Spiritual Milenial dan Gen Z Alami Transformasi, Dipengaruhi Teknologi Digital

- Generasi Milenial dan Gen Z Indonesia mengalami transformasi spiritual, beralih dari ritual formal menuju pencarian makna hidup yang lebih personal dan relevan dengan pengalaman individu.
- Teknologi digital mendorong perubahan cara belajar agama; hampir separuh Gen Z memanfaatkan platform online untuk eksplorasi spiritual tanpa bergantung pada lembaga keagamaan tradisional.
- Perempuan muda paling aktif mengakses konten spiritual nonformal seperti mindfulness dan tarot, menandakan kebutuhan spiritual tetap kuat meski keterikatan terhadap institusi berkurang.
Jakarta, IDN Times - Generasi Milenial dan Gen Z Indonesia menunjukkan cara baru dalam memaknai spiritualitas dan agama. Temuan terbaru Indonesia Millennial and Gen Z Report 2027 dari IDN Research Institute mengungkap, praktik beragama di kalangan anak muda tidak lagi sepenuhnya terikat pada institusi atau ritual formal.
Mereka tetap mencari makna hidup, nilai moral, dan ketenangan batin, namun dengan pendekatan yang lebih personal dan relevan dengan pengalaman masing-masing.
Laporan tersebut disusun melalui metode mixed-method yang menggabungkan survei kuantitatif, wawancara mendalam, serta triangulasi dengan berbagai data nasional. Survei dilakukan terhadap Milenial dan Gen Z di sembilan wilayah Indonesia, mulai dari Sumatra Utara, Batam, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan, hingga Sulawesi.
Hasil riset menunjukkan, spiritualitas di kalangan generasi muda tidak mengalami penurunan, melainkan mengalami transformasi. Anak muda tetap menganggap nilai, tujuan hidup, dan hubungan dengan sesuatu yang lebih besar sebagai aspek penting. Perbedaannya, ekspresi spiritual kini lebih banyak diwujudkan melalui pengalaman pribadi dibanding keterikatan terhadap struktur keagamaan formal.
1. Transformasi spiritual dipengaruhi teknologi digital

Perubahan tersebut juga dipengaruhi perkembangan teknologi digital. Sekitar 49 persen Gen Z memanfaatkan platform digital untuk mempelajari agama dan spiritualitas. Pola ini menunjukkan proses pencarian makna hidup semakin banyak dilakukan secara mandiri, tanpa harus bergantung pada lembaga atau komunitas keagamaan tradisional.
Di Indonesia, IDN Research Institute mengidentifikasi tiga kelompok utama dalam pola keberagamaan generasi muda. Kelompok pertama adalah Selective Devout yang aktif berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan dan lebih responsif terhadap pesan berbasis komunitas.
Kelompok kedua adalah Spiritual Pragmatist yang lebih mengutamakan relevansi nilai dibanding ritual. Sementara kelompok ketiga, Meaning Seeker, tetap menghormati agama tetapi lebih terbuka terhadap berbagai bentuk spiritualitas nonformal.
2. Temuan dalam survei

Temuan lain memperlihatkan otoritas keagamaan kini dinilai berdasarkan relevansi dan autentisitas, bukan semata posisi atau afiliasi kelembagaan. Sekitar 47,2 persen responden mengikuti tokoh agama atau spiritual di media sosial karena kontennya dianggap relevan dengan kehidupan pribadi. Di sisi lain, 50,4 persen responden mengaku tidak mengikuti tokoh agama di media sosial sama sekali.
Meski hubungan dengan institusi agama berubah, fungsi agama tetap kuat dalam kehidupan sehari-hari. Sebanyak 68 persen responden memandang agama sebagai sarana untuk bersyukur, 64 persen menjadikannya pedoman moral, dan 50 persen menganggap agama sebagai sumber ketenangan batin. Data ini menunjukkan kebutuhan spiritual tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan generasi muda Indonesia.
Riset tersebut juga menemukan meningkatnya ketertarikan terhadap spiritualitas nonformal seperti astrologi, tarot, mindfulness, dan konten refleksi diri. Sebanyak 39 persen responden mengaku rutin mengonsumsi konten spiritual nonreligius, sementara 42,3 persen mengaksesnya sesekali karena rasa ingin tahu. Fenomena ini lebih banyak didorong kebutuhan memahami diri sendiri, mencari hiburan, serta keinginan untuk merasa dipahami.
3. Perempuan Milenial dan Gen Z paling aktif akses konten spiritual nonformal

Perempuan Milenial dan Gen Z menjadi kelompok yang paling aktif mengakses konten spiritual nonformal. Temuan ini menunjukkan kebutuhan spiritual tidak menghilang ketika keterikatan terhadap institusi berkurang. Sebaliknya, kebutuhan tersebut menemukan saluran baru yang lebih fleksibel, personal, dan dekat dengan keseharian mereka.
Laporan ini menyimpulkan spiritualitas generasi muda Indonesia terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Bagi Milenial dan Gen Z, keyakinan tidak lagi sekadar diwariskan, melainkan dipilih, dipahami, dan dibangun ulang melalui pengalaman hidup. Di tengah ketidakpastian ekonomi, sosial, dan budaya, spiritualitas hadir sebagai cara untuk memahami diri sendiri sekaligus menemukan arah hidup yang dianggap paling relevan.
IDN menggelar Indonesia Summit (IS) 2026, sebuah konferensi independen yang khusus diselenggarakan untuk dan melibatkan generasi Milenial dan Gen Z di Tanah Air. Dengan tema "The Next Us: Indonesia's Leap in the Algorithmic Age". IS 2026 bertujuan membentuk dan membangun masa depan Indonesia dengan menyatukan para pemimpin dan tokoh nasional dari seluruh nusantara.
IS 2026 diadakan di Tribrata Dharmawangsa, Jakarta, pada 17-18 Juni 2026. Dalam IS 2026, IDN juga meluncurkan Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2027.
Survei ini dikerjakan oleh IDN Research Institute. Melalui survei ini, IDN Media menggali aspirasi dan DNA Milenial dan Gen Z, apa nilai-nilai yang mendasari tindakan mereka. Survei ini menjangkau responden Milenial dan Gen Z di sembilan wilayah di Indonesia, antara lain Sumatra Utara, Kepulauan Riau, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan, dan Sulawesi.


















