Sementara, modifikasi cuaca sudah dilakukan di Kalimantan Tengah dalam dua periode berbeda. Pertama, pada 27 Juli hingga 4 Agustus 2026. OMC kedua digelar pada 11-15 Agustus 2026.
Tiga Casa TNI AU Dikerahkan Hadapi Karhutla yang Kepung Kalimantan

- TNI AU mengerahkan tiga Casa NC-212 ke Kalimantan Barat dan Timur untuk mendukung modifikasi cuaca, menyusul 1.487 titik panas di Pulau Kalimantan.
- Sebanyak 42 pesawat dikerahkan ke enam provinsi rawan karhutla; 20 unit fokus di Kalimantan untuk modifikasi cuaca dan water bombing.
- Asap karhutla membatalkan 12 penerbangan Bandara Singkawang pada 16-19 Agustus, berdampak pada 1.990 penumpang akibat jarak pandang rendah.
Jakarta, IDN Times - TNI Angkatan Udara (AU) kerahkan tiga pesawat jenis Casa NC-212 dari Skadron Udara 4 untuk mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Pulau Kalimantan. Hal itu karena titik panas sudah semakin meluas di Pulau Borneo. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah titik panas sudah mencapai 1.487 di Pulau Kalimantan saja.
"Tiga pesawat jenis Casa NC-212 dari Skadron Udara 4 itu diterbangkan dari Lanud Abdulrachman Saleh, Malang pada Jumat (21/8/2026) menuju Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur untuk memperkuat dukungan penanganan kebakaran hutan dan lahan di area tersebut," ungkap Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsekal Pertama, I Nyoman Suadnyana di dalam keterangan pada hari ini.
Ia menambahkan tiga Casa itu akan memperkuat unsur udara yang sudah berada di wilayah Kalimantan. Saat ini sudah ada 20 pesawat berbagai jenis yang dikerahkan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan beroperasi di Kalimantan.
"Pesawat itu terdiri dari atas lima helikopter, tiga pesawat untuk modifikasi cuaca, dan 12 helikopter besar untuk operasi water bombing," katanya.
Diharapkan dengan adanya tiga Casa dari TNI AU upaya pemadaman api akibat karhutla di Kalimantan bisa lebih optimal.
1. 42 pesawat telah dikerahkan ke enam provinsi yang masuk kategori darurat karhutla

Tiga pesawat jenis Casa NC-212 dari Skadron Udara 4 untuk mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Pulau Kalimantan. (Dokumentasi TNI AU) Sebelumnya, 42 pesawat telah dikerahkan ke enam provinsi yang menjadi wilayah dengan potensi kebakaran hutan dan lahan yakni Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Dari jumlah tersebut, 20 pesawat difokuskan untuk penanganan karhutla di Kalimantan. Sedangkan, 22 pesawat lainnya untuk meredam karhutla di Sumatra.
"Ini menjadi dukungan TNI AU bersama unsur terkait dalam menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan, termasuk melalui pelaksanaan OMC dan operasi water bombing di wilayah yang terdampak," kata Nyoman.
2. OMC sudah dilakukan di Kalimatan Barat dan Kalimantan Tengah

Pemerintah Perkuat Penanganan Karhutla di Kalimantan. (Dok. Bakom RI) Sementara, Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan, Ristianto Pribadi mengatakan OMC sudah dilakukan di dua provinsi di Pulau Kalimantan, yakni Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.
"OMC di Kalimantan Barat dilaksanakan pada periode 13 Agustus hingga 17 Agustus 2026 melalui posko Pontianak. Dalam periode tersebut, sudah ada sembilan sorti penerbangan dengan estimasi volume curah hujan di wilayah penyemaian mencapai 10,92 juta meter kubik," ujar Ristianto di dalam keterangan tertulis pada hari ini.
OMC gelombang kedua terbuka dilakukan di Kalbar pada periode 23 hingga 27 Agustus 2026. Kementerian Kehutanan mengacu data yang dirilis oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Mereka sedang mengupayakan agar OMC bisa dilakukan kembali di periode tersebut.
"Operasi tersebut mencakup 13 sorti penerbangan dengan estimasi volume curah hujan di wilayah penyemaian sekitar 4,8 juta meter kubik," tutur dia.
Ristianto mengakui, OMC hingga akhir Agustus 2026 sulit dilakukan sebab kondisi cuaca diperkirakan masih didominasi kondisi kering dengan pertumbuhan awan hujan yang terbatas.
3. Karhutla sebabkan 12 penerbangan menuju Bandara Singkawang dibatalkan

Kondisi Bandara H Asan di Kabupaten Kotawaringin Timur, Provinsi Kalimantan Tengah saat diselimut asap kabut karhutla. (Dokumentasi Kementerian Perhubungan) Asap yang dihasilkan dari kebakaran hutan dan lahan di Pulau Kalimantan turut berdampak kepada aktivitas penerbangan. Berdasarkan data dari Kementerian Perhubungan, ada 12 penerbangan dari dan menuju ke Bandara Singkawang, Kalimantan Barat yang terpaksa dibatalkan. Penyebabnya, jarak pandang rendah sehingga dianggap membahayakan penerbangan.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa memaparkan, pembatalan penerbangan itu sudah terjadi sejak Minggu, 16 Agustus 2026. Pada hari itu, jarak pandang sekitar 3.000 meter dan berpengaruh ke empat penerbangan dari dua maskapai berbeda yakni TransNusa dan Super Air Jet. Rute yang terdampak yaitu Cengkareng menuju ke Singkawang dan sebaliknya. Total ada 594 penumpang yang terdampak pada hari itu.
Sedangkan, pada Selasa, 18 Agustus 2026, jarak pandang untuk penerbangan hanya sekitar 2.000 meter. Total empat penerbangan dari dua maskapai pada hari itu terpaksa dibatalkan. Sebanyak 707 penumpang yang terdampak.
Pada Rabu, 19 Agustus 2026, jarak pandangan penerbangan hanya sekitar 2.500 meter. Ada empat penerbangan yang terdampak pembatalan pada hari itu. Total 689 penumpang yang terdampak.
"Para penumpang terdampak memperoleh penanganan berupa full refund dan perubahan tanggal penerbangan secara gratis hingga tujuh hari ke depan sesuai kebijakan maskapai," ungkap Lukman di dalam keterangan pada Jumat (21/8/2026).


















