Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Tangis Risnawati di Tengah Asap Karhutla Suami Meninggal, Anak ISPA

4 min read
Tangis Risnawati di Tengah Asap Karhutla Suami Meninggal, Anak ISPA
Warga Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Risnawati usai terima santunan, Sabtu (24/10/2026) /(IDN Times Dini Suciatiningrum) )
  • Risnawati kehilangan suaminya yang meninggal mendadak akibat serangan jantung pada 26 Juli 2026, lalu harus membesarkan lima anak seorang diri tanpa pekerjaan.

  • Keluarga Risnawati menghadapi paparan kabut asap karhutla di Liang Anggang; jarak pandang terbatas mengganggu perjalanan sekolah dan dilaporkan memicu risiko kecelakaan.

  • Anak-anak Risnawati berulang kali mengalami gejala ISPA berupa pilek dan batuk. Santunan BPJS Ketenagakerjaan memberi beasiswa pendidikan bagi dua dari lima anaknya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Banjarbaru, IDN Times - Tiga anak Risnawati yang masih balita tampak ceria berlarian di Pondok Pesantren Al Falah, Kalimantan Selatan, Sabtu (25/10/2026). Di tengah keceriaan buah hatinya, Risnawati hanya bisa menatap nanar.

Matanya membengkak, menahan kesedihan setelah kehilangan suami di tengah bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kalimantan Selatan.

Hampir tiga bulan berlalu sejak suaminya meninggal mendadak pada 26 Juli 2026. Namun, duka itu belum juga reda. Risnawati kini harus menjalani hidup seorang diri bersama lima anaknya, tanpa pekerjaan dan dengan pendidikan yang terbatas.

"Bingung. Saya enggak kerja, enggak tahu ini mau bagaimana, terlebih sekolah saya enggak tinggi seperti orang-orang, enggak tahu keadaannya begini," ucap Risnawati dengan suara bergetar menahan tangis.

  1. 1. Terjang kabut asap karhutla saat bekerja

    Kondisi lahan gambut yang terbakar di Kalimantan Selatan
    Kondisi lahan gambut yang terbakar di Kalimantan Selatan, Minggu (25/10/2026)/ (IDN Times Dini Suciatiningrum)

    Suami Risnawati semasa hidup bekerja sebagai staf administrasi di perusahaan swasta di Banjarbaru. Setiap hari, ia berangkat bekerja sekitar pukul 08.00 WITA dan pulang pada sore hari.

    Rutinitas itu tetap dijalaninya ketika karhutla mulai melanda Kalimantan Selatan. Dalam perjalanan pergi dan pulang kerja, suami Risnawati harus melewati kawasan yang diselimuti asap kebakaran.

    Risnawati mengatakan, suaminya tidak memiliki riwayat penyakit yang diketahui keluarga. Sebelum meninggal, pria berusia 45 tahun itu juga tidak pernah mengeluhkan gangguan kesehatan serius.

    Pada 26 Juli 2026, suaminya masih beraktivitas seperti biasa. Setelah salat Zuhur, ia duduk di rumah sambil makan dan berbincang dengan keluarga. Namun, tidak lama kemudian, kondisinya mendadak memburuk.

    "Enggak sakit sebenarnya. Selesai salat Zuhur, duduk di rumah sambil makan, ngomong, lalu kayak pusing kepalanya. Langsung meninggal," kenangnya.

  2. 2. Suami terkena serangan jantung

    Kondisi lahan gambut yang terbakar di Kalimantan Selatan
    Kondisi lahan gambut yang terbakar di Kalimantan Selatan, Minggu (25/10/2026)/ (IDN Times Dini Suciatiningrum)

    Setelah dibawa ke rumah sakit, keluarga mendapat keterangan bahwa suaminya mengalami serangan jantung. Kepergiannya yang mendadak membuat Risnawati terpukul, terlebih ia harus membesarkan lima anak tanpa kehadiran sosok ayah.

