NasDem Bantah Isu Merger dengan Gerindra, Singgung Gagasan Blok Politik

- Willy Aditya menegaskan isu merger NasDem-Gerindra tidak benar, dan meminta publik membedakan antara fusi partai dengan kerja sama politik strategis dalam membentuk blok politik.
- Pertemuan Surya Paloh dan Prabowo Subianto disebut sebagai dialog produktif dua sahabat lama yang membahas kerja sama politik tanpa harus meleburkan identitas partai masing-masing.
- Saan Mustopa memastikan belum ada pembahasan mendalam soal merger, karena fokus NasDem saat ini adalah konsolidasi internal dan penguatan struktur partai menjelang Pemilu 2029.
Jakarta, IDN Times - Ketua DPP Partai NasDem, Willy Aditya, angkat bicara mengenai isu yang menyebutkan kemungkinan partainya akan melakukan fusi atau merger dengan Gerindra. Willy menegaskan, publik perlu memahami perbedaan antara penggabungan partai secara struktural dengan kerja sama politik yang strategis.
Willy menjelaskan, dinamika yang berkembang saat ini seharusnya dilihat sebagai sebuah diskursus politik untuk membentuk apa yang ia sebut sebagai Political Block atau blok politik.
Menurut Willy, berpolitik sedianya berasal dari sebuah dikursus yang diamplifikasi menjadi sebuah mimpi bagaimana membentuk blok politik tersebut.
"Ini narasinya terlalu negatif tone. Imajinasi ber-republik-nya nggak ada. Imajinasi konflik, rusuh. Harusnya kita mengedepankan, memajukan imajinasi ber-republik. Apa imajinasi ber-republik itu? Political Block. Dan itu belum pernah di-exercise," kata Willy Aditya di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (13/4/2026).
1. Ajak publik tak semena-mena menafsirkan kerja sama politik

Willy mengatakan, banyak pihak terlalu mudah menyederhanakan komunikasi antarparpol sebagai upaya peleburan struktural organisasi. Padahal, dalam sejarah politik Indonesia, konsep blok politik merupakan hal lazim untuk memperkuat visi kenegaraan.
Ia mencontohkan sejarah masa lalu, seperti Front Nasional di era Bung Karno atau Sekretariat Bersama (Sekber) Golkar, sebagai bentuk blok politik yang pernah ada di Indonesia. Willy menyayangkan tafsir semena-mena yang menyebut kerja sama antarpartai akan menghilangkan eksistensi masing-masing partai tersebut.
"Jadi orang-orang nggak paham bagaimana politik bekerja. Dia mensimplifikasi, mendiskreditkan, sehingga dia menafsirkan semena-mena aja gitu. Jadi jangan sesat, jangan sesat pikir, jangan sesat informasi," kata Ketua Komisi XIII DPR RI itu.
2. Singgung pertemuan dua sahabat antara Paloh dan Prabowo

Willy juga menyinggung pertemuan antara Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh dengan Presiden sekaligus Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto di Hambalang. Ia menyebut, pertemuan tersebut sebagai dialog yang produktif dan intim antardua sahabat lama tersebut.
"Seorang Surya Paloh dengan seorang Pak Prabowo waktu itu bisa berdiskusi secara equal tentang banyak hal," ungkapnya.
Willy mengatakan, para elite NasDem yang ada di jajaran lapis dua juga menerjemahkan dalam kerangka politik kerja sama seperti apa yang diinginkan Surya Paloh.
"Kita cuma punya referensi membelah diri, berpecah. Kita tidak punya referensi bagaimana bekerja bersama. Bekerja bersama apakah harus satu? Tidak. Satu, dalam objektif," kata dia.
3. NasDem tegaskan belum ada pembahasan merger bareng Gerindra

Wakil Ketua Umum (Waketum) Partai NasDem Saan Mustopa mengatakan, belum ada pembahasan secara mendalam mengenai isu merger kedua NasDem dan Gerindra. NasDem, lanjut dia, sibuk mengonsolidasikan internal partai, termasuk membangun struktur partai, konsolidasi partai baik tingkat nasional maupun tingkat wilayah menjelang Pemilu 2029.
"Kita lagi mengintensifkan terkait konsolidasi dan pembentukan struktur partai sampai ke tingkat RT. Jadi itu fokus kita hari ini kan gitu loh. Jadi terkait soal wacana apa fusi itu, itu belum menjadi apa pembicaraan di internal secara apa lebih mendalam," kata Wakil Ketua DPR RI itu.
Saan tak menampik pertemuan Surya Paloh dan Prabowo di Hambalang. Namun, ia mengaku belum mengetahui pasti topik pembahasan dalam pertemuan kedua tokoh bangsa itu.
"NasDem dalam setiap langkah politiknya tentu bagaimana berusaha semaksimal mungkin agar apa yang menjadi agenda khususnya program prioritas dan juga program-program strategis dari pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Pak Prabowo, kita berusaha secara maksimal agar agenda-agenda tersebut berjalan dengan baik dan sukses," kata Saan.
















