Profil Daryono, Direktur Gempa dan Tsunami BMKG yang Mengundurkan Diri

- Daryono, Direktur Gempa dan Tsunami BMKG, mengundurkan diri dan pensiun dini karena kondisi kesehatan.
- Latar belakang Daryono: lulus dari AMG, memiliki gelar S1, magister, dan doktor dalam bidang meteorologi dan geofisika.
Jakarta, IDN Times - Direktur Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Daryono, memutuskan mundur sekaligus mengajukan pensiun dini dari institusi tersebut. Keputusan itu diumumkan pada Jumat (13/2/2026) malam.
Selama ini, Daryono dikenal sebagai salah satu figur utama yang kerap menyampaikan informasi gempa bumi dan potensi tsunami kepada publik, baik yang terjadi di Indonesia maupun luar negeri. Dalam keterangan resminya, Daryono mengatakan, pengunduran diri tersebut telah diajukan secara resmi.
1. Latar belakang Daryono

Daryono lahir di Semarang, Jawa Tengah, pada 21 Februari 1971. Dia merupakan lulusan Akademi Meteorologi dan Geofisika (AMG) angkatan 1993.
Selama menempuh pendidikan di AMG, Daryono mempelajari fondasi ilmu meteorologi dan geofisika yang menjadi dasar keahliannya dalam memahami dinamika alam, khususnya kebencanaan. Bekal tersebut kemudian membentuk arah pengabdiannya di bidang mitigasi gempa dan tsunami di Indonesia.
Setelah menyelesaikan program Diploma III di AMG Jakarta, dia melanjutkan pendidikan sarjana di Universitas Indonesia. Pada tahun 2000, dia meraih gelar S1 dari Program Studi Meteorologi dan Geofisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
Tidak berhenti di jenjang tersebut, Daryono meneruskan studi magister di Universitas Udayana dan menyelesaikannya pada 2002 dengan konsentrasi manajemen lahan kering. Dia kemudian menempuh pendidikan doktoral di bidang Ilmu Geografi di Universitas Gadjah Mada dan berhasil meraih gelar doktor pada 2006.
2. Karier panjang di BMKG hingga jadi direktur

Perjalanan karier Daryono di BMKG diawali saat bertugas sebagai staf teknis di Balai MKG Wilayah III Denpasar, Bali. Pengalaman lapangan tersebut menjadi fondasi profesionalismenya dalam menangani isu kegempaan dan mitigasi bencana.
Sejak 2005, dia aktif sebagai peneliti geofisika di lingkungan BMKG. Dalam perjalanannya, dia dipercaya menduduki sejumlah jabatan strategis, mulai dari Kepala Subbagian Administrasi Akademik dan Ketarunaan di STMKG, Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, hingga Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami.
Pada 2022, Daryono resmi diangkat sebagai Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG. Jabatan tersebut memiliki peran vital dalam memastikan informasi gempa dan peringatan dini tsunami tersampaikan secara cepat, akurat, dan transparan kepada masyarakat.
3. Daryono aktif menulis dan mengedukasi publik

Sejak pertengahan 1990-an, Daryono aktif menulis artikel ilmiah populer di berbagai media seperti Bali Post, Kompas, Jawa Pos, Kedaulatan Rakyat, hingga The Bali Times. Topik yang dia angkat mencakup kegempaan Bali dan Lombok, tsunami, puting beliung, cuaca ekstrem, perubahan iklim, hingga aktivitas Gunung Merapi.
Selain artikel populer, dia juga menghasilkan sejumlah publikasi ilmiah di jurnal nasional dan internasional. Penelitiannya antara lain membahas seismisitas Bali, zona agroklimat, prakiraan curah hujan, local site effect di Graben Bantul, serta aktivitas seismik menjelang erupsi Merapi.
Di luar tulisan, Daryono aktif menjadi pembicara seminar, pelatihan, dan simulasi tanggap darurat di Bali, Yogyakarta, NTT, hingga forum internasional di Bangkok, Tailan. Materi yang disampaikan berfokus pada mitigasi gempa bumi dan tsunami, sistem pemantauan bencana, perubahan iklim, serta manajemen risiko bencana.
4. Daryono terlibat penelitian, penyusunan SOP, dan penerbitan buku

Dalam perjalanan kariernya, Daryono terlibat dalam berbagai proyek penelitian dan pemetaan daerah rawan bencana, termasuk survei gempa Tasikmalaya dan Padang pada 2009, serta kajian multirisiko di wilayah pesisir.
Dia juga menjadi bagian dari tim penyusunan standar operasional prosedur (SOP) penanggulangan bencana gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor, dan letusan gunung api, bekerja sama dengan lembaga akademik dan pemerintah.
Di bidang literasi kebencanaan, Daryono menerbitkan buku 10 Kunci Penyelamatan Saat Terjadi Gempabumi dan Tsunami, serta berkontribusi dalam buku Multirisk Assessment of Disasters in Parangtritis Coastal Area. Ia juga menyunting buku bertema kebencanaan yang bertujuan meningkatkan kesadaran publik terhadap risiko alam.
5. Alasan Daryono mundur sebagai Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG

Daryono mengatakan, pengunduran dirinya dari jabatan Direktur Gempa Bumi dan Tsunami dilatarbelakangi kondisi kesehatan yang mengharuskannya menjalani perawatan.
“Melalui pesan ini, saya ingin menyampaikan bahwa saya telah mengajukan pengunduran diri dari jabatan Direktur Gempa Bumi dan Tsunami, sekaligus mengajukan pensiun dini dari BMKG,” ujar Daryono dalam keterangan resminya.
Meski mundur dari jabatan struktural, dia menegaskan komitmennya terhadap edukasi kebencanaan tetap berjalan.
“Saya memiliki tanggung jawab keilmuan (scientific responsibility), tanggung jawab edukasi (educational responsibility) dan tanggung jawab moral (moral responsibility) di negeri yang rawan bencana ini. Namun demikian, komitmen saya terhadap edukasi publik di bidang kegempaan dan kebencanaan tidak akan berhenti,” kata dia.

















