Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Lebih dari 4.200 Pemukim Israel Masuk Kompleks Masjid Al-Aqsa, Ngapain?

Lebih dari 4.200 Pemukim Israel Masuk Kompleks Masjid Al-Aqsa, Ngapain?
Masjid Al-Aqsa (Pexels.com/BECCA SIEGEL)
Share Article

Jakarta, IDN Times – Lebih dari 4.200 pemukim Israel dan anggota kelompok sayap kanan memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur yang diduduki pada Kamis (23/7/2026). Aksi yang berlangsung bertepatan dengan hari raya Yahudi Tisha B’Av, yang diperingati sebagai hari berkabung atas hancurnya kuil-kuil Yahudi kuno, menjadi salah satu penyusupan terbesar dalam setahun. Berdasarkan laporan kantor berita Anadolu Agency, sekitar 1.300 warga Israel memasuki kawasan tersebut pada pagi hari dengan pengawalan kepolisian.

Polisi mengizinkan rombongan beranggotakan sekitar 150 orang masuk secara bertahap hingga jumlahnya meningkat menjadi 4.288 orang pada siang hari. Angka itu diperkirakan bertambah menjadi sekitar 5 ribu orang menjelang matahari terbenam dan melampaui rekor yang tercatat pada tahun-tahun sebelumnya. Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir menyatakan bahwa warga Yahudi yang mengunjungi situs tersebut pada momen Tisha B’Av merasa seperti pemilik kawasan itu, seraya memuji perkembangan besar yang dicapai di sana.

1. Pasukan Israel memperketat akses kompleks masjid

ilustrasi orang Yahudi
ilustrasi orang Yahudi (Gedalya AKA David Gott, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

Ben-Gvir memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa dengan pengawalan ketat polisi bersama anggota parlemen dari Partai Likud, Amit Halevi. Bersamaan dengan itu, pasukan Israel memperketat penjagaan di gerbang masjid dan kawasan Kota Tua Yerusalem. Pembatasan tersebut membatasi pergerakan jamaah serta pelajar Palestina, termasuk penyerangan terhadap sejumlah warga yang berupaya memasuki area, sehingga hanya sebagian kecil yang dapat melaksanakan salat Subuh di kompleks masjid.

Di dalam kompleks, para pengunjung menjalankan sejumlah ritual Talmud, mulai dari mengenakan tefillin, bersujud penuh di area timur, hingga bernyanyi dan berdoa. Praktik tersebut bertentangan dengan kesepakatan tahun 1967 yang memperbolehkan non-Muslim berkunjung ke kompleks Masjid Al-Aqsa, tetapi melarang mereka melaksanakan ibadah di lokasi itu.

2. Otoritas Palestina mengecam tindakan Israel

ilustrasi bendera Palestina
ilustrasi bendera Palestina (pexels.com/Alfo Medeiros)

Mengutip Al Jazeera, Gubernur Yerusalem menilai langkah Ben-Gvir sebagai eskalasi berbahaya yang menunjukkan dukungan resmi pemerintah Israel terhadap agenda kelompok ekstremis untuk membangun kembali kuil Yahudi di kawasan tersebut. Gubernur juga menyatakan bahwa seluruh kompleks Masjid Al-Aqsa seluas 144 dunam merupakan tempat ibadah yang diperuntukkan bagi umat Islam.

Otoritas Palestina mengecam aksi tersebut sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional sekaligus upaya memaksakan pembagian waktu maupun ruang di situs suci tersebut.

Kementerian Luar Negeri Yordania mengecam tindakan itu sebagai penodaan terhadap kesucian masjid, bentuk eskalasi, aksi barbar, serta provokasi yang tidak dapat diterima. Sementara itu, kelompok Hamas memperingatkan bahwa tindakan agresi terbuka tersebut akan berbalik memberikan dampak buruk bagi pihak pendudukan beserta para pemukimnya.

3. Masjid Al-Aqsa menjadi pusat sengketa status situs suci

Masjid Al-Aqsa
Masjid Al-Aqsa (pexels.com/Mauricio Artieda)

Masjid Al-Aqsa merupakan situs tersuci ketiga bagi umat Islam. Bagi umat Yahudi, kawasan itu dikenal sebagai Bukit Kuil karena diyakini sebagai lokasi berdirinya dua kuil Yahudi kuno pada masa lampau. Israel menduduki Yerusalem Timur sejak Perang Arab-Israel 1967 dan mencaplok wilayah tersebut pada 1980, tetapi aneksasi itu hingga kini tak diakui masyarakat internasional.

Masuknya ribuan pemukim Israel beserta pelaksanaan ritual keagamaan di dalam kompleks kembali menyoroti ketegangan mengenai status quo situs suci di Yerusalem Timur. Pembatasan akses terhadap warga Palestina serta pengawalan aparat juga memicu kecaman dari otoritas Palestina dan berbagai pihak internasional.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More