan, dan Jepang sebagai cermin bagi Asia tentang sebuah identitas budaya dapat dikonversi menjadi keunggulan ekonomi yang berkelanjutan.

2. Ekonomi kreatif Indonesia sumbang 27,4 juta tenaga kerja

WEF ke-17 Dalian
WEF ke-17 Dalian berlangsung 23-26 Juni 2026. (IDN Times/William Utomo)

Mangkunegara X juga menyoroti Asia sedang mengalami pergeseran fundamental, dari kompetisi berbasis skala dan efisiensi menuju kompetisi berbasis nilai, identitas, dan kekhasan. Argumentasinya ditopang dengan data konkret tentang Indonesia.

Pada 2025, ekonomi kreatif Indonesia menyerap hampir 27,4 juta tenaga kerja, atau sekitar 18,7 persen dari total angkatan kerja nasional. Sektor pariwisata diproyeksikan menyumbang lebih dari Rp1.800 triliun setiap tahunnya bagi perekonomian Indonesia dalam satu dekade ke depan, sekaligus menyokong lebih dari 12 juta lapangan kerja.

UNESCO telah mengakui 13 elemen Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Mangkunegara X memaknai ini bukan hanya sebagai tradisi, melainkan kekayaan intelektual dan identitas yang semakin memiliki dimensi ekonomi.

"Nilai ekonomi terbesar dari budaya bukanlah pendapatan pariwisata. Nilai terbesar itu adalah kepercayaan diri. Karena budaya memberi manusia pemahaman tentang siapa diri mereka. Dan ketika seseorang tahu siapa dirinya, ia menjadi lebih berani membayangkan dirinya bisa menjadi siapa," kata Mangkunegara X.

3. Budaya sulit direplikasi di tengah gempuran AI

WEF ke-17 Dalian
WEF ke-17 Dalian berlangsung 23-26 Juni 2026. (IDN Times/William Utomo)

Mangkunegara X menyampaikan, pesatnya akal imitasi (AI) yang kian mendominasi, diferensiasi menjadi lebih bernilai daripada standardisasi. Ia menakankan, teknologi dapat disalin. Modal dapat berpindah. Infrastruktur fisik dapat dibangun ulang. Namun budaya, keaslian, dan kepercayaan jauh lebih sulit untuk direplikasi.

“Kota-kota yang menarik talenta adalah kota dengan identitas. Destinasi yang menarik wisatawan adalah destinasi yang memiliki cerita. Perekonomian yang mampu mempertahankan modal manusianya adalah perekonomian yang menawarkan makna dan rasa memiliki," kata dia.

Ia meyakini ekonomi paling kompetitif di masa depan bukan hanya menghasilkan kekayaan, melainkan secara bersamaan menghasilkan kepercayaan, makna, rasa memiliki, dan kepercayaan diri. Asia memiliki posisi unik untuk memimpin.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati

Related Articles

See More