Iran Tegaskan Keputusan Akhiri Perang Harus Jamin Keamanan Warga

- Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan keputusan mengakhiri perang dengan AS dan Israel harus menjamin keamanan warga serta dianalisis matang agar tidak merugikan negara.
- Iran menolak proposal perdamaian 15 poin dari AS karena dianggap hanya menguntungkan pihak Amerika dan tidak realistis, meski tekanan diplomatik terus meningkat.
- Presiden AS Donald Trump mengklaim Iran telah menyetujui proposal perdamaian tersebut, meski pernyataan itu bertentangan dengan penolakan resmi dari pemerintah Iran.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Iran menegaskan setiap keputusan yang diambil untuk mengakhiri perang dengan Amerika Serikat dan Israel harus menjamin kepentingan dan keamanan seluruh warga. Sebab, jika tidak, keputusan untuk mengakhiri perang dengan kedua negara tersebut akan percuma.
Oleh karena itu, dalam pernyataannya di rapat kabinet pada Senin (30/3/2026), Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengatakan tidak akan sembrono dalam mengambil keputusan untuk mengakhiri konflik dengan AS dan Israel. Sebab, ia ingin pemerintah menganalisis secara detail aspek untung dan rugi dari keputusan tersebut.
1. Keputusan yang tepat akan membuat Iran menang

Dalam rapat tersebut, Pezeshkian juga menegaskan keputusan yang tepat akan membuat Iran menang telak melawan AS dan Israel. Begitu pula sebaliknya. Jika salah mengambil keputusan, maka Iranlah yang bakal mengalami kekalahan.
Lebih lanjut, dalam rapat tersebut, Pezeshkian juga menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya untuk semua pasukan militer Iran yang telah berjuang melawan AS dan Israel. Ia menyebut mereka semua berjasa karena telah menjaga kedaulatan negara dari ancaman eksternal.
“Perlawanan yang ditunjukkan oleh tentara bersama dengan persatuan nasional yang ditunjukkan oleh rakyat Iran selama perang adalah beberapa faktor terpenting yang membantu negara mengatasi keadaan kritis seperti yang terjadi saat ini," kata Pezeshkian, seperti dilansir Anadolu Agency.
2. Iran menolak bernegosiasi dengan AS

Kehati-hatian ini membuat Iran kerap menolak untuk bernegosiasi dengan AS. Padahal, AS sudah berulang kali mengajak Iran duduk bersama di meja perundingan agar perang segera berakhir.
Beberapa waktu lalu, AS juga sudah mengirimkan proposal perdamaian ke Iran. Proposal yang berisi 15 poin tersebut dikirim ke Iran lewat perantara Negeri Paman Sam yang ada di Pakistan. Namun, setelah melakukan peninjauan, Iran memutuskan untuk menolak proposal perdamaian yang diusulkan AS. Sebab, Iran menilai proposal tersebut hanya menguntungkan AS saja.
“Proposal perdamaian yang diajukan AS adalah berlebihan, tidak realistis, dan tidak masuk akal,” ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghei, dilansir Al Jazeera.
3. Trump mengklaim Iran sudah menyetujui proposal perdamaian

Namun, Presiden AS, Donald Trump, mengklaim Iran sudah menyetujui proposal perdamaian yang diajukan olehnya. Klaim tersebut disampaikan dalam acara konferensi pers yang digelar di pesawat Air Force One pada Minggu (29/3/2026) lalu.
Dalam pernyataannya, Trump mengatakan, setelah melakukan negosiasi panjang, Iran akhirnya menyetujui proposal perdamaian yang diusulkan oleh AS. Namun, kata dia, Iran tetap meminta beberapa hal selain yang sudah disetujui di dalam proposal tersebut.
“Kami bernegosiasi dengan mereka (Iran) secara langsung dan tidak langsung. Kami memiliki utusan, tetapi kami juga berurusan langsung (dengan Iran). AS sangat baik dalam negosiasi itu,” ujar Trump kepada awak media dilansir Jerusalem Post.


















