Sekolah Rakyat Jasinga Bogor Capai 76 Persen, Bakal Tampung 1.000 Siswa

- Pembangunan gedung permanen Sekolah Rakyat di Desa Sipak, Jasinga, Bogor telah mencapai 76 persen dan ditargetkan siap menampung 1.000 siswa pada tahun ajaran 2026/2027.
- Sekolah Rakyat menerapkan sistem penjangkauan langsung tanpa pendaftaran formal, menyasar anak-anak dari keluarga Desil-1 dan Desil-2 agar mendapat akses pendidikan gratis.
- Program ini menjadi langkah strategis pemerintah untuk memutus rantai kemiskinan ekstrem melalui pendidikan, disambut positif oleh warga Desa Sipak sebagai wilayah penerima pertama di Kabupaten Bogor.
Bogor, IDN Times – Pembangunan gedung permanen Sekolah Rakyat di Desa Sipak, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor, terus dikebut oleh pemerintah daerah dan kini progres fisiknya telah menyentuh angka 76 persen.
Proyek infrastruktur pendidikan gratis bentukan pusat ini ditargetkan rampung tepat waktu agar bisa menampung hingga 1.000 siswa pada tahun ajaran baru 2026/2027.
Sekolah ini dirancang khusus sebagai program strategis Presiden Republik Indonesia guna memutus rantai kemiskinan ekstrem melalui sektor pendidikan formal berkualitas. Sebagai langkah persiapan operasional, Dinas Sosial Kabupaten Bogor juga mulai gencar menggelar sosialisasi skema pengajaran kepada aparatur wilayah dan warga setempat.
1. Target beroperasi tahun ajaran 2026/2027

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Bogor, Farid Ma’ruf, menyebutkan angka mengenai pogres pembangunan Sekolah Rakyat Jasinga saat ini telah mencapai 76 persen.
Ia juga menjelaskan bahwa pemerintah daerah mengupayakan agar seluruh fasilitas penunjang gedung permanen di Jasinga sudah siap pakai begitu kalender akademik baru dimulai. menyebutkan
Sebelum bangunan di Desa Sipak ini rampung, kegiatan belajar mengajar sebenarnya sudah dicicil dan berjalan melalui dua sekolah rintisan di wilayah lain.
"Untuk saat ini, proses pembelajaran telah dimulai melalui sekolah rintisan di Ciseeng dan Cibinong. Para siswa di sekolah rintisan itu nantinya akan langsung dipindahkan ke lokasi permanen di Jasinga setelah seluruh pembangunan selesai," ujar Farid saat sosialisasi di Aula Kecamatan Jasinga, Rabu (24/6/2026).
2. Gunakan sistem penjangkauan langsung, bukan pendaftaran reguler

Berbeda dengan sekolah negeri atau swasta pada umumnya yang membuka jalur Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), Sekolah Rakyat menerapkan metode jemput bola. Petugas sosial disebar ke desa-desa untuk menyisir anak-anak putus sekolah berdasarkan klaster kemiskinan.
Farid menjelaskan Tidak ada sistem pendaftaran formal atau birokrasi seleksi nilai akademik di pos pendaftaran. Target penelusuran difokuskan mutlak pada anak usia sekolah yang keluarganya tercatat dalam kategori data kesejahteraan Desil-1 (sangat miskin) dan Desil-2 (miskin).
“Tidak ada sistem pendaftaran dalam Sekolah Rakyat. Yang dilakukan adalah penjangkauan. Kami melakukan penelusuran terhadap keluarga Desil-1 dan Desil-2 yang memiliki anak usia sekolah untuk memastikan mereka mendapatkan akses pendidikan melalui program ini,” tegas Farid.
3. Sektor krusial pengentasan kemiskinan ekstrem yang diapresiasi warga

Kehadiran pembangunan proyek ini dinilai menjadi angin segar bagi wilayah Bogor Barat yang secara geografis membutuhkan banyak intervensi sarana pendidikan gratis.
Kepala Desa Sipak, Agung Suryadinata, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasihnya karena desanya dipilih menjadi lokasi episentrum Sekolah Rakyat pertama di Kabupaten Bogor.
Selain itu Farid kembali menegaskan bahwa pemerintah akan selalu memberikan sosialisasi langsung ke warga untuk menyasar calon peserta didik yang sesuai agar dapat memberi informasi mengenai konsep dari Sekolah Rakyat secara langsung.
“Sekolah Rakyat adalah salah satu program strategis Presiden untuk mengatasi kemiskinan melalui pendidikan. Dalam sosialisasi ini kami menyampaikan konsep Sekolah Rakyat, mekanisme pelaksanaannya, sasaran penerima manfaat, hingga gambaran pengembangannya ke depan,” pungkas Farid Ma'ruf.


















