Uni Eropa Gandeng Ukraina Genjot Produksi Drone

- Uni Eropa dan Ukraina sepakat memproduksi drone bersama untuk memperkuat industri pertahanan, menggabungkan pengalaman militer Ukraina dengan kapasitas industri Eropa.
- Ukraina menargetkan peningkatan produksi drone dari 10 juta menjadi 20 juta unit per tahun guna memperkuat kemampuan tempur dan pertahanan udara.
- Di tengah kerja sama ini, Rusia terus melancarkan serangan udara ke Odesa dan Sumy, sementara UE menyalurkan pinjaman 90 miliar euro untuk mendukung pertahanan Ukraina.
Jakarta, IDN Times – Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, mengumumkan kesepakatan produksi pesawat tanpa awak (drone) bersama Ukraina di Kyiv pada Rabu (15/7/2026). Kerja sama itu disiapkan untuk meningkatkan produksi teknologi utama di medan perang dengan menggabungkan pengalaman militer Ukraina dan kapasitas industri Uni Eropa (UE).
Pengumuman tersebut disampaikan dalam upacara Hari Kenegaraan Ukraina setelah Von der Leyen menerima penghargaan dari Presiden Volodymyr Zelenskyy. Von der Leyen menyebut kolaborasi itu menjadi langkah penting bagi kedua pihak.
“Kesepakatan ini akan menyatukan daya cipta Ukraina dan skala industri Eropa,” ujarnya, dikutip CNA.
1. Kesepakatan memperluas integrasi industri pertahanan kedua pihak

Kesepakatan perdana yang melibatkan negara dan perusahaan dari seluruh UE itu juga memanfaatkan pengalaman Ukraina dalam mengoperasikan sistem drone dan anti-drone. Langkah tersebut diambil sebagai respons terhadap ancaman keamanan kawasan setelah sejumlah insiden penyusupan wilayah udara terjadi di beberapa negara anggota UE yang berbatasan dengan Ukraina dan Rusia.
Pada saat yang sama, kerja sama itu disusun agar memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. Ukraina menyediakan cetak biru teknologi, sedangkan sebagai imbalannya negara itu menerima investasi, royalti, serta pasokan perangkat keras militer. Integrasi industri pertahanan keduanya ditujukan untuk meningkatkan investasi dan kapasitas produksi. Hingga saat ini, Ukraina telah menandatangani sembilan kesepakatan serupa, termasuk tiga kontrak baru yang disepakati pada KTT NATO di Ankara pekan lalu.
2. Ukraina meningkatkan kapasitas produksi drone domestik

Teknologi drone kini menjadi elemen utama di garis depan pertempuran dan telah menyebabkan kerugian besar bagi pasukan penyerang Rusia. Selain digunakan dalam operasi serangan, Ukraina juga terus meningkatkan kemampuan untuk menjatuhkan drone Rusia yang menyerang wilayah perkotaan.
Dalam pidatonyya, Presiden Zelenskyy menyampaikan bahwa Ukraina saat ini memproduksi 10 juta unit drone setiap tahun dan menargetkan jumlah tersebut meningkat dua kali lipat.
“Kita akan mencapai hal ini bersama dengan para mitra kita, sekali lagi membuktikan keberhasilan industri pertahanan Ukraina, mitra kami, dan Eropa,” tegas Zelenskyy.
3. Serangan Rusia berlanjut di tengah kerja sama pertahanan

Di sisi lain, situasi di medan perang masih memanas. Berdasarkan data yang dihimpun France24, serangan udara Rusia menggunakan bom udara terpandu, rudal, dan drone menewaskan enam orang serta melukai sedikitnya 20 orang di Odesa dan Sumy. Moskow juga mengonfirmasi serangan itu menghantam infrastruktur pelabuhan, tangki bahan bakar, serta empat kapal logistik militer Ukraina di Chornomorsk dan Dnipro-Buh. Sementara itu, komandan pasukan drone Kyiv melaporkan armadanya berhasil menyerang 20 kapal Rusia, termasuk 17 kapal tanker minyak, di Laut Hitam.
UE juga tetap melanjutkan dukungan bagi pertahanan Ukraina melalui pinjaman senilai 90 miliar euro (sekitar Rp1.580 triliun). Dari jumlah tersebut, 6 miliar euro (sekitar Rp105 triliun) telah dialokasikan untuk mempercepat peningkatan produksi drone dalam negeri Ukraina.






