    Risnawati meyakini kondisi udara saat itu turut memengaruhi kesehatan almarhum. Suaminya setiap hari harus melintasi jalanan yang terpapar asap karhutla untuk bekerja.

    "Ya memengaruhi. Pulang pergi kan jam 8.00 pergi kerjanya ke Banjarbaru," ujarnya.

  3. 3. Anak sekolah di tengah asap

    Kondisi lahan gambut yang terbakar di Kalimantan Selatan
    Kondisi lahan gambut yang terbakar di Kalimantan Selatan, Minggu (25/10/2026)/ (IDN Times Dini Suciatiningrum)

    Tak hanya suaminya yang harus beraktivitas di tengah paparan asap, Risnawati dan anak-anaknya juga menghadapi kondisi serupa. Mereka tinggal di Pembataan, Landasan Ulin Selatan, Kecamatan Liang Anggang, kawasan yang menurut Risnawati kerap diselimuti kabut asap.

    Pada pagi hari, ketika anak-anak bersiap berangkat sekolah, mereka harus melewati jalanan dengan jarak pandang terbatas. Situasi tersebut tidak hanya mengganggu aktivitas warga, tetapi juga meningkatkan risiko kecelakaan.

    Risnawati mengatakan, kawasan sekitar Trikora menjadi salah satu titik yang menurutnya kerap diselimuti asap tebal. Ia bahkan mendengar kabar sejumlah warga mengalami kecelakaan ketika melintas di jalan tersebut.

    "Apanya kondusif? Di situ kami banyak yang kecelakaan kadang, ada yang jatuh, ada yang tabrakan. Padahal bawa sepedanya pelan aja," katanya.

    Menurut Risnawati, jarak pandang yang terbatas membuat pengendara kesulitan melihat kondisi jalan di depan mereka. Kabut asap bisa ditemui saat pagi, siang, hingga malam hari, terutama ketika kebakaran meluas.

    "Ini yang parah yang ini. Dulu enggak tebal kayak gini. Dulu tuh enggak terlalu terbakar. Ini hampir semua terbakar di tempat saya aja tiap hari kabut," ujarnya.

  4. 4. Anak pun terkena ISPA

    Peserta penyuluhan pencegahan ISPA di wilayah pembangunan IKN dan warga sekitar (IDN Times/Ervan)
    Peserta penyuluhan pencegahan ISPA di wilayah pembangunan IKN dan warga sekitar (IDN Times/Ervan)

    Kondisi tersebut juga berdampak pada kesehatan anak-anaknya. Risnawati mengatakan, anak-anaknya berulang kali mengalami keluhan yang ia sebut sebagai infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dengan gejala pilek dan batuk.

    Di tengah situasi itu, kegiatan sekolah masih berlangsung sehingga anak-anak tetap harus melewati jalanan yang diselimuti asap.

    "Kalau pagi ya menerjang kabutlah kami lewat sini. 'Ma, kabut mah gimana aja?' ISPA-lah anak-anak kena ISPA," tuturnya.

  5. 5. Santunan untuk biaya pendidikan

    Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) A. Muhaimin Iskandar atau Cak Imin dalam rangka Peringatan Hari Santri di Pondok Pesantren Al Falah Putera Banjarbaru, Kalimantan Selatan,
    Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) A. Muhaimin Iskandar atau Cak Imin dalam rangka Peringatan Hari Santri di Pondok Pesantren Al Falah Putera Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Sabtu (24/10/2026)/(IDN Times Dini Suciatiningrum)

    Di tengah kesulitan yang dihadapinya, Risnawati menerima santunan melalui kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan milik suaminya sebagai pekerja perusahaan swasta. Salah satu manfaat yang diterima keluarga berupa beasiswa pendidikan untuk dua anaknya.

    Bantuan tersebut setidaknya meringankan beban Risnawati dalam membayar biaya sekolah. Namun, beasiswa itu baru mencakup dua dari lima anak yang kini ia besarkan seorang diri.

    "Alhamdulillah, alhamdulillah bisa bayar uang sekolah dari itu," ucapnya.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More