Riset: 81 Persen Gen Z Indonesia Pernah Curhat ke AI, Ini Alasannya

- Survei IDN Research Institute menunjukkan 81,1% Gen Z Indonesia pernah curhat ke AI, menandakan meningkatnya ketergantungan generasi muda pada chatbot untuk kebutuhan emosional dan komunikasi pribadi.
- Sebagian besar responden memilih AI karena merasa lebih aman, tidak dihakimi, serta selalu tersedia; bahkan 74,1% mengaku percakapan dengan AI memengaruhi keputusan hidup mereka.
- Pasar roleplay chatbot AI tumbuh pesat hingga diproyeksikan mencapai USD 1,9 miliar pada 2031, dengan Indonesia menjadi pengguna terbesar kedua dunia melalui akses mobile.
Jakarta, IDN Times — Di era ketika teknologi semakin mampu meniru percakapan manusia, chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI) mulai mengambil peran yang lebih personal, dalam kehidupan generasi muda.
Bagi sebagian Gen Z dan Milenial, chatbot AI bukan lagi sekadar alat untuk mencari informasi, tetapi menjadi ruang untuk bercerita, mengekspresikan emosi, bahkan mencari kenyamanan tanpa rasa takut dihakimi.
Laporan IDN Research Institute menunjukkan fenomena roleplay chatbot AI berkembang seiring meningkatnya kebutuhan generasi muda akan ruang aman, di tengah kehidupan digital yang semakin kompleks. Melalui platform seperti Character.AI, Chai, Emochi, dan aplikasi serupa, pengguna dapat menciptakan karakter sesuai keinginan mereka dan melakukan percakapan yang terasa lebih personal.
Berbeda dengan interaksi sosial di dunia nyata yang sering kali disertai rasa takut akan penolakan atau penghakiman, chatbot AI menawarkan pengalaman berbicara tanpa tekanan. Pengguna dapat membentuk kepribadian chatbot melalui berbagai instruksi dan contoh percakapan, bahkan menciptakan identitas alternatif untuk bereksperimen dengan emosi, karakter, dan skenario tertentu.
1. Survei IDN Research menemukan lebih dari 80-60 persen Gen Z dan Milenial pernah curhat kepada AI

Data global menunjukkan tren ini berkembang pesat. Survei Pew Research Center pada Desember 2025 terhadap 1.458 remaja di Amerika Serikat berusia 13–17 tahun menemukan 64 persen responden pernah menggunakan chatbot AI. Sekitar tiga dari sepuluh remaja menggunakan setiap hari, sementara satu dari sebelas secara khusus menggunakan Character.AI.
Fenomena tersebut juga tercermin di Indonesia. Survei IDN Research Institute terhadap 183 responden Gen Z dan Milenial pada Januari–April 2026, menemukan lebih dari 70 persen responden pernah curhat kepada AI. Angka tersebut lebih tinggi pada Gen Z, yakni mencapai 81,1 persen, dibandingkan Milenial sebesar 63,6 persen.
2. Chatbot jadi ruang aman

Alasan utama mereka beralih ke AI bukan sekadar mencari hiburan. Sebanyak 43,7 persen responden merasa lingkungan sekitar tidak menyediakan ruang aman yang cukup untuk bercerita. Dari kelompok tersebut, 88 persen memilih AI sebagai alternatif tempat untuk mencurahkan pikiran dan perasaan.
Topik yang paling banyak dibahas pun mencerminkan beban hidup yang nyata, mulai dari overthinking dan kecemasan, persoalan karier serta masa depan, hingga burnout. Mereka merasa nyaman menggunakan AI karena selalu tersedia (73,3 persen), tidak menghakimi (68,9 persen), dan menawarkan privasi (54,8 persen).
Pengaruh AI terhadap kehidupan pengguna juga tidak dapat dianggap sepele. Sebanyak 74,1 persen responden mengaku percakapan dengan AI pernah memengaruhi keputusan yang mereka ambil dalam hidup.
3. Pasar roleplay chatbot AI menunjukkan pertumbuhan yang sangat cepat

Dari sisi gender, perempuan terlihat lebih terbuka dalam menggunakan AI sebagai ruang berbagi emosional. Sebanyak 64,4 persen perempuan mengaku lebih mudah membicarakan hal-hal personal dengan AI dibandingkan laki-laki.
Secara industri, pasar roleplay chatbot AI juga menunjukkan pertumbuhan yang sangat cepat. Pasar ini diproyeksikan tumbuh dari 500 juta dolar AS pada 2025 menjadi 1,9 miliar dolar AS pada 2031. Indonesia menjadi salah satu pasar yang menonjol.
Data lalu lintas Semrush menunjukkan Indonesia berada di posisi kedua dunia dalam jumlah kunjungan ke Character.AI dengan kontribusi 6,68 persen atau sekitar 13,01 juta kunjungan, berada di bawah Amerika Serikat dan melampaui Brasil, India, serta Meksiko. Sebanyak 95,42 persen pengguna Indonesia mengakses platform tersebut melalui perangkat mobile.
4. Ancaman di balik Character AI

Character.AI sendiri telah menghadapi sejumlah gugatan hukum terkait dugaan dampak negatif terhadap kesehatan mental pengguna muda, termasuk kasus yang melibatkan Sewell Setzer III, remaja berusia 14 tahun di Amerika Serikat yang meninggal akibat bunuh diri setelah interaksi intens dengan chatbot.
Kasus-kasus tersebut mendorong Character.AI menerapkan pembatasan percakapan terbuka bagi pengguna di bawah usia 18 tahun, dan memperkenalkan sistem verifikasi usia.
Meski demikian, laporan IDN Research Institute menilai daya tarik chatbot AI bagi Gen Z dan Milenial bukan karena mereka tidak mampu membedakan dunia digital dengan realitas.
Teknologi ini menarik karena menyediakan sesuatu yang sering kali sulit ditemukan dalam kehidupan nyata: ruang untuk berekspresi tanpa konsekuensi, koneksi tanpa risiko penolakan, dan kemampuan untuk mengendalikan cerita yang mereka jalani.


















