Menkes Ungkap 173 RSUD Kekurangan 7 Dokter Spesialis Dasar

- Kemenkes mencatat 173 dari 514 RSUD belum memiliki lengkap tujuh spesialis dasar: penyakit dalam, anak, obgyn, bedah, anestesi, radiologi, dan patologi klinik.
- Di 66 kabupaten/kota tertinggal, peralatan cathlab telah dikirim tetapi belum tersedia dokter spesialis jantung maupun saraf untuk mendukung layanan jantung dan stroke.
- Pemerintah membuka seleksi 25 program PPDS berbasis rumah sakit, lalu berencana menambah 30 program spesialis mencakup bidang dasar, KJSU, dan prioritas.
Jakarta, IDN Times - Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, mengungkapkan banyak RSUD di Indonesia yang belum memiliki tujuh dokter spesialis dasar secara lengkap. Kondisi tersebut mendorong pemerintah mengembangkan pendidikan dokter spesialis berbasis rumah sakit atau hospital-based.
Budi mengatakan, tujuh spesialis dasar yang idealnya tersedia di rumah sakit terdiri dari dokter spesialis penyakit dalam, anak, obstetri dan ginekologi (obgyn), bedah, anestesi, radiologi, serta patologi klinik.
Namun, berdasarkan catatan Kementerian Kesehatan, masih terdapat 173 RSUD dari total 514 RSUD di Indonesia yang belum memiliki tujuh spesialis dasar tersebut secara lengkap.
"Masih banyak sekali yang tidak memiliki spesialis dasar, 173 RSUD dari 514. Kita sudah 81 tahun merdeka itu 7 spesialis dasar saja tidak lengkap," ujar Budi di dalam acara peluncuran seleksi program studi baru RSPPU dan serah terima PPDS batch 6 ke RSPPU, di Gedung Kemenkes, Kamis (3/9/2026).
1. Tidak ada spesialis jantung dan spesialis saraf di 66 kabupaten kota

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin meluncurkan seleksi program studi baru RSPPU, di Gedung Kemenkes, Kamis (3/9/2026) (IDN Times/Dini Suciatiningrum) Budi mengatakan persoalan kekurangan dokter spesialis terlihat ketika pemerintah membangun rumah sakit di daerah tertinggal untuk meningkatkan layanan penyakit jantung dan stroke.
Ia mengatakan, pemerintah mengirimkan sejumlah peralatan medis, termasuk catheterization laboratory (cathlab), ke 66 kabupaten/kota. Namun, daerah tersebut tidak memiliki dokter spesialis jantung maupun spesialis saraf.
"Begitu kita buka alatnya kita kirim, cathlab kita kirim itu 100 persen tidak ada spesialis jantung dan spesialis saraf di 66 kabupaten kota yang yang paling tertinggal. Jadi bayangkan Bapak Ibu kekurangannya ini luar biasa sekali," katanya
2. Buka 25 program baru

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin meluncurkan seleksi program studi baru RSPPU, di Gedung Kemenkes, Kamis (3/9/2026) (IDN Times/Dini Suciatiningrum) Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kemenkes Azhar Jaya mengatakan, sebagai bagian dari langkah tersebut, pemerintah pada tahap ini membuka seleksi 25 prodi baru PPDS berbasis rumah sakit.
"Pada tahap ini kita akan membuka seleksi untuk 25 program studi baru," ujar Azhar
3. Pengembangan pendidikan dokter spesialis berbasis rumah sakit akan diperluas

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat me-launching PPDS RSPPU di RS Anak dan Bunda Harapan Kita, Jakarta Barat, Senin (6/5/2025). (IDN Times/Dini Suciatiningrum) Azhar mengatakan, pengembangan pendidikan dokter spesialis berbasis rumah sakit akan kembali diperluas pada tahap berikutnya.
"Kita berharap nanti kita bisa buka lagi 30 program studi spesialis yang terdiri dari 13 prodi spesialis dasar, 13 prodi spesialis KJSU, dan empat prodi spesialis prioritas," kata Azhar.




















