Dua Mata Kena Katarak, Arba’i Jalani Operasi Gratis Ditanggung JKN

- Arba’i (77) mengalami katarak pada kedua mata setelah penglihatannya memburuk hampir dua tahun, lalu memeriksakan diri melalui Puskesmas sebagai peserta JKN PBPU.
- Setelah dirujuk ke klinik mata, Arba’i menjalani operasi katarak pada mata kiri dan kanan secara bertahap; seluruh biaya ditanggung JKN tanpa tambahan biaya.
- Pengalaman pengobatan Arba’i dan istrinya membuat keluarga tersebut rutin membayar iuran JKN, yang dinilai membantu akses layanan kesehatan bagi masyarakat berpenghasilan terbatas.
Jakarta, IDN Times - Hampir dua tahun Arba’i (77) mengalami gangguan penglihatan. Pandangannya perlahan semakin kabur hingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Setelah menjalani dua kali operasi katarak melalui Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), penglihatannya kini berangsur kembali jelas.
Arba’i merupakan peserta JKN segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU). Ia mulai memeriksakan kondisi matanya setelah mengalami gangguan penglihatan yang semakin memburuk.
“Awalnya mata saya tidak ada gangguan, tapi pada tahun 2022 mulai tidak nyaman untuk melihat dan lama-lama pandangan semakin kabur. Kami memutuskan daftar JKN di tahun 2023, karena waktu itu istri saya sakit bahkan harus rawat inap dan butuh biaya banyak untuk berobat. Sejak saat itu iurannya kami bayar rutin tiap bulan lewat kantor pos, alhamdulillah tidak pernah terlambat,” tutur Arba’i, Rabu (5/8).
1. Diperiksa di Puskesmas hingga dirujuk ke klinik mata

ilustrasi operasi mata katarak (pixabay.com/hysw001) Perjalanan pengobatan Arba’i dimulai dari Puskesmas tempat dirinya terdaftar sebagai peserta JKN. Setelah menjalani pemeriksaan, ia kemudian mendapat rujukan ke klinik mata.
Hasil pemeriksaan menunjukkan Arba’i mengalami katarak pada kedua mata dan membutuhkan tindakan operasi.
“Pelayanannya memuaskan sekali, perawatnya ramah-ramah, dokternya juga baik. Dari kunjungan pertama langsung diketahui mata saya mengalami katarak dan harus segera operasi. Tanpa harus menunggu lama untuk jadwal operasinya, saya seminggu kemudian langsung menjalani operasi katarak pada mata kiri. Petugasnya sejak awal menjelaskan bahwa semua biaya ditanggung BPJS Kesehatan, tidak ada biaya tambahan sama sekali,” jelas Arba’i.
2. Dua kali operasi katarak tanpa biaya tambahan

Ilustrasi operasi mata katarak (freepik.com/wavebreakmedia_micro) Karena katarak terjadi pada kedua matanya, Arba’i menjalani operasi secara bertahap. Seluruh tindakan tersebut ditanggung melalui Program JKN tanpa biaya tambahan.
Setelah kedua operasi selesai, penglihatannya yang sebelumnya kabur berangsur membaik.
“Alhamdulillah sudah jelas, sudah bisa melihat lagi. Operasinya dua kali, mata kanan dan kiri, semua pakai BPJS dan tidak keluar biaya sama sekali. Kalau harus bayar sendiri, biayanya pasti sangat besar dan memberatkan bagi keluarga kami yang termasuk kurang mampu,” ungkap Arba’i.
3. Pengalaman keluarga membuat Arba’i jaga kepesertaan JKN

Warga memanfaatkan layanan BPJS Keliling untuk pendaftaran aplikasi mobile Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) BPJS Kesehatan di kawasan Pasar Tradisional Johar Semarang, Jumat (14/7/2023). (IDN Times/Dhana Kencana) Sebelum menjalani operasi katarak, keluarga Arba’i juga telah merasakan manfaat JKN. Sang istri pernah menjalani perawatan menggunakan BPJS Kesehatan dan tidak mengalami kendala selama proses pengobatan. Pengalaman tersebut membuat Arba’i semakin menyadari pentingnya menjaga kepesertaan JKN tetap aktif dengan membayar iuran secara rutin.
“Waktu istri saya sakit dulu juga pakai BPJS dan alhamdulillah tidak ada kendala, tidak ada biaya tambahan juga. Dari situ kami sangat merasakan manfaat nyata menjadi peserta JKN. Saya tidak pernah terlambat membayar iuran, agar saat butuh pelayanan kesehatan tidak mengalami kendala,” tuturnya.
Arba’i berharap Program JKN dapat terus berjalan dan berkembang sehingga masyarakat, khususnya mereka yang memiliki keterbatasan ekonomi, tetap mendapatkan akses pelayanan kesehatan.
“Program JKN harus tetap ada, terutama buat masyarakat yang kurang mampu agar tetap bisa berobat dan mendapatkan penanganan yang layak. Harapan kami ke depannya program ini bisa terus berkembang dan pelayanannya semakin baik lagi dari semua sisi,” pungkas Arba’i. (WEB)

















