Menlu Sugiono Dorong COC Laut China Selatan Rampung Tahun Ini

Jakarta, IDN Times - Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono menegaskan kemitraan ekonomi antara ASEAN dan Republik Rakyat China (RRC) perlu semakin diarahkan untuk memperkuat ketahanan sekaligus menjaga stabilitas kawasan di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Pernyataan itu disampaikan Sugiono dalam Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN-RRC di Manila, Filipina. Menurutnya, besarnya hubungan ekonomi ASEAN dan China harus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus memperkuat ketangguhan kawasan menghadapi berbagai tantangan.
Sugiono menyebut hubungan ekonomi ASEAN dan China selama ini telah berkembang pesat. Namun, ia mengingatkan, besarnya nilai perdagangan tidak boleh hanya menjadi capaian statistik, melainkan harus diterjemahkan menjadi kesejahteraan masyarakat dan penguatan rantai pasok regional.
Selain isu ekonomi, Indonesia juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas kawasan melalui penguatan sentralitas ASEAN, kerja sama maritim, serta percepatan penyelesaian Code of Conduct (COC) di Laut China Selatan yang berlandaskan hukum internasional.
1. Kemitraan ekonomi harus perkuat ketahanan kawasan

Sugiono mengungkapkan, nilai perdagangan ASEAN dan China pada 2024 mencapai 772,4 miliar dolar AS atau sekitar seperlima dari total perdagangan ASEAN. Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan besarnya arti hubungan ekonomi kedua pihak bagi kawasan.
Ia mengatakan, nilai perdagangan tersebut tidak hanya mencerminkan besarnya transaksi ekonomi, tetapi juga berkaitan langsung dengan lapangan kerja, rantai pasok, pasar, hingga kesejahteraan masyarakat di kawasan.
“Ini bukan sekadar angka. Di baliknya ada lapangan kerja, pasar, rantai pasok, dan kesejahteraan masyarakat. Tugas kita sekarang adalah mengubah besarnya skala kemitraan ini menjadi ketahanan kawasan,” ujar Sugiono, Kamis (23/7/2026).
Indonesia juga mendorong optimalisasi implementasi Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) dan ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) 3.0 agar integrasi ekonomi kawasan semakin praktis, inklusif, serta mampu menjawab tantangan di masa depan.
“Kekuatan ekonomi kawasan tidak hanya diukur dari besarnya nilai perdagangan, tetapi juga dari sejauh mana manfaatnya menjangkau masyarakat dan pelaku usaha di luar pusat-pusat pertumbuhan,” kata Sugiono.
2. Indonesia dorong sentralitas ASEAN dan penyelesaian COC

Selain memperkuat kerja sama ekonomi, Indonesia menilai kemitraan ASEAN dan China harus mampu melindungi kawasan dari dampak meningkatnya ketidakpastian global. Di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik, Sugiono menegaskan Sentralitas ASEAN harus tetap menjadi fondasi dalam menjaga stabilitas kawasan.
Menurutnya, ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP) perlu terus dijadikan pedoman bagi kerja sama yang inklusif, transparan, dan berlandaskan aturan. Pendekatan tersebut, lanjut Sugiono, juga harus tercermin dalam kerja sama maritim karena perairan kawasan memiliki peran penting sebagai jalur perdagangan, konektivitas masyarakat, serta penopang ketahanan energi dan pangan.
Dalam forum tersebut, Indonesia kembali mendorong penyelesaian COC di Laut China Selatan pada tahun ini. Sugiono menekankan COC yang disepakati harus bersifat efektif, substantif, serta berlandaskan hukum internasional, khususnya Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS) 1982.
Menurut Indonesia, COC yang kuat akan menunjukkan kemampuan negara-negara di kawasan dalam menjaga stabilitas sekaligus menentukan masa depannya secara mandiri.
3. 35 Tahun kemitraan ASEAN-China

Tahun 2026 akan menjadi tonggak penting dalam hubungan ASEAN dan China karena menandai 35 tahun Hubungan Kemitraan Wicara ASEAN-RRC serta lima tahun Kemitraan Strategis Komprehensif kedua pihak. Indonesia menilai momentum tersebut perlu dimanfaatkan untuk memperkuat kerja sama yang tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mendukung perdamaian dan ketahanan kawasan.
Dalam pertemuan tersebut, para menteri luar negeri juga menyepakati ASEAN-China Foreign Ministers’ Joint Statement on Addressing the Regional Impacts of Developments in the Middle East and Strengthening Regional Energy Cooperation.
Pernyataan bersama itu menyoroti pentingnya respons kolektif ASEAN dan China terhadap dampak perkembangan situasi di Timur Tengah, sekaligus memperkuat ketahanan dan kerja sama energi di kawasan.



















