Mensos Usul Bansos Ditambah Imbas Perang Timur Tengah

- Gus Ipul menilai perang di Timur Tengah bisa memicu inflasi dan menurunkan daya beli masyarakat, terutama bagi kelompok rentan pada Desil 1 hingga Desil 4.
- Ia mengusulkan penguatan bansos melalui top-up bantuan dan perluasan penerima sementara, dengan pembaruan data sebagai kunci mencegah lonjakan kemiskinan.
- Mensos meminta jajarannya siaga selama Lebaran untuk memastikan layanan bagi kelompok rentan tetap berjalan dan kesiapan logistik bantuan terjaga.
Jakarta, IDN Times- Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengungkapkan perang yang saat ini terjadi di Timur Tengah berisiko menimbulkan dampak sosial berupa inflasi dan penurunan daya beli masyarakat Indonesia. Gus Ipul menilai, kondisi tersebut bisa berdampak pada masyarakat kelompok rentan pada Desil 1 hingga Desil 4 DTSEN.
"Bisa jadi yang berada di Desil 5 turun ke Desil 4, 6 misalnya bisa turun. Kita belum bisa mengukur secara langsung," ucap Gus Ipul dalam keterangan, Minggu (22/3/2026).
1. Penerima bansos ada yang naik dan turun kelas

Menurut Gus Ipul akan ada satu proses yang mungkin membuat seseorang atau keluarga turun kelas. Namun pasti juga ada penerima bansos yang naik kelas.
"Tapi juga kita harus yakin dan bisa meyakini juga akan ada sebagian lagi yang naik kelas. Karena begitulah siklusnya," ungkap.
2. Data jadi kunci cegah lonjakan kemiskinan

Sehingga, Gus Ipul menyebut data menjadi kunci utama untuk mencegah lonjakan kemiskinan baru dan menahan kerentanan sosial. Menurutnya, dalam situasi krisis perlu adanya penguatan bansos di antaranya opsi top-up bantuan dan perluasan sementara penerima seperti BLTS.
"Data-data harus terus dimutakhirkan. Jangan sampai kita kedodoran ketika nanti ada top-up atau juga perluasan penerima sementara. Jadi saya minta ini betul-betul diantisipasi. Perkuat kolaborasi, perkuat langkah untuk merespon berbagai perkembangan yang ada di masyarakat," kata Gus Ipul.
3. Mensos perintahkan jajaran tetap siaga

Dalam kesempatan tersebut, Gus Ipul meminta jajarannya memperkuat kesiapsiagaan dan ketersediaan petugas piket saat Lebaran. Ia memerintahkan pejabat sentra, balai, maupun unit layanan agar mengecek ulang kesiapan personel serta dukungan operasional.
Kesiapsiagaan ini terutama ditujukan untuk layanan kelompok rentan, seperti lansia tunggal, penyandang disabilitas, anak-anak rentan, masyarakat miskin ekstrem, korban bencana, dan warga terlantar agar tidak terabaikan selama libur Lebaran.
"Antisipasi kedaruratan sosial dan bencana, potensi bencana, kecelakaan, gangguan mobilitas dan kedaruratan sosial harus diantisipasi sejak dini. Cek kembali buffer stock, logistik bantuan, kesiapan petugas, dan kecepatan distribusi," kata Gus Ipul.


















