Kemenhut Kerahkan 5 Ribu ASN untuk Tangani Karhutla di 6 Provinsi

- Kemenhut mengerahkan 5 ribu ASN untuk menangani karhutla di enam provinsi, termasuk 2.200 personel di tiga provinsi Kalimantan.
- Hotspot di Kalimantan Barat tercatat turun menjadi 28 titik, dengan sebaran terbanyak di Ketapang dan Melawi.
- Asap masih terlihat di lahan gambut, sementara jumlah hotspot terbanyak secara nasional bergeser ke Sumatera Selatan.
Jakarta, IDN Times - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengerahkan lima ribu aparatur sipil negara (ASN) Kemenhut untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di enam provinsi yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Riau, Sumatera Selatan, dan Jambi.
Dari lima ribu ASN yang dikerahkan, sebanyak 2.200 personel akan ditempatkan di tiga provinsi di Kalimantan. Sementara khusus Kalimantan Barat, Kemenhut akan mengirimkan 700 ASN dari daerah-daerah yang tidak terlalu terdampak karhutla.
“Khusus untuk di Kalimantan Barat akan ada 700 ASN dari daerah-daerah yang tidak terlalu terdampak karhutla, akan kita kirim ke sini,” ujar Menhut dalam keterangan tertulis Kemenhut, Senin (24/8/2026).
1. Pejabat eselon I berkantor di 6 provinsi

Menhut Raja Juli Antoni saat meninjau lokasi karhutla di Guntung Damar, Kalimantan Selatan, Minggu (23/8/2026). (dok. Kemenhut) Raja Antoni menjelaskan, penguatan personel dilakukan karena perkembangan hotspot sangat dinamis. Selain mengerahkan ASN, pejabat eselon I Kemenhut juga akan berkantor di enam provinsi.
“Alhamdulillah, berkat kerja sama semua pihak, TNI, Polri, di darat maupun di udara, termasuk teman-teman Manggala Agni Kementerian Kehutanan yang berjuang tanpa lelah bersama-sama, akhirnya pada hari ini, sekali lagi per malam kemarin, angka hotspot di Kalimantan Barat sisa 28 saja ya. Nanti datanya akan kita update, sekali lagi ini sangat dinamis,” kata Raja Antoni.
2. Hotspot di Kalbar menurun, bergeser ke Sumsel

Menhut Raja Antoni saat meninjau lokasi karhutla di Kabupaten Banjar, Kalsel, Minggu (23/8/2026). (dok.Kemenhut) Sebelumnya, Kemenhut mencatat adanya penurunan jumlah titik panas (hotspot) kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat. Sementara itu, terdapat kenaikan titik hotspot di Sumatera Selatan (Sumsel).
Raja Antoni mengatakan, berdasarkan data Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Sipongi) per pukul 23.59 malam (23/8/2026) jumlah titik panas (hotspot) di Kalbar telah turun menjadi 28 titik.
Angka tersebut tersebar di sejumlah wilayah, dengan 16 titik di Ketapang, 11 titik di Melawi, dan 1 titik di Kubu Raya.
“Kalbar sendiri ya, Kalbar 28 hotspot. Yang terbanyak itu di Ketapang 16, kemudian di Melawi 11, dan 1 ada di Kubu Raya,” kata Menhut dalam keterangan tertulisnya, Senin (24/8/2026).
3. Asap masih terlihat

Menhut Raja Antoni saat meninjau lokasi karhutla di Kabupaten Banjar, Kalsel, Minggu (23/8/2026). (dok.Kemenhut) Meski hotspot menurun, Menhut mengingatkan kondisi tersebut tidak berarti persoalan asap telah selesai. Saat meninjau lokasi, tidak terlihat ada lagi api di permukaan, namun asap masih terlihat.
Menurut Menhut Raja Antoni kondisi tersebut berkaitan dengan karakteristik lahan gambut yang membuat pembakaran tidak sempurna.
“Tidak adanya hotspot tidak berarti aman dari asap. Karena ini memang daerah gambut ya. Pembakaran tidak sempurna, sehingga asapnya lebih banyak ketimbang di tanah mineral,” ujarnya.
Menhut mengatakan, perkembangan hotspot secara nasional juga menunjukkan pergeseran. Jika beberapa hari sebelumnya hotspot terbanyak berada di Kalimantan, namun berdasarkan data Sipongi pada Minggu (23/8/2026) malam, jumlah terbanyak justru tercatat di Sumatera.
Sumatera Selatan (Sumsel) mencapai 127 hotspot, Riau 54, dan Jambi 47.
“Data lapangan sangat dinamis secara nasional, karena memang ini sangat sulit diprediksi,” katanya.

















