Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Nasabah Meekar Olah Jamur yang tak Terserap Pasar Jadi Jajanan Enak

Nasabah Meekar Olah Jamur yang tak Terserap Pasar Jadi Jajanan Enak
Sebagai nasabah PNM Mekaar, Ibu Astuti merintis usaha olahan jamur tiram dengan segala keterbatasan yang dimilikinya. Baginya, memulai usaha bukan sekadar tentang menghasilkan pendapatan, tetapi juga tentang bagaimana memastikan dapur tetap mengepul dan kebutuhan keluarga dapat terus terpenuhi. (Dok. PNM)
  • Nasabah PNM Mekaar, Astuti, mengolah jamur tiram yang tidak terserap pasar menjadi jamur krispi dan stik jamur untuk memperpanjang masa simpan serta menambah nilai jual.
  • PNM menekankan pembiayaan dan pemberdayaan berjalan beriringan agar pelaku usaha ultra mikro mampu mengembangkan produk, menghadapi tantangan, dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.
  • Seiring usahanya berkembang, Astuti dipercaya menjadi Ketua Klasterisasi Bank Sampah di Kampung Madani, Waru, Penajam, serta mengajak warga melihat barang tak bernilai sebagai sesuatu yang bermanfaat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Dari sebuah dapur sederhana berukuran tiga kali tiga meter, Ibu Astuti belajar bahwa keterbatasan tidak selalu menjadi akhir dari sebuah usaha. Justru dari ruang sempit itulah, ia menemukan cara untuk mengubah persoalan menjadi peluang dan perlahan membangun kemandirian ekonomi keluarganya.

Sebagai nasabah PNM Mekaar, Ibu Astuti merintis usaha olahan jamur tiram dengan segala keterbatasan yang dimilikinya. Baginya, memulai usaha bukan sekadar tentang menghasilkan pendapatan, tetapi juga tentang bagaimana memastikan dapur tetap mengepul dan kebutuhan keluarga dapat terus terpenuhi.

Perjalanan itu tidak selalu mulus. Salah satu persoalan yang kerap dihadapinya adalah hasil panen jamur tiram yang tidak seluruhnya terserap pasar. Ketika jamur segar tidak habis terjual, ada risiko bahan pangan tersebut terbuang begitu saja. Namun, Ibu Astuti memilih untuk tidak berhenti pada persoalan.

  1. 1. Dari jamur yang hampir terbuang, Astuti hadirkan ruang usaha

    IMG-20260829-WA0042.jpg
    Sebagai nasabah PNM Mekaar, Ibu Astuti merintis usaha olahan jamur tiram dengan segala keterbatasan yang dimilikinya. Baginya, memulai usaha bukan sekadar tentang menghasilkan pendapatan, tetapi juga tentang bagaimana memastikan dapur tetap mengepul dan kebutuhan keluarga dapat terus terpenuhi. (Dok. PNM)

    Ia mulai memutar cara. Jamur yang sebelumnya berpotensi menjadi sisa diolah kembali menjadi Jamur Krispi dan Stik Jamur. Langkah sederhana itu membuat hasil panen memiliki umur simpan lebih panjang sekaligus menciptakan produk dengan nilai jual baru.

    “Dulu saya hanya berpikir bagaimana jamur yang tak habis terjual tidak terbuang. Sekarang saya tahu, dari sesuatu yang hampir terbuang itu, bisa tumbuh sebuah usaha, harapan untuk keluarga, bahkan manfaat untuk banyak orang,” ujar Ibu Astuti.

    Bagi Ibu Astuti, perubahan tersebut bukan hanya soal bertambahnya jenis produk. Ia mulai melihat usahanya dengan cara yang berbeda. Masalah pasar yang sebelumnya menjadi tantangan justru mendorongnya untuk lebih kreatif dalam mengolah produk dan mencari nilai tambah dari apa yang sudah dimiliki.

    Di titik inilah pemberdayaan menjadi penting. Pembiayaan memberikan ruang bagi pengusaha ultra mikro untuk bergerak, sementara pendampingan membantu mereka menemukan cara agar usaha tersebut dapat terus bertumbuh. Kombinasi keduanya menjadi bagian dari pendekatan PNM dalam mendampingi nasabah agar tidak berhenti hanya pada akses modal.

  2. 2. Pembiayaan berikan kesempatan untuk nasabah PNM untuk berkembang

    IMG-20260418-WA0003.jpg
    Gedung PNM. (Dok. PNM)

    Direktur Utama PNM, Kindaris, mengatakan bahwa pembiayaan dan pemberdayaan perlu berjalan beriringan karena kebutuhan usaha ultra mikro bukan hanya modal, tetapi juga kemampuan untuk mengembangkan usaha dan menghadapi berbagai tantangan di lapangan.

    “Pembiayaan memberikan kesempatan bagi nasabah untuk memulai dan mengembangkan usahanya. Tetapi pemberdayaanlah yang membantu mereka menemukan cara untuk naik kelas. Ketika keduanya berjalan bersama, modal tidak berhenti menjadi pinjaman, tetapi dapat berubah menjadi produk yang lebih bernilai, usaha yang lebih kuat, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan keluarga,” ujar Kindaris.

    Perjalanan Ibu Astuti menunjukkan bagaimana dampak sebuah usaha dapat berkembang melampaui urusan jual beli. Ketika usahanya semakin tumbuh, kepercayaan dirinya pun ikut berkembang. Ia kemudian dipercaya memegang peran sebagai Ketua Klasterisasi Bank Sampah di Kampung Madani, Waru, Penajam.

  3. 3. Astuti kini juga menjadi penggerak kepedulian lingkungan

    IMG-20260606-WA0005.jpg
    Ilustrasi gedung PNM. (Dok. PNM)

    Peran tersebut menjadi babak baru dalam perjalanan Ibu Astuti. Jika sebelumnya ia sibuk memastikan jamur hasil panen tidak terbuang, kini ia ikut mengajak masyarakat di lingkungannya untuk melihat barang yang dianggap tidak bernilai menjadi sesuatu yang dapat memberikan manfaat.

    Dari seorang ibu rumah tangga yang berusaha menyelamatkan sisa panen, Ibu Astuti kini menjadi penggerak kepedulian lingkungan di kampungnya. Perubahan itu memperlihatkan bahwa pemberdayaan ekonomi dapat melahirkan dampak yang lebih luas ketika penerimanya memiliki kesempatan untuk tumbuh dan kemudian memberi manfaat kembali kepada lingkungan sekitar.

    Kisah Ibu Astuti menjadi gambaran bahwa perjalanan usaha ultra mikro tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang, ia berawal dari dapur kecil, hasil panen yang tidak laku, dan keberanian untuk mencoba satu cara baru. (WEB) #PNMuntukUMKM#PNMPemberdayaanUMKM

Sponsored Content: This article is a paid collaboration. While this content is sponsored, all insights, reviews, and editorial standards remain entirely our own.
Share Article
Topics
Editorial Team

Related Articles

See More