Sekjen ASEAN: 5 Poin Konsensus Masih Jadi Pegangan untuk Myanmar Damai

- Para pemimpin ASEAN dalam KTT ke-48 di Cebu sepakat tetap berpegang pada Konsensus Lima Poin sebagai dasar pendekatan terhadap krisis politik Myanmar.
- ASEAN menugaskan para menteri luar negeri mengadakan pertemuan virtual dengan Myanmar untuk mendengar perkembangan terbaru dan memastikan komunikasi dua arah yang terkoordinasi.
- Pembahasan juga menyoroti penghentian kekerasan, rekonsiliasi nasional, serta penyelesaian damai konflik perbatasan sebagai fokus utama upaya stabilisasi kawasan.
Jakarta, IDN Times - Situasi Myanmar kembali menjadi salah satu pembahasan utama para pemimpin ASEAN dalam KTT ke-48 ASEAN di Cebu, Filipina. Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn mengatakan, para pemimpin negara anggota membahas langkah-langkah praktis untuk merespons perkembangan politik terbaru di Myanmar, termasuk pasca pemilu dan pembentukan pemerintahan baru.
Menurut Kao, para pemimpin ASEAN sepakat tetap berpegang pada Konsensus Lima Poin sebagai dasar pendekatan terhadap krisis Myanmar. “Para pemimpin sepakat bahwa secara umum mereka akan melanjutkan Konsensus Lima Poin,” ujar Kao Kim Hourn, dalam briefing di Sekretariat ASEAN Jakarta, Senin (11/5/2026).
Meski demikian, ia mengatakan para pemimpin juga mulai mendiskusikan pendekatan yang lebih praktis dalam menangani situasi di Myanmar yang masih belum stabil. “Saya pikir ini adalah diskusi yang masih berlangsung,” katanya.
Kao menambahkan ASEAN juga memberikan tugas lanjutan kepada para menteri luar negeri untuk mendiskusikan sejumlah isu terkait Myanmar secara lebih mendalam.
1. ASEAN siapkan pertemuan dengan Myanmar

Sebagai bagian dari tindak lanjut, Menteri Luar Negeri negara-negara ASEAN disebut akan melakukan keterlibatan langsung dengan Menteri Luar Negeri Myanmar. Kao mengatakan salah satu langkah yang sedang dipersiapkan adalah pertemuan virtual tingkat menteri luar negeri ASEAN untuk mendengar langsung perkembangan terbaru dari Myanmar.
“Ada kebutuhan untuk mengadakan pertemuan virtual guna mendengarkan apa yang sedang terjadi dan mendapatkan penjelasan dari Myanmar,” ujarnya.
Menurut dia, forum tersebut juga akan menjadi ruang bagi Myanmar untuk mendengar pandangan serta kekhawatiran negara-negara anggota ASEAN. “Jadi ini bukan komunikasi satu arah, tetapi akan berjalan dua arah,” kata Kao.
Ia menilai arahan dari para pemimpin ASEAN penting untuk memastikan pendekatan kawasan terhadap Myanmar tetap terkoordinasi.
2. Tekanan ASEAN fokus pada penghentian kekerasan

Dalam pembahasan para pemimpin ASEAN, kata Kao, salah satu penekanan utama adalah penghentian kekerasan di Myanmar. “Penekanannya jelas untuk memastikan tidak ada kekerasan,” ujarnya.
Selain itu, ASEAN juga menyoroti pentingnya rekonsiliasi nasional yang dinilai harus berlangsung secara nyata dan menyeluruh. “Untuk memastikan ada rekonsiliasi nasional yang sungguh-sungguh,” lanjut Kao.
Ia juga menyinggung pentingnya proses penyelesaian yang dipimpin dan dijalankan sendiri oleh Myanmar. Menurut Kao, ASEAN menilai proses internal Myanmar tetap menjadi faktor penting dalam upaya penyelesaian krisis berkepanjangan di negara tersebut.
3. ASEAN bahas konflik perbatasan

Selain isu politik domestik Myanmar, para pemimpin ASEAN juga membahas persoalan konflik perbatasan yang ikut menjadi perhatian dalam pertemuan. Kao mengatakan para pemimpin memiliki hak prerogatif untuk mengangkat isu-isu tertentu selama pertemuan berlangsung.
“Mereka membahas dan ingin melihat gencatan senjata tetap dipertahankan,” ujarnya.
Ia menambahkan para pemimpin ASEAN menyampaikan keyakinan bahwa konflik di wilayah perbatasan dapat diselesaikan melalui jalur damai. “Mereka menyatakan keyakinan bahwa konflik perbatasan akan diselesaikan secara damai,” kata Kao.
Hingga kini, ASEAN masih terus berupaya mencari pendekatan yang dapat diterima seluruh pihak untuk membantu meredakan situasi Myanmar yang telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir.



















