Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Strategi TNI AL Hemat BBM: Kerahkan Drone hingga KSOT untuk Patroli Laut

Strategi TNI AL Hemat BBM: Kerahkan Drone hingga KSOT untuk Patroli Laut
Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL), Laksamana Muhammad Ali. (Dokumentasi TNI AL)
Intinya Sih
Gini Kak
  • TNI AL menerapkan strategi hemat BBM dengan mengerahkan drone dan kapal selam otonomus (KSOT) untuk patroli laut, menjaga efisiensi tanpa mengurangi intensitas pengawasan wilayah perairan Indonesia.
  • Penggunaan bahan bakar nabati B50 akan diterapkan secara bertahap pada kapal perang TNI AL guna mengurangi ketergantungan terhadap minyak mentah dan mendukung operasional berkelanjutan di laut.
  • TNI AL mulai uji coba bus listrik berkapasitas 33 kursi di Mabes TNI sebagai langkah menuju mobilitas hijau, efisiensi energi, serta dukungan terhadap target Net Zero Emission 2060.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali mengatakan pihaknya menyiapkan sejumlah langkah untuk mengurangi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) di tengah eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah.

Sejumlah langkah yang ditempuh antara lain mengerahkan drone dan kapal selam otonomus (KSOT), untuk melakukan patroli laut. Hal itu dilakukan untuk mendukung peran kapal perang yang tetap harus melakukan tugas patroli di wilayah laut Indonesia.

"Kami akan mengedepankan juga penggunaan drone karena sangat efektif dan efisien ya. Bahkan, nanti ke depan seperti KSOT (Kapal Selam Otonomus) yang juga sudah diketahui akan kami gunakan untuk bawah air," ujar Ali dalam keterangan, Minggu (19/4/2026).

TNI AL, kata Ali, sangat mendukung upaya pemerintah untuk mengurangi penggunaan BBM. Sambil di satu sisi Ali mencari akal supaya patroli laut tidak mengendur, karena adanya kebijakan efisiensi BBM. Itu sebabnya, alutsista yang mengandalkan tenaga listrik seperti drone dan KSOT bisa dimanfaatkan dengan maksimal untuk menjaga kawasan laut Indonesia.

1. TNI AL akan gunakan bahan bakar jenis B50 untuk BBM kapal perang

Strategi TNI AL Hemat BBM: Kerahkan Drone hingga KSOT untuk Patroli Laut
Kapal fregat KRI Prabu Siliwangi-321 ketika tiba di dermaga 107, Jakarta Utara usai melalui perjalanan selama satu bulan. (IDN Times/Santi Dewi)

Ali mengatakan pihaknya akan menggunakan BBM B50 untuk menjaga kawasan laut Indonesia. Bahan bakar B50 merupakan bahan bakar nabati yang memiliki campuran 50 persen solar dan 50 persen minyak kelapa sawit (CPO). Penggunaan B50, kata dia, dapat mengurangi ketergantungan TNI AL terhadap bahan bakar yang berasal dari minyak mentah.

"Ke depan kami akan menggunakan bahan bakar B50. Tentunya ada modifikasi dari permesinan yang ada di kapal nantinya," kata dia.

Ali menyebut penggunaan B50 juga dianggap mampu mendukung operasional kapal yang memiliki mobilitas tinggi, seperti patroli laut hingga misi pengiriman logistik atau pasukan. Realisasi penggunaan bahan bakar B50 akan dilakukan secara bertahap dalam waktu dekat.

"Untuk patroli sementara, kami masih menggunakan kapal-kapal yang menggunakan bahan bakar B35," tutur dia.

B35 merupakan jenis bahan bakar diesel yang merupakan campuran antara 35 persen biodiesel dan 65 persen solar (diesel fosil). Biodiesel berasal dari minyak nabati, terutama kelapa sawit yang diolah menjadi Fatty Acid Methyl Ester (FAME).

2. TNI AL mulai uji coba penggunaan bus listrik di lingkungan TNI

Strategi TNI AL Hemat BBM: Kerahkan Drone hingga KSOT untuk Patroli Laut
Bus listrik TNI AL. (IDN Times/Trio Hamdani)

Selain itu, TNI AL juga mendorong transformasi mobilitas hijau di lingkungan TNI. Mereka berencana menggunakan bus listrik di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur. Maka, pada Rabu, 16 April 2026, TNI AL melakukan uji coba perdana bus listrik di Mabes TNI AL.

Hal itu diklaim sekaligus memberikan kontribusi langsung terhadap ketahanan energi nasional, pengurangan ketergantungan BBM impor dan pencapaian target Net Zero Emission 2060. Ali mengatakan bus listrik dioperasikan selain untuk mengurangi polusi udara di wilayah Jakarta, juga untuk meningkatkan mobilitas prajurit.

"Ke depan, penggunaan kendaraan listrik akan terus ditingkatkan dan diperluas tak hanya di Jakarta, tetapi juga di Kotama TNI AL lainnya di seluruh Indonesia. Dengan pemanfaatan bus listrik, mobil listrik dan kendaraan hybrid diharapkan mampu menghemat penggunaan bahan bakar hingga 50 persen, dan menjadi bagian dari transformasi menuju sistem kerja yang lebih efisien dan ramah lingkungannya," kata Ali.

3. Bus listrik yang akan beroperasi di Mabes AL berkapasitas 33 kursi

Strategi TNI AL Hemat BBM: Kerahkan Drone hingga KSOT untuk Patroli Laut
Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL), Laksamana TNI Muhammad Ali ketika menjajal bus listrik di Mabes AL. (Dokumentasi TNI AL)

Bus listrik yang akan dioperasikan TNI AL memiliki kapasitas 33 kursi penumpang dengan tipe heavy duty yang berbobot 15,2 ton. Bus itu menggunakan baterai lithium iron phosphate berkapasitas 255 kWh dengan kapasitas maksimal 100 kpj. Bus ini telah melalui serangkaian uji ekstrem meliputi getaran, kejut mekanis, perendaman air, api eksternal, hingga arus lebih.

Bus juga dilengkapi dengan fitur keselamatan seperti Main Power Cut Off Switch, pemadam APAR otomatis di ruang baterai atau kontrol dan deteksi asap serta GPS tracking, baterry monitoring dan CCTV 12 kamera.

Upaya TNI AL itu untuk mengimplementasikan kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang disampaikan secara verbal. Dalam pidatonya, Prabowo mengatakan akan mendorong transisi secara bertahap penggunaan BBM ke energi listrik. Ia menargetkan penghematan BBM hingga 200 ribu barrel per hari atau sekitar 20 persen dan produksi 100 gigawatt untuk mengurangi ketergantungan impor BBM.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Rochmanudin Wijaya
EditorRochmanudin Wijaya
Follow Us

Latest in News

See More