Pemulihan Air Bersih dan Pembangunan Sumur Bor Pasca Bencana Aceh

- BNPB bersama TNI dan pemerintah daerah melakukan percepatan pembangunan sumur bor di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara
- Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya melaksanakan program serupa di Kabupaten Aceh Tamiang.
- Enam titik sumur bor di Aceh Utara berhasil mengeluarkan air bersih
Jakarta, IDN Times - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama TNI dan pemerintah daerah melakukan percepatan pembangunan sumur bor di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara. Sementara, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya melaksanakan program serupa di Kabupaten Aceh Tamiang.
Pembangunan sumur bor dilakukan guna mengoptimalkan penyediaan air bersih bagi penyintas. Tenaga Ahli BNPB Brigjen TNI Asep Dedi Darmadi melalui keterangan resmi BNPB menjelaskan, mobilisasi perangkat sumur bor di Kecamatan Langkahan dimulai sejak 25 Desember 2025. Pemerintah menargetkan pembangunan 100 titik sumur bor yang akan tersebar di seluruh desa kecamatan tersebut.
1. Enam titik di antaranya berhasil keluarkan air bersih

Prioritas penempatan sumur bor difokuskan pada lokasi pengungsian, rencana hunian sementara (huntara), serta fasilitas umum seperti tempat ibadah dan pesantren. Langkah ini dilakukan untuk memastikan masyarakat terdampak bencana dapat dengan mudah mengakses air bersih.
Proses pengeboran dilakukan hingga kedalaman sekitar 40 meter, dan telah menghasilkan sumber air yang dapat dimanfaatkan. Hingga 29 Desember 2025, dari 10 sumur bor yang telah selesai dikerjakan, enam titik di antaranya telah berhasil mengeluarkan air bersih.
Pada setiap titik pengeboran diperlukan waktu tunggu sekitar 30 menit hingga air yang keluar benar-benar jernih dan layak digunakan oleh masyarakat.
2. Empat sumur telah selesai di Aceh Tamiang

Sementara itu, di Aceh Tamiang, Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya juga melakukan percepatan pembangunan sumur bor di wilayah terdampak bencana. Dari total 28 sumur bor yang direncanakan di tujuh kecamatan, empat sumur telah selesai dibangun per 8 Januari 2026.
Sedangkan sebanyak sembilan sumur masih tahap pengerjaan, dan 15 lainnya berada pada tahap persiapan, mulai dari survei lokasi hingga mobilisasi peralatan.
“Penyediaan air bersih menjadi prioritas utama pascabencana karena sangat berpengaruh terhadap kesehatan dan kualitas hidup masyarakat. Melalui pembangunan sumur bor ini, kami berharap masyarakat Aceh Tamiang dapat segera memperoleh akses air bersih yang aman, layak, dan berkelanjutan," kata Direktur Jenderal Cipta Karya Dewi Chomistriana.
Selain di permukiman warga, Kementerian PU juga akan membangun sarana air bersih di hunian sementara Kecamatan Karang Baru.
“Keterlibatan masyarakat lokal tidak hanya membantu percepatan pembangunan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pemulihan ekonomi warga terdampak melalui penciptaan lapangan kerja,” ujarnya.
3. Klarifikasi KSAD soal biaya bor sumur Tp150 juta

Sementara, Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Maruli Simanjuntak buka suara soal biaya pengeboran sumur di lokasi bencana di Sumatra, yang disebutnya mencapai Rp150 juta. Maruli menggarisbawahi biaya tersebut untuk pengeboran sumur dalam yang konsumsi airnya bisa dimanfaatkan warga satu desa.
"Ini tuh (sumur air) barang kepentingannya (dikonsumsi) kadang-kadang oleh satu desa. Bukan untuk konsumsi satu rumah," ujar Maruli di Markas Satuan Angkutan Air TNI AD, Jakarta Utara, Selasa, 6 Januari 2026.


















