Sampah Pasar Kramat Jati 6.970 Ton, Pramono: Imbas Bantar Gebang

- Longsoran di zona 4A TPST Bantar Gebang menyebabkan penumpukan sampah di Jakarta, termasuk 6.970 ton di Pasar Induk Kramat Jati, namun kini kondisi sudah tertata kembali.
- Gubernur DKI Pramono Anung menilai beban TPST Bantar Gebang terlalu berat dengan akumulasi sekitar 55 juta ton sampah yang terus meningkat dari waktu ke waktu.
- Pemprov DKI menyiapkan tiga proyek PLTSa sebagai solusi jangka panjang pengelolaan sampah, termasuk pemanfaatan lahan di Bantar Gebang untuk pembangkit listrik tenaga sampah.
Jakarta, IDN Times — Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan longsoran sampah di TPST Bantar Gebang sempat memicu penumpukan sampah di sejumlah titik di Jakarta. Salah satu yang terdampak cukup besar adalah Pasar Induk Kramat Jati dengan volume mencapai sekitar 6.970 ton atau setara 410 truk tronton.
Pramono mengatakan penanganan penumpukan sampah butuh waktu 10 hari. Ia menjelaskan, saat kejadian, longsoran terjadi di zona 4A TPST Bantar Gebang sehingga membutuhkan waktu untuk penataan ulang operasional.
“Waktu itu di zona 4A, sehingga memang perlu waktu sekitar 10 hari untuk kita tata kembali. Tapi sekarang sudah tertata kembali, dan beberapa tumpukan bukan hanya di Kramat Jati, di sejumlah tempat juga terjadi. Namun saat ini hampir semua sudah bersih karena Bantar Gebang sudah bisa digunakan kembali,” ujar Pramono di Balai Kota, Selasa (31/3/2026)
1. Garap proyek PLTSa

Selain memastikan kondisi operasional TPST telah kembali normal, Pramono mengaku telah berkomunikasi langsung dengan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan terkait rencana pemanfaatan lahan di Bantar Gebang untuk proyek pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa).
"Saya tadi komunikasi langsung dengan Pak Menko Pangan, dan beliau meminta untuk lahan di Bantar Gebang yang dipersiapkan untuk pembangkit listrik tenaga sampah sudah kami persiapkan," ujarnya.
2. Beban TPST Bantar Gebang sudah terlalu berat

Pramono menilai beban TPST Bantar Gebang sudah terlalu berat setelah puluhan tahun menjadi tumpuan pembuangan sampah ibu kota. Dia menyebut akumulasi sampah di lokasi tersebut telah mencapai sekitar 55 juta ton dan terus bertambah dari waktu ke waktu.
“Saya setuju dengan Pak Menko, Bantar Gebang ini sudah terlalu lama bebannya sangat berat. Di sana sudah ada sekitar 55 juta ton sampah yang menumpuk dari waktu ke waktu. Tanpa menyalahkan siapa pun, ini memang akumulasi persoalan yang berlangsung lama,” kata Pramono.
3. Tiga PLTSa jadi solusi pengolahan sampah Jakarta

Rencananya, Jakarta akan memiliki tiga fasilitas pembangkit listrik tenaga sampah sebagai bagian dari solusi jangka panjang pengelolaan sampah ibu kota.
"Jakarta untuk pembangkit listrik tenaga sampah akan ada tiga dan kami sudah mengirim surat secara resmi kepada Bapak Menko dan juga menteri terkait," ucapnya
4. Sampah Pasar Induk Kramat Jati capai 410 Tronton

Sekretaris Perusahaan Perumda Pasar Jaya, Imam Kurniawan memaparkan, sampah di Pasar Induk Kramat Jati mencapai sekitar 6.970 ton atau setara 410 tronton.
Sebagai langkah percepatan penanganan, lanjut Imam, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta bersama Perumda Pasar Jaya terus berkoordinasi dan melakukan pengangkutan secara intensif.
"Sejauh ini sudah terangkut sebanyak 33 tronton sampah, terdiri dari 20 armada pada hari sebelumnya, 13 armada pada 28 Maret, dan hari ini ditambah empat truk lagi," bebernya.
Ia memastikan, proses pembersihan akan terus dilakukan hingga kondisi Pasar Induk kembali normal

















