Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Mengungkap Isi Diskusi Semeja Prabowo dan Muhammadiyah, PBNU, MUI

Mengungkap Isi Diskusi Semeja Prabowo dan Muhammadiyah, PBNU, MUI
Momen Presiden Prabowo Buka Puasa Semeja dengan Muhammadiyah, PBNU dan MUI (Instagram.com/@prabowo)
Intinya Sih
  • Presiden Prabowo mengundang pimpinan ormas Islam seperti Muhammadiyah, PBNU, dan MUI untuk buka puasa bersama di Istana, sambil berdiskusi soal kondisi global dan dampak perang Iran.
  • Dalam pertemuan itu, Prabowo menjelaskan perjanjian perdagangan timbal balik (ATR) dengan Amerika Serikat sebagai langkah menyeimbangkan hubungan dagang agar tetap saling menguntungkan.
  • Prabowo juga memaparkan kebijakan impor BBM dan kedelai dari Amerika Serikat sebagai bagian dari ATR guna menjaga tarif rendah serta daya saing produk Indonesia di pasar global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times -Presiden Prabowo Subianto mengundang ulama, pimpinan ormas Islam dan pondok pesantren buka puasa bersama di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (5/3/2026).

Saat buka puasa, Prabowo makan bersama satu meja dengan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, dan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Anwar Iskandar.

Menteri Agraria dan Tata Ruat/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, mengatakan sambil buka puasa, mereka berdiskusi terkait kondisi global hingga Board of Peace (BoP).

"(Diskusi soal bagaimana) kondisi global, kenapa Indonesia masuk BoP, bagaimana antisipasi dampak terhadap perang Iran. Jangan sampai perang Iran berdampak terhadap krisis yang ada di sini, baik itu krisis pangan maupun krisis energi," ujar Nusron di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta.

1. Bahas soal ATR

Mengungkap Isi Diskusi Semeja Prabowo dan Muhammadiyah, PBNU, MUI
Menteri Agraria dan Tata Ruat/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid (dok. IDN Times/Ilman Nafi'an)

Selain itu, Prabowo dan ulama juga membahas mengenai perjanjian perdagangan timbal balik atau agreement on reciprocal trade (ATR) dengan Amerika Serikat (AS). Prabowo menjelaskan tujuan dari kesepakatan tersebut.

"Dalam rangka untuk men-balancing perdagangan dan sebagainya. Yang di luar sana dianggap Indonesia tidak berdaulat, terlalu menguntungkan kepada Amerika dan sebagainya," kata dia.

2. ATR adalah win-win solution

Mengungkap Isi Diskusi Semeja Prabowo dan Muhammadiyah, PBNU, MUI
Menteri Agraria dan Tata Ruat/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid (dok. IDN Times/Ilman Nafi'an)

Menurutnya, ATR merupakan kesepakatan yang bisa saling menguntungkan bersama. Sebab, Indonesia juga sudah dianggap surplus dalam kerja sama dengan dagang dengan Amerika Serikat.

"Karena Indonesia dianggap surplus 24 miliar US Dollar terhadap perdagangan dengan Amerika. Daripada kita kena tarif tinggi, kalau kita kena tarif tinggi 32 persen, berarti produk-produk Indonesia di Amerika lebih mahal 32 persen. Karena itu supaya produk-produk Indonesia kompetitif di Amerika, itulah menjadi latar belakang kenapa Indonesia menerima Reciprocal Trade tersebut, agreement, ART," ucap dia.

3. Prabowo juga sampaikan terkait impor BBM dari Amerika

Mengungkap Isi Diskusi Semeja Prabowo dan Muhammadiyah, PBNU, MUI
Menteri Agraria dan Tata Ruat/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid (dok. IDN Times/Ilman Nafi'an)

Tak hanya itu, Presiden Prabowo juga menjelaskan adanya impor bahan bakar minyak (BBM) dari Amerika Serikat. Hal itu juga merupakan bagian dari ATR.

"Yang itu adalah impornya bukan impor barang baru. Sebetulnya selama ini udah impor BBM, sudah impor kedelai. Hanya selama ini impor BBM-nya ngambil dari negara Gabon, Nigeria, kemudian Timur Tengah, dipindahkan ngambil dari Amerika. Kemudian kedelai, selama ini ngambil kedelai dari Brazil sama dari Argentina, dipindahkan ngambil kedelai dari Amerika untuk dalam rangka mengurangi tarif dari Amerika ke Indonesia," ujar Nusron.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Rochmanudin Wijaya
EditorRochmanudin Wijaya
Follow Us

Latest in News

See More