Beruang Kutub Beralih Mangsa Telur Burung akibat Pencairan Es Arktik

- Pencairan es laut Arktik mengurangi akses beruang kutub untuk berburu anjing laut, sehingga mereka lebih lama berada di daratan dan memangsa telur serta anak burung laut.
- Pada Juli 2024, seekor beruang kutub menghancurkan 89 persen sarang eider umum di Pulau Spy, Alaska, dalam kurang dari 24 jam.
- Pemangsaan yang meningkat, ditambah pemanasan laut, banjir, dan erosi, memperparah kegagalan reproduksi burung laut serta menandakan perubahan hubungan antarspesies di Arktik.
Jakarta, IDN Times - Penyusutan es laut di wilayah Arktik akibat perubahan iklim memaksa beruang kutub mengubah kebiasaan berburu mereka secara drastis. Mamalia pemangsa ini kini semakin sering menghabiskan waktu di daratan dan beralih memangsa ribuan telur serta anak burung laut yang bersarang di kawasan pesisir Alaska.
Fenomena tersebut terungkap setelah seekor beruang kutub menghancurkan 89 persen sarang burung eider di Pulau Spy, Alaska, hanya dalam waktu kurang dari satu hari pada Juli 2024. Peristiwa menghilangnya es laut musim panas yang menjadi pijakan berburu anjing laut ini menandai pergeseran ekologi yang belum pernah terjadi sebelumnya di wilayah utara Alaska.
1. Kerusakan masif koloni burung eider di Pulau Spy

burung eider (Ryzhkov Sergey, CC BY-SA 4.0, via WIkimedia Commons) Pulau Spy merupakan pulau penghalang seluas 58 hektar yang terletak di Laut Beaufort, sekitar enam kilometer dari pesisir Alaska. Kawasan daratan kecil ini telah dipantau secara berkala sejak 1983 karena menjadi habitat penting tempat bersarang burung eider serta berbagai jenis burung laut lainnya. Namun, perlindungan alami yang selama ini dirasakan oleh koloni burung tersebut mendadak sirna ketika seekor pemangsa besar tiba di daratan.
Pada Minggu (7/7/2024), para peneliti mencatat aktivitas bersarang yang padat dari spesies eider umum (common eider) dan camar glaucous di pulau tersebut. Tak lama kemudian, kamera selang waktu (time-lapse) menangkap pergerakan seekor beruang kutub yang menyisir pulau dan memakan ratusan telur burung. Seperti dilansir The Times of India, beruang kutub tunggal itu menghancurkan 89 persen sarang eider umum dalam kurun waktu kurang dari 24 jam.
Peristiwa tersebut mencatat rekor sebagai aksi pemangsaan paling destruktif yang pernah terdokumentasi di koloni burung laut Alaska. Peneliti menyebut kejadian ini sebagai bukti nyata pergeseran tekanan pemangsaan yang sangat cepat di wilayah Arktik. Ratusan telur dan anak burung yang hancur seketika membuat angka keberhasilan reproduksi burung eider turun secara drastis pada musim tersebut.
2. Hilangnya es laut mendorong perubahan pola makan

ilustrasi bongkahan es Arktik (pexels.com/Pixabay) Secara tradisional, beruang kutub sangat bergantung pada es laut untuk berburu anjing laut yang menjadi sumber makanan utama mereka. Namun, fenomena pemanasan global membuat lapisan es laut musim panas menipis dan mencair lebih cepat setiap tahunnya. Kondisi ini memaksa mamalia besar tersebut menghabiskan waktu lebih lama di daratan kering tanpa akses berburu yang memadai.
Ketika berada di daratan, koloni burung laut yang sedang bersarang menjadi sasaran alternatif yang sangat menguntungkan bagi beruang kutub yang kelaparan. Ratusan telur, anak burung, hingga burung dewasa terkonsentrasi di area yang terbilang sempit. Keadaan ini memungkinkan beruang kutub mendapatkan asupan nutrisi besar dalam waktu singkat tanpa perlu menempuh perjalanan jauh.
Temuan ekologis mengenai pergeseran perilaku pemangsaan ini dipublikasikan dalam jurnal Polar Research. Seperti dilaporkan WCS Newsroom, ekolog konservasi dari Wildlife Conservation Society, Kayla Shively, memberikan pandangannya mengenai perubahan yang terjadi di habitat Arktik tersebut. "Selama berpuluh-puluh tahun pulau-pulau penghalang ini berfungsi sebagai tempat burung laut bersarang dengan tekanan yang relatif kecil dari pemangsa darat besar," ujar Shively.
Shively menambahkan bahwa kedatangan beruang kutub ke daratan menandai perubahan hubungan antarspesies di wilayah Arktik. "Apa yang kita lihat sekarang adalah ketika beruang kutub menghabiskan lebih banyak waktu di darat, hubungan tersebut berubah," ungkap Shively. "Ini adalah pengingat lain bahwa perubahan iklim tidak memengaruhi satu spesies pada satu waktu, melainkan membentuk kembali hubungan antarspesies di seluruh Arktik," tuturnya.
3. Ancaman jangka panjang bagi ekosistem Arktik

ilustrasi Arktik (pixabay.com/Tommy Andreassen) Dampak pemangsaan beruang kutub terasa semakin berat karena burung laut di Alaska sudah menghadapi berbagai ancaman ekologis lainnya. Burung guillemot hitam (black guillemot) di Pulau Cooper, misalnya, mengalami penurunan populasi akibat berkurangnya ketersediaan ikan kod Arktik di lautan yang semakin hangat. Pada saat yang sama, burung eider umum juga tertekan oleh banjir serta erosi garis pantai yang merusak area sarang mereka.
Data pemantauan jangka panjang oleh Dr. George Divoky di Pulau Cooper menunjukkan bahwa pada kurun 1975–2007, pemangsaan oleh beruang kutub hanya terjadi pada 9 dari 33 tahun pengamatan. Namun, pasca-pencairan es ekstrem pada 2007, angka pemangsaan melonjak drastis. Sepanjang 2008–2010, beruang mengganggu 38 persen sarang dan memakan 43 persen anak burung guillemot. Meski peneliti sempat memasang kotak sarang pelindung dari plastik pada 2011, beruang kutub lambat laun belajar cara membongkar struktur pelindung tersebut setelah tahun 2020. Ditambah kedatangan beruang yang lebih awal pada Juni dan Juli, interaksi ini menyebabkan kegagalan reproduksi total pada koloni guillemot hitam sepanjang musim 2024 dan 2025.
Direktur Regional Program Arctic Beringia Wildlife Conservation Society, Martin Robards, menegaskan bahwa perubahan perilaku ini mencerminkan gangguan ekosistem secara menyeluruh. "Ketika pemangsa puncak seperti beruang kutub mengubah cara dan lokasi berburunya, hal itu memberi tahu kita sesuatu yang mendasar tentang ekosistem," kata Robards. Ia menjelaskan bahwa peristiwa ini bukanlah kasus terisolasi, melainkan tanda hilangnya kestabilan di salah satu ekosistem paling utuh di dunia.




















