Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Nadiem Minta Maaf Tak Paham Birokrasi dan Tak Sowan ke Tokoh Politik

Nadiem Minta Maaf Tak Paham Birokrasi dan Tak Sowan ke Tokoh Politik
Eks Mendikbudristek Nadiem Makarim (IDN Times/Aryodamar)
Intinya Sih
  • Nadiem Makarim menyampaikan permintaan maaf terbuka atas gaya kepemimpinannya yang dinilai kurang menghormati budaya birokrasi dan berpotensi menyinggung sejumlah pihak selama menjabat sebagai menteri.
  • Ia mengaku banyak belajar selama tujuh bulan di penjara, menyadari pentingnya fungsi politik dalam jabatan publik, serta perlunya komunikasi yang lebih santun dengan tokoh masyarakat dan politik.
  • Nadiem menegaskan tetap optimis terhadap keadilan di Indonesia, berkomitmen memperbaiki diri, dan meminta doa masyarakat agar proses hukum yang dijalaninya berjalan adil.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim, menyampaikan permohonan maaf terbuka melalui sebuah video yang diunggah di akun Instagram pribadinya pada Selasa (14/4/2026).

Dalam pernyataannya, Nadiem mengakui adanya kekurangan dalam cara memimpin, terutama terkait komunikasi dan budaya birokrasi di pemerintahan. Menurutnya, gaya komunikasinya tersebut berpotensi menyinggung berbagai pihak selama ia memegang jabatan menteri.

"Saya ingin mohon maaf sebesar-besarnya kalau ada ucapan-ucapan atau perilaku saya pada saat menjadi menteri yang tidak berkenan,” ujar Nadiem dalam unggahan yang dikutip Rabu (15/4/2026).

1. Nadiem sebut telah intropeksi diri selama dipenjara tujuh bulan

Nadiem Makarim
Nadiem Makarim (IDN Times/Aryodamar)

Lebih lanjut, Nadiem menjelaskan selama tujuh bulan berada di penjara, ia memiliki banyak waktu untuk melakukan introspeksi diri atas kinerjanya selama menjabat sebagai menteri.

Ia menyebut selama menjabat, dirinya mungkin tidak selalu menghormati budaya birokrasi yang ada. Hal ini dipicu oleh keputusannya membawa banyak orang dari luar lingkungan pemerintahan masuk ke dalam sistem, yang kemudian menimbulkan gesekan di internal.

Tak hanya itu, ia mengungkapkan adanya kekurangan dalam aspek kesantunan saat menyampaikan ide atau kebijakan. Nadiem merasa kurang memberikan penghormatan dan kurang melakukan kunjungan kepada tokoh-tokoh penting, baik di lingkungan masyarakat maupun dunia politik.

“Saya kurang menghormati dan kurang sowan kepada tokoh-tokoh baik masyarakat maupun politik,” ucap Nadiem.

2. Nadiem sadari pentingnya fungsi politik dalam jabatan publik

Nadiem Makarim
Nadiem Makarim (IDN Times/Aryodamar)

Nadiem mengakui salah satu kekeliruan terbesarnya adalah menganggap peran menteri cukup dijalankan secara profesional saja. Ia sempat mengabaikan sisi politik yang melekat pada jabatannya.

Baginya, menjadi pejabat publik bukan sekadar soal bekerja, melainkan juga harus piawai dalam menjalankan fungsi politik yang krusial, termasuk berkomunikasi dan pemahaman birokrasi.

“Saya tidak memahami bahwa peran saya itu tidak bisa kerja-kerja saja profesional. Tetapi juga harus mengerti bahwa sebagian dari tugas saya adalah fungsi politik,” ujar Nadiem.

3. Nadiem tetap optimistis terhadap keadilan di indonesia

Nadiem Makarim didakwa merugikan negara Rp2,1 triliun dalam pengadaan Laptop Chromebook
Nadiem Makarim didakwa merugikan negara Rp2,1 triliun dalam pengadaan Laptop Chromebook. (IDN Times/Aryodamar)

Terlepas dari situasi yang sedang dihadapi, Nadiem menyatakan tetap memiliki rasa optimisme dan kecintaan terhadap negara. Ia percaya pada akhirnya keadilan tetap menjadi asas dasar bagi Indonesia.

“Saya ini masih optimis, saya masih mencintai negara saya. Saya percaya di ujung-ujungnya keadilan itu masih menjadi asas dasar,” kata Nadiem.

Kemudian, ia menutup pernyataannya dengan meminta doa dari seluruh masyarakat agar dirinya bisa mendapatkan keadilan yang seadil-adilnya. Meskipun tuduhan-tuduhan terhadapnya diklaim tidak terbukti, ia memilih untuk tetap fokus pada proses perbaikan diri dan mengikuti prosedur hukum yang berlaku.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwifantya Aquina
EditorDwifantya Aquina
Follow Us

Latest in News

See More