Gibran Kunjungi Lampung, Dukung Potensi Swasembada Pangan Singkong

- Gibran meninjau sentra pertanian singkong di Lampung Timur untuk menyerap aspirasi petani dan memperkuat kebijakan swasembada pangan berbasis komoditas lokal.
- Pemerintah menegaskan pentingnya perhatian setara antara beras dan komoditas strategis lain seperti singkong guna mempercepat kemandirian pangan nasional.
- Petani menyampaikan keluhan soal harga, infrastruktur, dan permodalan; Gibran berjanji membahas solusi bersama kementerian terkait serta memperkuat regulasi impor ubi kayu.
Jakarta, IDN Times - Wakil Presiden (Wapres) RI, Gibran Rakabuming meninjau langsung sentra pertanian singkong sekaligus berdialog dengan perwakilan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di Desa Muara Jaya, Kabupaten Lampung Timur, Lampung, Rabu (15/07/2026).
Kunjungan ini menjadi langkah konkret pemerintah menyerap aspirasi petani guna merumuskan kebijakan yang lebih berpihak pada penguatan komoditas singkong, mulai dari aspek produksi hingga tata niaga.
1. Pemerintah akselerasi agenda swasembada pangan lewat pembenahan berbagai aspek fundamental sektor pertanian

Dialog tersebut diikuti oleh perwakilan dari 33 kelompok tani dengan jumlah anggota lebih dari 600 orang. Dalam kesempatan itu, Gibran menegaskan, pemerintah terus mengakselerasi agenda swasembada pangan melalui pembenahan berbagai aspek fundamental sektor pertanian.
“Perintah dari Bapak Presiden sudah jelas ya Bapak, Ibu terkait swasembada pangan. Masalah pupuk, irigasi, pengolahan pasca-panen, harga. Itu semuanya sudah banyak mendapat hasil di beras,” ujar dia.
2. Penguatan komoditas beras perlu diikuti perhatian yang sama terhadap komoditas pangan strategis lainnya

Menurut Gibran, keberhasilan penguatan komoditas beras perlu diikuti dengan perhatian yang sama terhadap komoditas pangan strategis lainnya, termasuk ubi kayu atau singkong. Oleh karena itu, pemerintah turun langsung ke lapangan untuk memetakan berbagai tantangan yang masih dihadapi para petani.
“Hari ini saya ke Lampung khusus ngecek singkong, karena di komoditi ini masih banyak berbagai dinamika dan tantangan,” tuturnya.
3. Petani sampaikan keluhan ke Gibran

Dalam kesempatan itu, para petani menyampaikan sejumlah persoalan yang mereka hadapi. Aspirasi tersebut meliputi usulan penyesuaian Harga Eceran Tertinggi (HET) singkong, kebutuhan alat dan mesin pertanian (alsintan), perbaikan jalan perkebunan guna memperlancar distribusi hasil panen, hingga penguatan permodalan koperasi simpan pinjam agar petani memperoleh akses pupuk dengan harga yang lebih terjangkau.
Merespons berbagai masukan tersebut, Gibran menegaskan, pemerintah berkomitmen bikin kebijakan yang mampu menjaga stabilitas harga sekaligus melindungi kepentingan petani dalam negeri. Salah satu langkah yang dinilai penting adalah penguatan regulasi terkait impor ubi kayu beserta produk turunannya.
"Untuk menjaga stabilitas harga, ini saya kira ada terkait regulasi ya, pembatasan impor ubi kayu dan turunannya, ada pembatasan itu," ungkap dia.
Selain itu, Gibran memastikan seluruh aspirasi yang disampaikan akan segera dibahas bersama kementerian dan lembaga terkait. Menurutnya, penyelesaian persoalan HET, standardisasi alat ukur, serta penetapan kadar aci akan menjadi faktor penting dalam menciptakan tata niaga singkong yang lebih adil dan memberikan kepastian harga bagi petani.
“Masalah HET, Nanti segera didiskusikan dengan pimpinan kami. Lalu standarisasi alat ukur, kadar aci. Nanti sudah ada tiga itu, saya yakin harga akan stabil, tidak fluktuatif lagi, dan untuk masalah kesejahteraan akan meningkat” urainya.
Turut mendampingi Gibran dalam kegiatan tersebut Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela, Bupati Lampung Timur Ela Siti Nuryamah, Sekretaris Daerah Lampung Timur Rustam Effendi, Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (KPTPHP) Lampung Timur Eko Kurniawan, Plt. Sekretaris Wapres Al Muktabar, serta Staf Khusus Wapres Achmad Adhitya.



















